Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Bertemu Elsa


__ADS_3

"Reno ...." pekik Elsa dengan berlari kecil dan langsung memeluk Reno dari belakang.


"Elsa, Elsa, jaga sikapmu. Kita dilihat banyak orang di sini." Reno melepaskan kedua tangan Elsa yang mengalungi lehernya.


"Kenapa? Bukannya ini bukan pertama kalinya kita pelukan di tempat umum ya?" wajah Elsa mencebik tak terima. Dia menghempaskan tubuhnya di kursi dan duduk di depan Reno.


"Iyah, tapi ini sedang lagi ramenya orang datang buat makan siang."


"Tapi kan aku kangen sama kamu, Ren." Elsa berusaha agar Reno tak bersikap dingin. Dia menarik lengan Reno dan merebahkan kepalanya di sana.


Reno pun tak bisa berbuat apa-apa. "Kok setelah balik ke Jakarta sikap kamu jadi sedingin ini. Memangnya apa yang terjadi selama kamu pulang kampung?" lanjut Elsa masih merajuk karena Reno menolak bermesraan.


"Aku menikah."


Ucapan Reno yang hanya dua kata itu langsung membuat air muka Elsa seketika berubah.


"Kamu bercanda, kan? Ini kamu mau nge-prank aja kan? Kan rame tuh sekarang sepasang kekasih saling nge-prank untuk memberi pacarnya kejutan. Iya, kan?" Elsa masih berusaha tenang dan tak mau peduli dengan apa yang baru saja diucapkan Reno barusan padanya.


"Nggak. Aku serius, Elsa. Aku sudah menikah."


Elsa mencari pembenaran di wajah Reno, dia tahu betul Reno bukan tipe orang yang suka bercanda berlebihan apalagi bercanda soal pernikahan. Elsa tak menemukan kalau Reno sedang nge-prank dirinya.


"APA??? TA ... TA... TAPI KENAPA?" tanya Elsa dengan suara terbata dan nyaris tercekat di tenggorokan.


"Aku menikah dengan Wanita Pilihan Ibu."


"WHAT??? Come on, Ren. Ini bukan jamannya Siti Nurbaya lagi, tidak ada perjodohan di jaman sekarang. Apa susahnya bilang kalau kamu menikah karena kamu memang ada wanita idaman lain yang kamu sembunyiin di Makassar." Elsa nyaris berteriak, suaranya memekik dan membuat kenyamanan pengunjung lain sedikit terganggu.


"Elsa, tenang dulu. Makanya aku ajak kamu ke sini untuk obrolin itu. Okey?"


"Apa lagi yang harus diomongin?" Mata Elsa mendelik tajam.


"Aku nggak terima dengan perlakuan kamu yang ini, kamu harus tahu sendiri akibatnya sudah berbuat kayak gini sama aku. Aku pastikan kamu tidak akan pernah bahagia dengan perempuan itu, Ren." Elsa melanjutkan kemarahannya.


"Satu lagi, aku nggak peduli kamu udah nikah atau belum. Aku akan tetap jadi Elsa-nya kamu. Titik."


Elsa pun pergi meninggalkan Reno begitu saja, Reno berusaha mengejar Elsa karena dia tahu wanita itu memiliki sifat yang nekat dan agak temperamental. Alasan kenapa Reno selama ini menjalin hubungan dengan Elsa karena dia kesepian di Jakarta. Satu-satunya orang yang bisa menghiburnya adalah Elsa.

__ADS_1


"Elsa ...." panggil Reno.


"Tunggu, Elsa!" teriak Reno sekali lagi.


Elsa berbalik, dia berjalan mendekati Reno berdiri. Tak disangka oleh Reno, Elsa malah mencium pria itu dan membisikinya sesuatu. "Ingat Ren, selama masih ada aku kamu tidak akan pernah bahagia bersama perempuan itu.Tunggu saja."


Reno tertegun di tempatnya berdiri. Sikap Elsa barusan sangat menakutkan, perempuan itu seperti rubah kecil.


"Arrghh ... sial!" umpatnya.


***


Tenri sendiri di rumah, dia tak tahu harus melakukan apa. Perutnya keroncongan dan tak ada apapun yang bisa dia makan. Dia mengirim pesan ke Reno.


"Daeng, aku mau keluar sebentar untuk mencari makanan."


Pesan tersebut terkirim, Tenri menunggu balasan namun Reno langsung menelponnya.


"Jangan kemana-mana, memangnya kamu tahu harus beli makanan di mana? Aku akan segera kirim orang untuk mengantarkanmu makan siang."


Ada sedikit penyesalan dalam hati Reno, dia sudah membawa anak orang jauh-jauh ke Jakarta dalam keadaan tidak tahu apa-apa. Dia malah membiarkan Tenri sendirian di rumah dan dia tahu tak ada apapun di rumah itu.


Seharian Tenri hanya duduk, tidur, minum, jalan-jalan ke sekeliling rumah, mengurus bunga yang sebelumnya tak terurus dan banyak lagi yang dilakukannya demi membunuh sepi di rumah itu.


Seluruh rumah itu bahkan sudah dibersihkan oleh Tenri saking inginnya dia melampiaskan kebosanannya.


Saat hendak menyalakan TV untuk nonton, ponsel Tenri berdering. Telepon dari Olla, sahabatnya.


"Weh, Tenri!" panggil Olla dengan logatnya yang kental.


"Olla ... Weh rinduku!" jawab Tenri kegirangan menimpali sapaan Olla.


"Deh jangan bilang, saya juga rindu sekali-ka gang. Bagaimana kabarmu di sana? Bajik-bajik-ji toh?"


"Bah ... bajik-bajik-ji. Kau iya?"


"Sama-ji. Mana suamimu?"

__ADS_1


"Kerja toh."


"Jadi? Sendiriki itu di rumah?"


"Iyek, sama siapa lagi. Bosanku."


"Nassami. Hahaha. Video call dulue ...."


Tenri pun setuju dengan permintaan Olla untuk melakukan video call. Wajah Olla langsung terpampang di layar ponselnya.


"Weh ... jadi orang Jakarta-mi ini sekarang ceritanya?"


"Haha ... kau di. Bosanku kaweh, tidak ada bisa kukerja selain beberes rumah. Rinduka kurasa mengajar." Tenri curhat pada Olla mengenai kondisinya di Jakarta. Tak ketinggalan logat bicara dia dan Olla yang kental sekali unsur Makassar-nya.


"Nanti toh, minta-mi kerjaan sama Reno. Siapa tahu bisa Ki nabantu."


"Tidak-mi itu kapang iya. Masa dia bekerja saya juga bekerja?"


"Terus, apa-ji pale?"


"Nantilah kupikir-ki itu."


Lalu terdengar suara bel berbunyi, "Eh kumatikan dulu nah, kayaknya tibami orang yang nasuruh Reno bawa makanan."


"Cieee .... hehehe. Sehat-sehat di sana, nah. Jadi isteri yang baik, kalau ada apa-apa jangan lupa kau masih punya sahabat yang sangat menyayangi mu di Makassar."


"Iyek, kita juga nah."


Tenri pun turun untuk menerima kiriman makanan dari Reno.


"Terimakasih, Pak."


Setelah menerima paketnya, Tenri langsung mengirimkan pesan pada Reno.


"Sepertinya aku harus inisiatif sendiri untuk cari tahu supermarket dekat sini agar bisa berbelanja kebutuhan dapur dan rumah. Sangat merepotkan bila harus dikirimi makanan seperti ini terus menerus. Tenri berbicara pada dirinya sendiri seraya memandangi paket makanan yang dia terima.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2