Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Sudah Sakit Tapi Masih Gengsian


__ADS_3

"Kondisi suami Anda masih di bawah pengaruh obat bius. Karena ada beberapa luka di wajahnya yang perlu untuk dijahit. Jadi kami membiusnya untuk menghilangkan rasa sakit tersebut. Tulang pahanya mengalami retak akibat terlalu banyak benturan benda tumpul, saya tidak mengerti apakah suami Anda mengalami pemukulan secara beruntun atau tidak. Mungkin saja dikeroyok oleh beberapa orang."


Tenri membisu, mulutnya yang membuka sejak mendengar penjelasan sang dokter langsung ditutup dengan tangan. Dia tak menyangka luka Reno sampai separah itu. Apakah orang-orang itu benar-benar memukuli Reno untuk membunuhnya?


"Innalilahi," pekik Tenri tak percaya dengan yang didengarnya. "Lantas apakah aku bisa menemui suamiku, Dok?"


"Bisa, silakan masuk. Jika suami Ibu sadar, mungkin bisa dipindahkan langsung ke kamar rawat inap."


"Baik, terima kasih dokter."


"Kalau Ibu membutuhkan apa-apa, silakan panggil suster jaga."


Tenri mengangguk mendengar semua penjelasan sang dokter.


"Baiklah, saya tinggal ya Bu."


Sepeninggal dokter tadi, Tenri diarahkan oleh suster untuk masuk ke ruang ICU menemui Reno yang sedang terbaring.


Malam sudah sangat larut, Tenri seorang diri menjaga Reno. Begitu melihat wajah Reno yang dipenuhi perban, dia tak bisa membayangkan bagaimana orang-orang itu menghajar suaminya tanpa ampun.


"Daeng ... kenapa bisa seperti ini? Apa sebenarnya yang kamu lakukan di luar?" ucap Tenri seraya merapikan selimut yang menutupi tubuh Reno. Pakaian yang dipakai Reno telah dibuka oleh suster dan diganti dengan pakaian pasien.


"Kuharap daeng bisa belajar atas kejadian yang menimpa daeng kali ini. Tidak lagi egois, gengsi dan mau menang sendiri, beginilah akibatnya daeng tidak mau mendengar nasihat orang lain."


Tenri masih terus berbicara pada suaminya yang belum sadar. Dia menggenggam tangan suaminya dengan erat, berharap lewat genggamannya, Reno bisa merasakan kehadiran Tenri di sana.


Sampai Tenri tertidur pulas, Reno belum juga sadarkan diri. Hingga malam beranjak dari peraduannya berganti sayup-sayup adzan subuh yang berkumandang dari pengeras suara mesjid rumah sakit.

__ADS_1


Tenri terbangun dari tidurnya, dia tidur sambil duduk memegang tangan Reno. Dia ingat sudah saatnya shalat subuh, dia pun masuk ke toilet rumah sakit untuk mencuci muka.


"Daeng, aku tinggal sebentar shalat subuh di mesjid ya."


Tanpa menunggu jawaban dari Reno, Tenri pun keluar dari ruangan ICU untuk salat di masjid. Sepeninggal Tenri Reno akhirnya sadar, namun belum mengerti mengapa dia bisa ada di rumah sakit. Seluruh tubuhnya terasa sangat sakit, wajahnya seperti panas dan berat dan kepalanya terasa pusing saat dia berusaha untuk bangun dari tidurnya.


Reno baru menyadari bahwa di wajahnya terdapat beberapa perban yang menempel dan juga di tangannya yang dipenuhi dengan selang infus. Reno memegang kepalanya seperti menghindari rasa sakit yang berdenyut, dia pun berusaha mengingat kejadian semalam. Seingatnya, dia berada di bar sedang minum kemudian beberapa orang mendatanginya untuk menagih pembayaran minuman tersebut. Tapi karena dia tidak punya uang maka dia pun dihajar habis-habisan oleh body guard dan juga beberapa orang yang tidak dikenalnya.


Hal terakhir yang dia ingat adalah, dia dilempar ke jalanan seperti babi hutan yang tertembak. Lalu sekarang dia terbaring di atas brankar rumah sakit, dia tak pernah tahu siapa yang sudah membawanya.


Ceklek.


Pintu terbuka dan muncul sosok Tenri dari balik pintu tersebut.


"Daeng, kamu sudah sadar." ucap Tenri senang melihat Reno yang sudah bisa membuka matanya.


"Aku khawatir padamu daeng, aku terus menghubungi ponselmu namun kamu tak pernah menjawabnya. Akhirnya aku meminta Doni untuk mencari kamu, dia menemukan kamu dalam keadaan terkapar tak berdaya di jalanan. Aku tidak akan bertanya mengapa, aku senang dan bersyukur kamu selamat. Itu saja, daeng."


Tenri ngobrol padanya meski Reno sangat acuh dan terkesan masa bodoh. Reno hendak turun dari tempat tidur brankar namun kakinya seolah berat untuk digerakkan. Dia pun meringis menahan sakit.


"Kata dokter ada tulang paha daeng yang retak, makanya mungkin di bagian paha kiri daeng itu agak susah digerakin untuk sementara. Namun kata dokter akan sembuh seiring waktu."


Tenri menjelaskan mengenai kondisi Reno, "selain itu di wajah daeng ada luka robek makanya sama dokternya langsung dijahit dan diperban. Apa ... daeng lapar? Mau makan sesuatu?"


"Tidak usah." Reno masih saja keras kepala, padahal kondisinya sudah sangat mengenaskan.


Dia berusaha keras untuk turun dari brankar dan menyeret tulang pahanya demi bisa jalan meski tak seimbang. Namun baru saja satu kakinya memijak lantai, dia hampir saja terjatuh. Tenri tidak lekas membantunya, dia mau Reno meminta tolong padanya. Sekali-kali lelaki itu harus tahu bahwa tak ada satu orang pun di dunia ini yang bisa hidup seorang diri tanpa bantuan orang lain.

__ADS_1


"Aarrghhh ...." jerit Reno kesakitan saat dia berusaha menggerakkan paha kirinya yang terdapat retak itu.


Antara dia tak bisa jalan juga tak bisa naik lagi ke brankar. Sampai di situ dia masih saja gengsi meminta tolong pada isterinya. Namun saat dia hampir saja terjungkal ke lantai, dia dengan cepat memanggil Tenri.


"Kenapa kamu diam saja? Kamu mau aku mati ya baru bergerak menolong aku? Aku ini suami kamu Tenri."


Tenri bergeming. Dia berdiri melipat tangannya di dadanya. "Daeng, apa susahnya minta tolong?"


"Okeee ... aku minta tolong. Bantu aku naik lagi."


Dengan begitu Tenri pun lekas memapah suaminya itu untuk naik ke tempat tidur pasien. Tak lama kemudian, seorang suster mendatangi mereka karena mendengar suara teriakan tadi. Sungguh gerakan yang lamban kayak polisi di film-film India saja.


"Ada apa Pak, Bu?" tanyanya.


"Tidak ada suster, terimakasih sudah mengkhawatirkan kami."


"Oh iya Bu, Bapak sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang rawat inap. Ibu mau kamar kelas biasa atau VIP?"


"Duit kami tidak banyak suster, silakan pilih kamar yang standar."


Reno ingin menyela, namun terlambat. Dokternya sudah keburu keluar.


"Apa daeng? Apa aku salah?"


Reno cuma menggeleng. Dia sadar dia tak memiliki apa-apa sekarang. Masa berjayanya sudah lewat. Seandainya kondisi dia masih seperti dulu, mana mau dia ditempatkan di kamar standar dan bergabung dengan beberapa pasien ayng yang disekat-sekat dan dipisahkan oleh sehelai gorden saja.


Padahal sebenarnya Tenri masih punya cukup tabungan untuk menyewakan kamar VIP untuk Reno, tapi kali ini Tenri ingin memberi sedikit pelajaran pada Reno bahwa saat ini kondisi mereka sudah tak lagi sama. Ada hal yang lebih diprioritaskan ke depannya.

__ADS_1


__ADS_2