
Bunyi peletak peletuk dari suara sepatu hak tinggi yang bersentuhan dengan lantai marmer menyita perhatian semua orang yang ada di sana. Di ruang tamu itu, tersisa Reno, Doni, dan Daffa. Setelah beberapa rekan Reno memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Hal itu memicu rasa penasaran mereka, Reno berdiri untuk sekedar tahu siapa yang sudah masuk rumahnya tanpa permisi.
Elsa melenggang bak model, kaki-kakinya yang jenjang bertumpu di atas sepatu high heels melangkah tak tahu malu ke tempat tiga pria itu sedang ngobrol.
"Elsa ...." ucap Reno pelan. Doni berbalik dan benar saja dia mendapati perempuan yang merupakan mantan pacar dari Reno itu tengah melangkah menuju ke arah mereka.
Daffa yang tak tahu apa-apa hanya melihat dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia pun hanya sekedar melihat ke arah Elsa lalu duduk lagi.
"Sayang ... aku terkejut, aku turut berduka yang sangat dalam atas peristiwa yang menimpa bengkel utama yang sudah kamu bangun dengan susah payah." Elsa begitu saja mengalungkan kedua tangannya pada leher Reno. Daffa yang melihat kejadian itu sontak menganga, 'apa-apaan ini? Siapa perempuan ini?' begitulah pertanyaan yang kemudian muncul di kepalanya.
Sedangkan Doni mengelus dada karena dia tahu setelah ini pasti akan terjadi peperangan antara dua perempuan. Reno juga mau-mau saja dipeluk, dia bahkan tak berkutik di lingkar tangan Elsa yang menggantung di lehernya. Menit berikutnya, sebelum Reno sempat melepaskan tangan Elsa yang bergelayut manja itu, Tenri muncul dari arah tangga dan ucapan yang akan keluar dari mulutnya tertahan seketika.
"Da ... Daeng ...."
__ADS_1
Sontak tiga pria ini berbalik dan melihat Tenri yang berdiri mematung melihat suaminya dipeluk wanita lain. Elsa memalingkan wajah Reno hingga mereka kini saling berhadapan, Reno berusaha keras melepaskan pelukan Elsa sampai akhirnya wanita itu terdorong hingga terjatuh ke atas sofa.
"Apa yang wanita ini lakukan di rumah kita, daeng? Mengapa dia dengan mudah memelukmu begitu saja dan kamu malah membiarkannya." Kalimat-kalimat Elsa yang bernada kecewa itu terus terucap seraya dia berjalan mendekati suaminya.
Reno bergeming, dia bahkan tak menjawab ucapan isterinya. Dia mematung seperti tak punya rasa dan pikiran. Justru yang iba melihat Tenri adalah Daffa, dia kasihan pada Tenri yang justru di saat seperti sekarang malah mendapat pukulan seperti ini.
"Elsa, ngapain kamu di sini?" akhirnya Reno berbicara juga, suaranya tegas dan terkesan garang. Namun wanita bernama Elsa itu malah tersenyum sinis ke arah Tenri.
"Wanita ini yang menyebabkan semua kekacauan dalam hidup kamu, Reno. Kamu menikahi wanita yang akhirnya malah menghancurkan karir dan usaha yang selama ini kau bangun dengan susah payah. Apa yang kamu harap dari wanita seperti dia, ha?"
"Diam kamu, Don! Kamu juga ikut andil dalam putusnya hubungan aku dengan Reno. Jadi jangan banyak bicara di depan aku."
"Nona, ini rumah kami. Bisakah Anda menempatkan diri Anda dengan benar? Kamu tidak berhak berbicara seperti itu padaku, aku isteri sah yang sudah dinikahi Reno. Sementara Anda hanya mantan pacar yang sama sekali sudah terputus hubungan dengan suami saya." Tenri membalas setiap kalimat menohok Elsa.
__ADS_1
"Kamu yang tak tahu diri, kamu tahu apa soal Reno, ha? Aku yang lebih tahu semua tentang dia, aku yang membantunya hingga sampai di titik puncak karirnya. Sementara kamu, kamu ... hanya numpang dan malah menjadi penyebab jatuhnya usaha dia. Wanita macam dia tidak pantas bersama kamu, Ren." Elsa menunjuk-nunjuk wajah Tenri. Dia menuding wanita itu sampai dada Tenri rasanya ingin meledak dan meluapkan seluruh amarah di dalam dadanya.
"SUDAH! BUAT APA KALIAN SEMUA BERTENGKAR, HAH? TIDAK AKAN MENGUBAH KEADAAN AKU YANG SEKARANG. ELSA, AKU MINTA KAMU PERGI DARI RUMAH AKU SEKARANG JUGA, SEBELUM AKU BERBUAT KASAR PADAMU!" Suara Reno yang menggelegar di ruangan itu membuat takut seisi rumah. Bahkan Elsa pun menjadi ciut dan berbalik mengambil tasnya lalu pergi begitu saja.
"Sebaiknya kalian berdua juga pulang dulu," ucap Reno dengan suara pelan dan berusaha menahan emosi di dalam dirinya.
"Baiklah. Kami berdua pamit dulu," ucap Doni sebelum akhirnya keluar meninggalkan Reno dan Tenri berdua saja.
Sebelum Daffa meninggalkan rumah itu, matanya sempat melihat ke arah Tenri yang sedang berusaha menahan sesak dan juga tangis di matanya. Dia pun merasa sangat kasihan pada perempuan yang dulu pernah sangat dicintainya itu, bahkan sampai saat ini.
------
__ADS_1
Halo readers kesayanganku, jangan lupa untuk tinggalin jejak dengan like, komen dan beri masukan yang positif untuk aku melanjutkan tulisan ini. Sampai jumpa di bab berikutnya ya. Hehe.