Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Sayang, Cium Aku Di Sini.


__ADS_3

Kepulangan mereka disambut gembira oleh seluruh keluarga. Namun ada kejadian menarik dan mengaduk-aduk perasaan ketika mereka tiba di rumah orang tua Reno. Mereka sengaja tak memberitahu Bapaknya, biar menjadi surprise. Jadi ketika Reno dan Tenri tiba di depan pintu, pria paruh baya yang sedang santai menikmati secangkir kopi itu termenung lama.


"Reno? Tenri? Apa itu kalian?" Wajah pria yang merupakan bapak Reno itu tampak tua dan kelihatan lebih keriput dari sebelumnya. Ekspresi beliau saat melihat kedua anaknya ada di depan matanya itu, sontak mengalirkan dua anak sungai di pipinya.


"Bapak ...." Reno menghambur memeluk bapaknya. Disertai tangisan dua laki-laki yang entah perasaan macam apa yang merasuki keduanya sampai begitu sangat haru di pertemuan kali ini.


"Akhirnya kau bawa pulang lagi menantuku dengan suka cita. Bapak tahu Reno, kau pasti bisa memperbaiki rumah tanggamu."


"Iya Pak, kipammopporanga (Maafkan saya) jika selama ini banyak berbuat salah dan dosa. Reno sadar sekarang, betapa pentingnya seorang perempuan di sisi kita." Bapak Reno menepuk-nepuk bahu anaknya itu di pelukannya. Dia senang, Reno bisa memenangkan pertempuran di dalam hatinya sendiri.


"Kemari Nak Tenri, masuklah ke rumah mu." Mereka pada akhirnya saling berpelukan bertiga.


Kabar kepulangan mereka pun menyebar dengan cepat. Bapaknya saking senangnya bahkan menghubungi seluruh anggota keluarga besarnya. Hingga mereka datang berbondong-bondong ke rumah itu untuk menemui Reno dan Tenri.


***


"Jadi kamu akan melaksanakan tujuh bulanan di Makassar Tenri?" tanya salah seorang sepupu Reno.


"Iya, kami putuskan tujuh bulanan di Makassar. Biar bapak ada temannya dan rumah ini ramai lagi. Kasian bapak tinggal sendiri setelah kepergian Ibu, makanya memang lebih baik tinggal di Makassar untuk sementara waktu."


"Waaahh ... senang sekali. Nanti sering-sering ka bermalam di sini pale."


Tenri tersenyum, dia sudah lama tak mengunakan logat Makassar saat berbicara. Membuat dia sangat merindukan percakapan memakai bahasa Makassar ataupun logat Makassar.


Banyak sekali orang berkumpul malam itu, tak ketinggalan Olla yang saat tahu Tenri ada di Makassar dia langsung meluncur ke rumah Reno.


"Tenri ...." panggilnya dari luar rumah. Suaranya memekik dan mengejutkan orang-orang yang sudah ada di sana lebih dulu.


"Olla ... ya ampun rindu-ku," balas Tenri yang menyambut Olla dengan pelukan.


"Deh, saya juga apamo, rindu sekali padamu."


Mereka pun ngobrol terpisah dari yang lain, sementara Reno sibuk ngobrol dengan para laki-laki. Tenri menceritakan kebahagiaannya yang kini sudah berbaikan dengan Reno. Tak ketinggalan juga dia menceritakan tentang perubahan Reno yang nyaris tak bisa dipercaya. Namun akhirnya Tenri luluh juga dan memaafkan semua kesalahan Reno padanya.


"Cieee cieee ... jadi baikan-maki ini?" ledek Olla dengan lirikan mata menggoda Tenri.


"Sudah Alhamdulillah. Dan karena itu saya bahagia sekali."

__ADS_1


"Bagaimana-mi dengan Daffa?" tanya Olla serius. Seketika raut wajahnya berubah.


"Tidak bagaimana-bagaimana ji. Kan tidak ada ji hubunganku juga sama dia toh?"


"Bah yang penting tidak na gangguiji rumah tangga-mu. Kalau itu terjadi biar saya yang bertindak."


Keduanya pun tertawa karena komentar Olla barusan. Dari mulai obrolan ringan sampai serius mereka bahas semua.


"Jadi mana mi oleh-oleh ku?" tanya Olla menagih Tenri.


"Ada kok. Sini, kamu tinggal pilih mau kain motif apa. Ini bagus bahannya, dijahit jadi baju pun akan sangat nyaman dipakai."


"Saya pilih warna biru saja."


Selesai sesi bagi oleh-oleh yang seluruh keluarga jadi bergembira karena mereka mendapat semua oleh-oleh dari Jakarta. Reno dan Tenri senang melihat pemandangan tersebut.


Sudah lama sekali mereka tidak berkumpul seperti itu.


"Kami doakan kalian berdua pernikahannya langgeng, sakinah mawadah warahmah sampai di surga-Nya. Dan semoga ... calon bayinya segera dilaunching," ucap salah seorang keluarga dari pihak Tenri.


"Kapan acara tujuh bulanannya?"


"Mungkin tiga hari dari sekarang, bantu ya Kak?" jawab Tenri.


"Beres itu, tidak usah khawatir. Selama masih ada namanya sepupu-sepupu insyallah berjalan dengan lancar semuanya."


Lagi-lagi mereka tertawa, hari itu adalah hari membahagiakan bagi keluarga dua belah pihak. Sampai malam pun tiba dan mereka kembali ke rumah masing-masing.


"Sayang, tamunya sudah pulang semua." ujar Reno yang memandang nakal ke arah isterinya yang sedang bersandar di kepala tempat tidur.


"Lalu?" tanya Tenri heran.


"Hmm ... itu. Kamu sana-an sedikit." Reno ikut duduk dan bersandar di kepala tempat tidur.


Tenri segera bergeser meski agak kesulitan.


"Kenapa si, Daeng?"

__ADS_1


"Hehe ... nggak apa-apa. Kamu lanjutkan saja baca bukunya."


Tenri tidak mengerti kode yang diisyaratkan Reno, karena itu dia pun lantas melanjutkan aktifitasnya membaca buku.


Reno sedang menunggu momen, tapi Tenri tak kunjung meletakkan bukunya. Dia pun menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya hingga kepala. Memberikan tanda tanya besar di kepala Tenri yang berbunyi tepat di atas kepalanya.


"Daeng, kenapa tubuhnya ditutupi semua?" tanya Tenri yang mulai keheranan. Dia menarik selimut Reno hingga terlihat bagian kepalanya.


"Habisnya kamu nggak ngerti kode sih."


"Hah? Kode apaan?"


"Sudahlah, daeng mau tidur saja." Reno merajuk.


Barulah pada saat itu Tenri mengerti maksud dari acara merajuk segala itu. Tenri tersenyum, dia ikut masuk ke dalam selimut. Perutnya yang menonjol pun menyentuh bagian belakang Reno. Tenri memeluk Reno dan berbisik.


"Ini kan yang daeng mau?"


Reno berbalik. Dia menangkup tubuh Tenri dan memeluknya erat sampai wajah mereka pun saling menempel. Membuat Tenri sedikit kesal karena tak bisa bernapas dengan benar.


"Daeng jangan erat-erat, tidak bisa bernapas ini."


"Hehe, habis kamu menggemaskan sekali. Masa kode gitu aja nggak ngerti."


"Mana aku tahu, aku nggak ngerti kode-kode macam itu daeng."


"Ya sudah sini, sebagai ganjarannya kamu harus cium aku di sini, di sini, di sini dan di sini." Reno lantas menunjuk satu persatu bagian dari wajahnya yang harus dicium oleh Tenri.


Tenri pun menuruti permintaan suaminya meski sedikit enggan. Mulai dari kening, pipi kiri dan kanan serta terkahir harusnya Tenri mencium bibir Reno tapi malah mendapatkan perlakuan yang lain. Tenri menjepit hidung Reno dengan kedua jarinya. Hingga Reno berbicara seperti orang bengek. Haha.


"Awas kamu ya, sudah mulai nakal sama daeng-nya."


Reno menggelitiki Tenri, lupa kalau istrinya sedang hamil. Sampai saat perutnya nyaris kena hantaman, barulah Reno berhenti mengusik isterinya itu.


"Sayang, aku akan menciummu di sini," ucap Reno seraya mencium kening Tenri. "Lalu di sini," lanjutnya ke bagian pipi Tenri. "Kemudian ... di sini---


Tenri pun menerima kelembutan bibir Reno saat suaminya itu mulai menciumnya di bagian bibir. Lalu setelah itu, biar mereka saja yang tahu betapa malah berlalu penuh dengan kehangatan dan kenikmatan.

__ADS_1


__ADS_2