Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Kamu Lucu Sekali, Daeng


__ADS_3

"Bapak ada uang segini," ucap bapak Reno seraya memperlihatkan angka-angka yang tertera dalam buku tabungannya. "Kamu pakailah untuk membangun usaha kamu kembali." lanjutnya lagi.


"Jangan, Pak. Reno tidak bisa menerima uang itu, biarkan Reno berusaha sendiri untuk bangkit lagi dari kebangkrutan ini. Meskipun rasanya sulit dan agak mustahil lagi seperti dulu, tapi aku akan berusaha. Aku tidak bisa menerima uang bapak. Maafkan Reno, Pak. Reno sangat berterima kasih kepada bapak, hanya saja Reno tak bisa menerimanya."


Bagus. Andai saja kamu terima Reno, maka mau ditaruh di mana muka kamu di depan isterimu. Kamu selaku kepala keluarga harus bisa bertanggung jawab atas kekacauan yang kamu perbuat sendiri. Jangan malah mengutuk diri, marah-marah tak jelas sama isteri dan banyak lagi. Ayolah, bangkit lagi. Tunjukkan kamu pria yang pantas dipertahankan oleh Tenri.


"Sesungguhnya bapak ke Jakarta memang untuk membicarakan hal ini, tapi jika kamu keberatan menerima uang bapak secara cuma-cuma maka anggap ini adalah pinjaman untuk kamu. Sewaktu-waktu dapat kamu kembalikan jika kamu sudah lebih dari cukup."


"Tidak, Pak. Maafkan Reno. Terimakasih karena sudah perhatian kepada Reno dan juga keluarga Reno."


"Baiklah, bapak tidak akan memaksamu. Namun jika suatu saat nanti kamu butuh apa-apa jangan sungkan untuk menghubungi bapak dan meminta bantuan bapak."


"Baik, Pak."


Tenri bergabung bersama mereka sambil membawa nampan berisi dua gelas kopi. Dia meletakkannya di atas meja dan ikut duduk bersama kedua lelaki tersebut. Sebab Tenri merasa bahwa apa yang mereka bicarakan telah selesai.


"Pak, silakan diminum kopinya."


"Terima kasih, Tenri."


"Daeng, kopinya."


"Terima kasih, isteriku."


Deg.


Tenri mendengar ucapan Reno itu antara terkejut dan ingin tertawa geli. Pasalnya selama mereka berumah tangga belum pernah Reno memanggilnya dengan panggilan seperti itu. (Hihi othor juga geli rasanya). Kali ini akting Reno total sekali, dia mampu bertingkah seolah dia adalah suami yang paling bahagia.

__ADS_1


"Pak, Tenri punya kejutan buat bapak." Tenri berwajah sumringah saat mengatakan hal itu, semoga saja respon mertuanya bagus.


"Apa itu, Tenri? Katakanlah Nak, jangan buat bapak jadi penasaran."


Tenri mengusap perutnya yang masih rata karena baru satu bulan lebih kehamilannya. "Tenri sedang hamil, Pak."


"Apa? Sungguh, Nak? Kamu hamil? Alhamdulillah ...." bapak Tenri langsung menengadahkan tangannya berucap syukur atas kabar baik yang didengarnya.


"Iyah, Pak. Tenri sedang hamil, hanya saja baru enam minggu. Jadi belum terlihat sama sekali."


"Kamu sudah periksa ke dokter?"


"Sudah, Pak. Alhamdulilah kata dokternya semuanya sehat."


"Reno mengantar kamu tidak?"


"Tentu saja daengku menemaniku, Pak. Dia suami yang siaga. Hehe." Balas Tenri yang langsung meraih lengan Reno dan mencubit perut suaminya sedikit.


Dengan cepat Reno memasang ekspresi bahagia di hadapan orang tuanya. Namun jika lepas dari pantauan bapaknya, maka Reno akan melayangkan tatapan sinis pada Tenri, tapi perempuan itu tak peduli. Terpenting adalah hatinya bahagia.


"Akhirnya sebentar lagi bapak akan segera jadi kakek. Ren, kamu harus bisa menjadi suami dan ayah yang baik untuk Tenri dan juga untuk calon anakmu nanti. Kamu bapak lihat sekarang tubuh kamu seperti tak terurus, rambut kamu panjang, jenggot panjang, mana kharisma anak bapak Reno Permadi, hah?"


Reno langsung kecut, dia merapikan rambutnya yang sudah panjang dan jenggot yang sudah ke mana-mana. "Iyah Pak, besok Reno akan potong semuanya."


"Bagus. Kedepan kamu harus bisa memperhatikan isterimu lebih baik lagi, dia tidak boleh capek. Dulu saat ibumu mengandung kamu, bapak yang pasang badan. Dari memasak, dari mencuci, menyapu, ngepel, bapak turun tangan. Walau tak sering tapi sebisanya jika bapak di rumah maka bapak akan mengerjakan semua itu. Soalnya kamu adalah anak yang paling dinanti-nanti. Kamu itu anak yang mahal, bapak dan ibumu harus melakukan program sampai kamu bisa hadir di dalam perut ibumu. Jadi jangan pernah mengabaikan perempuan yang sedang hamil, sebab seorang isteri yang hamil mengandung banyak beban dan pikiran kadang-kadang. Bapak tahu, karena ibumu sering cerita, bahkan sering ngambek karena bapak lebih banyak di kantor. Haha ...."


Begitulah, bapaknya menceritakan perihal kehamilan isterinya dulu saat hamil Reno. Sekarang dia diberi anak dengan cepat tapi malah bersikap masa bodoh.

__ADS_1


"Dengar itu daeng, apa kata bapak. Semasih dalam kandungan, anak kita sudah harus mendapatkan perhatian. Biar saat dia besar nanti, dia menjadi anak yang penuh kasih sayang terhadap orang tuanya dan terhadap orang lain."


Reno melotot dan kemudian membuat senyum kecil di wajahnya karena takut ketahuan sang bapak. Tenri benar-benar bersyukur ada bapak mertuanya ke Jakarta.


***


Malamnya di tempat tidur, Reno kembali memelototi Tenri. "Kamu cari kesempatan dalam kesempitan ya?" pertanyaannya kedengaran lucu karena itu Tenri meski ditanya dengan ekspresi gahar dia tetap saja ingin tertawa melihatnya.


"Siapa daeng? Aku tidak. Ya bagus bapak ada di sini, setidaknya aku bisa mendengar daeng memanggil aku 'isteriku'." Tenri mengerling nakal menggoda suaminya.


"Awas kau!"


Tenri tak tahan lagi ingin tertawa, dia pun melepaskan tawanya dari balik selimut sampai tubuhnya bergoyang saking gelinya menatap ekspresi Reno.


"Kamu menertawakan aku ya?"


"Tidak daeng. Daeng ini ada-ada saja, sudah tidur sana."


Malam pun terlena. Semesta telah menggenapkan hari. Selamat tidur.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2