
Ada satu prosesi pamungkas yang akan berlangsung pada malam ini. Prosesi tersebut bernama appakabajikang atau saling memperbaiki/menyempurnakan.
Prosesi ini merupakan prosesi menyatukan kedua mempelai. Setelah akad nikah selesai, mempelai pria diantar ke kamar mempelai wanita. Dalam tradisi bugis-makassar, pintu menuju kamar mempelai wanita biasanya terkunci rapat. Kemudian terjadi dialog singkat antara pengantar mempelai pria dengan penjaga pintu kamar mempelai wanita. Setelah mempelai pria diizinkan masuk, kemudian diadakan acara Mappasikarawa (saling menyentuh).
Sesudah itu, kedua mempelai bersanding di atas tempat tidur untuk mengikuti beberapa acara seperti pemasangan sarung sebanyak tujuh lembar yang dipandu oleh indo botting (pemandu adat). Hal ini mengandung makna mempelai pria sudah diterima oleh keluarga mempelai wanita.
Semua proses tersebut bikin Reno dan Tenri geleng-geleng kepala sekaligus tersenyum malu karena secara tidak langsung mereka berdua sedang dipersatukan dalam satu ikatan suci bernama pernikahan.
Ada yang unik dan lucu mana kala kedua pengantin yang baru saja menikah itu harus berlomba keluar dari tujuh lapis sarung itu dan berebut mencari gumbang (tempat beras). Saat Reno dan Tenri berlari melewati pintu kamar, mereka berdua tersangkut di sana dan semua orang yang ada di sana tertawa terbahak-bahak. Mereka sangat lucu karena benar-benar baru bertemu dan akhirnya berhadapan langsung.
"Yah ... masa Iyah kala menemukan tempat beras padahal ini rumahmu, Ren?" celetuk salah satu sanak keluarga yang hadir malam itu.
Disambut tawa orang-orang yang menyaksikan. Reno merasa malu dan juga lucu karena dia tak tahu tempat penyimpanan beras ibunya. Maklum dia banyak tinggal di ibukota sedangkan Tenri bisa dibilang sering menemani ibunya di rumah itu sepulang mengajar.
"Reno sepertinya masih perlu belajar mengenal dapur, Ibu." Jawab Reno dengan ekspresi malu.
Tenri ikut tersipu menyaksikan kepolosan suaminya itu. Walau keduanya masih kaku, namun berusaha untuk mencairkan suasana di tengah-tengah keluarga besar mereka.
Setelah selesainya proses ini, maka berarti selesai sudah semua rangkaian perkawinan suku Makassar.
***
Malam pun telah bergulir, beberapa penghuni di rumah itu telah terlelap. Di kamar pengantin, dua anak manusia sedang menikmati keheningan yang ada. Keduanya masih malu-malu untuk sekedar bertegur sapa. Sebab sejak tadi pun mereka berdua belum bicara satu sama lain secara pribadi.
"Perkenalkan aku Reno," ucapnya kaku.
"Tenri."
Keduanya persis dua orang yang baru bertemu dan berkenalan. Pakai acara saling menyebutkan nama segala. Setelah itu suasana kembali hening.
"Emm ... aku ... aku berterimakasih karena kau sudah mau menikah denganku." Tenri berbicara dengan kepala sedikit menunduk. Dia terlalu khawatir Reno tidak akan menerimanya.
__ADS_1
"Sebenarnya, aku kaget juga karena kepulanganku kali ini ternyata harus menikah dengan wanita pilihan ibu, yaitu kamu. Aku sama sekali tidak ada persiapan, aku bahkan belum terpikirkan mengenai pernikahan. Jadi
... kuharap kau mengerti."
"Mengenai pernikahan ini, aku juga tidak bisa berkata banyak. Kedua orang tua kita sudah menentukan ini sejak kita kecil. Sebagai wanita, aku hanya bisa menuruti apa kata mereka. Maafkan juga bila aku tidak sempurna menjadi isterimu kelak."
"Apa ... kau ingin ikut aku ke Jakarta? Sebab aku punya usaha di sana, sangat tidak memungkinkan jika aku harus bolak balik Jakarta Makassar sementara aku mencari uang di sana."
"Seperti pesan orang tuaku, Daeng. Aku harus berbakti pada suami, yaitu kamu daeng. Jadi apapun yang kau katakan maka aku akan menurutinya."
"Meskipun kau harus meninggalkan profesimu sebagai guru di Makassar?"
"Surganya seorang isteri ada pada suaminya, Daeng. Profesi ku tidak sebanding dengan surga yang dijanjikan Tuhan untukku."
Reno terkejut dengan jawaban Tenri, kebanyakan wanita pada jaman sekarang kan tidak mau diatur-atur apalagi harus melepas pekerjaannya demi ikut suami. Tapi Tenri mau dan berharap jika dia menuruti permintaan suaminya maka dia akan beroleh surga kelak.
"Baiklah jika begitu. Dalam waktu dekat mungkin dua atau tiga hari lagi, kita akan terbang ke Jakarta. Persiapkanlah barang yang ingin kau bawa."
Tenri pun meminta izin untuk membuka bajunya. "Maaf daeng, bisakah kau menunggu di luar sebentar?"
Reno kaget. "Ada apa?"
"Aku ... aku ingin buka baju. Aku malu bila ada orang lain di kamar ini." Wajah Tenri menekuk malu.
Reno pun mengerti, meski dalam hatinya tersimpan pertanyaan. "Mengapa juga harus malu coba? Aku kan suaminya? Kenapa dia malah memintaku keluar dari kamar." batin Reno.
Tak lama kemudian, Reno mengetuk pintu. "Sudah belum?" bisiknya.
Klik.
Pintu pun dibuka oleh Tenri, "sudah daeng, masuklah."
__ADS_1
Reno duduk di tepi tempat tidur. Hendak melepas kaos kakinya yang ternyata sejak tadi lupa dia lepas. Tapi baru menunduk, Tenri sudah bergerak cepat. Dia duduk di bawah dan melepas kaos kaki Reno. Habis itu, dia juga membantu Reno melepas kemeja yang dipakainya.
"Ti ... tidak usah," sergah Reno sedikit khawatir.
"Sudah tugasku, daeng."
Reno pun bertelanjang dada di depan Tenri, sejak tadi isterinya itu berusaha menghindar dari tatapan Reno. Apalagi harus menatap bagian dada Reno yang seperti roti sobek bentuknya.
"Kita bukan sendiri celana-ta, daeng."
Reno pun terkejut karena dia pikir baik celana Tenri juga akan membantunya melepaskannya. Haha. Dasar Reno.
"Maaf, aku tidak tahu pakaian seperti apa yang daeng biasa pakai saat tidur. Ini pakaian yang kuambil dari lemari-ta daeng."
Tenri menyerahkan setumpuk baju kaos kepada Reno. Reno pun mengambilnya dengan sungkan dan segera memakaikannya. Tenri sudah naik ke tempat tidur dan berbaring membelakangi Reno.
Ini kan malam pertama kami? Apa aku harus melakukannya dengannya malam ini juga? Ah, rasanya membayangkannya saja aku sudah geli. Dia kan wanita yang terbilang baru aku kenal dan malah langsung jadi isteriku. Sial, bagaimana ini?
Terjadi pertentangan batin dalam hati Reno. Dia bingung akan melakukan apa di ruangan yang bernama kamar tidur itu. Tak ada plihan lain kecuali ikut tidur di samping Tenri.
Reno tidak membelakangi Tenri, dia malah menontoni punggung Tenri yang memakai baju tidur berwarna maroon itu. Tangan Reno hendak menyentuh punggung Tenri, namun suara Tenri mengejutkan dirinya.
"Tidurlah, daeng. Hari sudah malam."
Tangan Reno pun langsung ditarik olehnya, hampir saja ketahuan. Begitu pikir Reno. Dengan tenang dia pun berbalik memunggungi Tenri.
"Tenang saja, aku tidak akan menyentuhmu bila kamu belum siap, Tenri." ucapnya lirih. Entah didengar oleh Tenri atau tidak. Namun sebenarnya dia memang tak berniat menyentuh Tenri tadi, hanya dirinya ingin memastikan apakah wanita yang sudah sah jadi isterinya itu sudah tidur atau belum.
"Jangan-jangan Tenri memiliki banyak mata, kok bisa dia tahu aku akan menyentuh punggungnya tadi?" pikir Reno dalam kegamangan menuju tidurnya.
*Bersambung.*
__ADS_1