Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Menikmati Kesendirian


__ADS_3

Tuhan memang adil dalam memperlakukan hidup manusia. Baru saja Tenri merasakan kebahagiaan disayangi sebagai isteri. Kini harus menelan pil pahit karena musibah yang datang tak kenal waktu.


Kesendirian di rumah besar itu harus dia nikmati tanpa kehadiran suami di sisinya. Reno hanya bilang akan pergi ke Australia, tanpa mengatakan dengan jelas bersama siapa dan dalam rangka apa.


Karena sudah tak tahan dengan kesendirian yang dilaluinya, serta rasa sesak yang memenuhi dadanya. Tenri putuskan untuk menghubungi sahabat satu-satunya, Olla.


Tangan Tenri bergetar, saat meraih ponselnya. Dia berusaha kuat tapi tetap saja dia tak akan bisa berpura-pura saat berbicara dengan Olla.


Tuuttt ....


"Halo ...." suara Olla terdengar oleh Tenri.


"Hiks ... hiks ..." tangis Tenri pecah pada saat dia mendengar suara Olla.


"Tenri, kamu kenapa? Kamu menangis?" tanya Olla yang tiba-tiba merasa bahwa sahabatnya sedang tak baik-baik saja.


"Huh ... tidak, aku tidak apa-apa. Apa kabar-ta?" tanya Tenri dalam logat Makassar.


"Jangan sembunyikan apapun padaku, Tenri. Tidak mungkin kamu menghubungiku tiba-tiba dengan suara serak lalu kamu bilang kamu baik-baik saja. Jangan bohongi-ka."


"Hhh ... aku tidak tahu harus mulai dari mana. Tapi semuanya berawal dari musibah kebakaran kemarin yang menghanguskan bengkel utama Reno. Pertengkaran demi pertengkaran terjadi, padahal kami baru saja selesai liburan di Labuan Bajo. Kupikir toh semua membaik-mi. Nyatanya dia sekarang menjauhiku dan pergi bersama temannya ke Australia."


"Astaga. Kamu sama siapa di rumah?"


"Sama asisten rumah tangga, namanya Bi Surti. Andai kamu di sini, Olla. Mungkin setidaknya aku bisa sedikit tenang."


"Hapus-mi air matamu, jangan menangis terus. Mungkin Reno memang benar ada urusan mengenai pekerjaannya. Pikir positif saja."


"Masalahnya, mantan pacarnya datang ke rumah dia bilangi-ka perempuan pembawa sial. Takut-ka Reno menelan bulat-bulat kalimat itu dan melimpahkan semua kesalahan padaku, Olla."

__ADS_1


"Tenang-mi dulu. Mantan pacar selamanya akan jadi mantan pacar Tenri, kamu isteri Reno yang sah. Hal itu diakui oleh negara buat apa kau pikirkan ucapan orang yang sama sekali tak ada hubungannya sama kamu."


"Bagaimana pun kekhawatiran aku sebagai isteri tetap ada, Olla. Belakangan itu, feeling aku selalu kuat. Meskipun Reno memang belum mencintaiku, tapi sebagai perempuan tetap ada rasa sakit. Apalagi suaminya dipeluk orang lain di depan matanya."


"Masa? Sampai dipeluk?"


"Iyah."


Olla tak bisa berkata apa-apa lagi, dia cuma berusaha menghibur sahabat satu-satunya itu. Setidaknya dengan dia menghiburnya, maka sedikit kesusahan hatinya akan berkurang.


"Olla, ada lagi mau kucerita. Kau ingat Daffa?"


"Iyah. Ingat-ji. Itu yang sering ikut ke mana-mana sama kita toh? Yang sejak di kampus suka sekali sama kamu. Kenapa?"


"Dia di sini, ternyata dia bersahabat dengan Reno sejak masih di bangku SMA."


Olla tak kuasa menahan rasa terkejutnya. "Masa, astaga! Terus kau bicara apa sama dia? Reno tahu kalian pernah bertemu dan bahkan sempat akan dekat saat kuliah dulu?"


"Iihh ... hati-hati Tenri. Dia itu suka sekali sama kamu. Jangan sampai dia nekat merebut kamu dari Reno."


"Jangan sampai terjadi, Tuhan. Meskipun bisa dibilang aku sama Reno belum ada tanda-tanda ikatan cinta. Tapi sebagai isteri, aku tetap harus menjaga hijrahku sebagai perempuan bersuami. Dosa besar ganjarannya, Olla."


"Iyah, cuma tetap harus berhati-hati toh."


"Iyah, sudah malam. Sampai di sini dulu nah, Olla."


Sambungan telepon mereka pun terputus. Tenri duduk bengong di tempat tidurnya. Sekarang dia tak tahu harus melakukan apa lagi.


Pikirannya terbang kepada Reno, sudah sampai di mana dia sekarang?

__ADS_1


'Di mana kamu daeng? Sama siapa dan sedang melakukan apa? Mengapa perasaanku seperti tak enak?'


***


Subuh saat baru saja Tenri selesai shalat, dia berdoa sebentar kemudian mengambil ponselnya di atas meja. Dia duduk di atas sajadah, mencari nomor suaminya dan menghubunginya.


'Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar servis area. Mohon untuk coba beberapa saat lagi.'


Suara operator memberitahu kalau pemilik nomor sedang tidak mengaktifkan nomornya. Kekhawatiran Tenri semakin bertambah, sejak kepergian Reno, suaminya itu tak pernah lagi menghubunginya.


Tenri pun mencari nomor Doni, seingatnya dia pernah menyimpan nomor asisten pribadi Reno itu.


"Halo, Pak Doni." Suara Tenri yang lembut masuk ke telinga Doni.


"Iyah, Bu Tenri. Ada apa sepagi ini menelepon?"


"Maaf jika mengganggu, apa bapak dapat terhubung dengan suami saya, Reno?"


"Reno? Tidak, Bu. Sejak pulang dari rumah ibu, aku tidak pernah lagi berkomunikasi dengan bapak. Ada apa ya?"


"Kemarin dia pamit sama aku untuk pergi bersama salah satu rekan bisnisnya untuk ke Australia. Sampai sekarang, nomornya tidak bisa dihubungi. Dia bilang akan berada di sana selama satu Minggu ke depan. Makanya aku menelpon bapak, siapa tahu bapak ada informasi tentang suami aku."


"Tidak, Bu. Tapi coba nanti aku cari tahu, ibu tenang saja. Pak Reno pasti baik-baik saja."


"Terimakasih, Pak Doni."


Sampai hari ini usaha Tenri belum membuahkan hasil. Belum ada kabar dari Reno. Tidak juga bisa dihubungi, sehingga dia pun memikirkan macam-macam di kepalanya.


Tuhan, lindungilah suamiku di manapun dia berada ...

__ADS_1


Tutup Tenri dalam doanya pagi itu.


__ADS_2