Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Bulan Madu, Yuk!


__ADS_3

Sebagai permintaan maaf dan sebagai kado ulang tahun untuk Tenri, Reno ingin mengajak Tenri untuk berbulan madu ke Labuan Bajo. Reno sudah melihat-lihat artikel yang membahas tentang keindahan pulau tersebut dan rasanya dia tertarik untuk mengajak Tenri ke sana. Malam sebelum mereka tidur, mereka sempatkan waktu untuk ngobrol. Pillow talk ceritanya.


"Sebagai kado ulang tahunmu dan juga untuk merayakan pernikahan kita, aku mau ajak kamu bulan madu." Ekspresi bahagia Reno saat mengajak Tenri begitu terpancar dari wajahnya. Dia menyangga kepalanya dengan satu tangan sambil melihat wajah Tenri yang juga sedang menatapnya itu. Tubuhnya dimiringkan agar dia dapat melihat wajah isterinya itu dengan jelas.


"Oh ya? Ke mana daeng?" tanya Tenri antusias.


"Ke Labuan Bajo. Gimana kamu senang tidak?"


"Serius?" Tenri kegirangan sampai mengubah posisi tidurnya dan wajah mereka bertubrukan.


"Ya ampun, saking senangnya sampai nabrak muka aku sayang. Haha ...."


"Iyah aku senang bangetlah. Itu tempat impian yang pengen sekali aku datangi."


"Masa?"


"Iya, aku tidak berbohong. Aku menyukai tempat itu karena lautnya yang indah, pasir putihnya yang lembut juga aneka tempat wisata lainnya yang ada di sana saling berdekatan. Aku sudah tak sabar, menanti hari itu tiba daeng."


"Kalau begitu, kita berangkat besok ya." Reno menaikkan alisnya satu meminta persetujuan pada Tenri.


"Memangnya tiketnya sudah ada?"

__ADS_1


"Ada dong. Gampang itu, biar Doni yang mengurus semuanya. Kita berdua tinggal berangkat bawa koper. Hehe."


Saking bahagianya, Tenri lalu memeluk suaminya itu dan malam itu mereka habiskan dengan hati yang gembira dan asmara pun tumbuh di hati keduanya.


 


***


Keesokan paginya, Tenri sudah disibukkan dengan baju-baju serta barang bawaan yang akan mereka bawa. Dia dibantu oleh Bi Surti dan juga sesekali Reno ikut merecoki keduanya yang sangat bersemangat itu.


"Bi, mau ikut tidak sekalian?" tanya Tenri.


"Lalu siapa yang jaga rumah, Bu?"


"Nggak, Bu. Lagi pula Bibi tidak mau mengganggu bulan madu bapak dan ibu. Melihat kalian akur dan bahagia saja, Bibi sudah senang sekali. Bibi doakan saja semoga selamat di perjalanan, sampai di sana dengan aman dan selamat juga kembali pulang ke rumah."


"Terimakasih ya, Bi."


Doni sudah menjemput mereka untuk ke Bandara, Reno sudah bersiap-siap begitu juga dengan Tenri. Koper pun diseret oleh Reno menuruni tangga. Setelah pamit pada Bibi, keduanya pun berangkat menuju bandara. Doni sesekali melirik ke belakang, Reno sepertinya sudah menjadi waras. Begitu pikirnya. (Waras, memangnya Reno pernah gila. Hehe.)


Selama perjalanan menuju bandara, kedua tangan mereka tak pernah saling melepas. Menggenggam satu sama lain, sampai Doni dibuat iri oleh mereka.

__ADS_1


"Lengket bener, bikin iri yang jomblo aja." Doni berkomentar seraya memperhatikan jalan di depannya.


"Iri bilang bos, hahaha."


"Coba aja, aku juga sudah pasangan. Aku akan memaksa ikut kalian berlibur ke Labuan Bajo. Sayangnya, sampai sekarang wanita itu tak kunjung datang dan aku pun masih betah dengan status menjomblo. Hiks."


"Sabar, Pak Doni. Nanti juga datang kok. Jodoh tak akan tertukar, akan mendatangi yang memang sudah ditakdirkan menjadi tulang rusuk."


"Denger tuh, Don. Haha."


"Puas ya, mengejek aku terus. Bu, jangan biarin dia jauh-jauh ya takutnya dia nggak tahu jalan pulang. Haha."


"Akan aku iket seperti ini, Pak Doni." Tenri menarik erat tangan Reno dan gelak tawa pun tercipta diantara mereka bertiga.


Akhirnya mobil pun sampai di bandara, Doni membantu menurunkan koper. Reno dan Tenri pamit pada Doni sebelum mereka masuk untuk check in.


"Bye, Don. Aku titip perusahaan ya."


"Siap. Selamat liburan, have fun ya kalian."


"Dahhh ...."

__ADS_1


 


Mereka berdua pun melakukan check in lalu menunggu di ruang tunggu keberangkatan. Reno tak melepaskan pengangan tangannya pada jemari Tenri. Seolah takut jemari itu akan tergenggam tangan lainnya.


__ADS_2