Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Potret Pernikahan


__ADS_3


"Sebuah pernikahan harus dibangun dengan pondasi yang kuat. Komitmen untuk saling menjaga satu sama lain. Baik dari perasaan pasangan, ataupun hal lain yang akan mampu menjadi penyebab keretakan rumah tangga."


***


Tenri menatap kembali foto pernikahannya dengan Reno. Pertengkaran mereka pagi tadi masih sangat membekas di hati Tenri. Air mata masih menggantung di pelupuk matanya. Wajahnya ketika itu menunjukkan senyum dan tawa. Begitu juga dengan Reno, sebenarnya yang terjadi saat itu adalah mereka berdua terus digodain untuk bisa berpose seperti layaknya sepasang suami isteri yang saling mencintai.


Dia tersenyum mengingat kembali momen itu, betapa canggungnya saat Reno menyentuh pinggangnya. Dia begitu malu-malu, untung saja kejadian itu tak berlangsung lama. Hanya beberapa menit saja karena keduanya begitu canggung.


Tenri menaruh kembali pigura itu ke tempatnya. Dia menarik napas panjang dan mengembuskannya pelan-pelan. Akhirnya dia membesarkan hatinya lagi untuk mau berlapang dada dan masih terus berjuang agar Reno menerimanya setulus hati.


Di tempat yang berbeda, Reno sedang memimpin sebuah rapat kecil di kantornya. Untuk urusan kerjaan memang dia ahlinya, dia bisa menyembunyikan apapun masalahnya di depan para karyawan dan juga rekan bisnisnya. Namun tidak pada Doni yang sudah tahu betul bagaimana Reno.


Usai rapat dan di ruangan itu tinggal mereka berdua, Doni menghampiri Reno.


"Ada apa lagi, Ren?" tanyanya.


"Don, menurutmu apa aku salah? Semalam aku menghadiri pesta pernikahan anak Tuan Charli. Awalnya semuanya baik-baik saja, aku mengajak Tenri turut serta. Saat aku sedang serius berbincang dengan yang lain, aku tak tahu jika Elsa juga ternyata hadir di sana. Aku tidak tahu persis bagaimana kejadiannya, namun yang kudengar selanjutnya hanya teriakan Elsa yang meminta tolong."


"Lalu?" Doni penasaran.


"Orang-orang berkerumun dan aku hanya melihat Tenri yang keluar dari gedung menyeret gaun pestanya. Aku ingin menyusulnya namun Elsa terus berteriak minta tolong. Aku menghampiri Elsa dan ternyata dia berdarah, dia bilang Tenri sudah menusuk dirinya dengan gunting. Mengakibatkan ada sobekan pada bagian tangannya. Aku panik dan aku segera membawa Elsa ke rumah sakit. Aku lupa bahwa di luar sana Tenri masih berkeliaran seorang diri dan tak tahu apa-apa. Aku tidak menyusul Tenri, tapi menemani Elsa ke rumah sakit."


"APA? Terus kamu percaya kalau isterimu yang melakukan itu? Paling juga itu hanya akal-akalan Elsa saja. Astaga Reno, kamu itu seorang pemimpin sebuah usaha besar, bagaimana bisa kamu gelap mata dan tak membuka pikiran kamu tentang Elsa dan Tenri? Sekarang aku tanya, menurutmu Tenri bisa melakukan itu?"


"Aku juga tidak yakin, tapi Tenri juga tidak mau menceritakan yang sebenarnya."


"Ya iyalah, karena itu sama saja kamu meragukan Tenri. Sama aja kamu percaya kalau benar dia yang ingin membahayakan Elsa. Masa kayak gitu aja kamu harus dikasih tahu si?"


"Terus Tenri gimana?" lanjut Doni lagi.


"Tenri pulang diantar Daffa, dia melihat Tenri di jalan sendirian. Terus diajak pulang sama dia, untung saja Tenri mau ikut."


"Daffa? Serius ketemu Daffa? Ketemu di mana? Kenapa kamu tidak pernah bilang kalau bertemu Daffa?"


"Astaga aku lupa ngasih tahu kamu. Iyah kemarin aku sempat bertemu dia di sebuah cafe. Ngobrol panjang banget."


"Tunggu dulu, kenapa Daffa bisa tahu Tenri?"

__ADS_1


"Soalnya waktu aku ketemu Daffa, Tenri juga ada di sana."


"Oh ... kirain. Kamu minta kontak Daffa kan? Ya ampun sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya."


"Aku lupa."


"Heran aku sama kamu, ketemu dua kali tapi lupa nanya nomor telepon. Hadeuhh ...."


"Iyah gampanglah itu, pasti nanti ketemu lagi kok."


"Terus mengenai Tenri, apa dia mau memaafkan kamu?"


"Dia masih mendiamkan aku, setelah pertengkaran tadi pagi aku tidak ada komunikasi lagi dengannya."


"Parah kamu, Ren. Udah deh, nggak usah ada hubungan-hubungan lagi dengan Elsa. Dia itu berpotensi besar merusak rumah tangga kamu."


"Aku cuma kasian ...."


"Ptffhhh ... bisa-bisanya kamu kasian tapi sama isteri sendiri malah mengabaikan."


Doni terus menggeleng tak percaya sama sikap Reno yang senang sekali mengabaikan isterinya itu.


"Sialan, kamu."


Mereka berdua pun meninggalkan ruang rapat dan kembali bekerja di ruangan masing-masing. Reno baru saja mendudukkan bokongnya di kursi, ponselnya sudah bergetar tak karu-karuan.


ELSA


Nama yang tertera di layar ponselnya. Dengan enggan dia menggeser panel telepon berwarna hijau itu dan mendekatkan ponsel ke telinganya.


"Ya, halo. Ada apa?"


"Ren, kamu ke sini dong. Aku sendirian nih," ucap Elsa manja di telinga Reno.


"Memangnya kenapa aku harus ke sana, Elsa?"


"Buat temenin aku, tangan aku masih sakit Ren. Masih susah buat ngapa-ngapain."


"Kamu bisa minta tolong ke pembantu kamu, El. Untuk hari ini aku tidak bisa menemani kamu, soalnya aku ada urusan kantor yang harus segera diselesaikan."

__ADS_1


"Kamu tidak sayang sama aku?"


"El, aku sudah punya isteri. Berhenti membahas perasaan di antara kita. Percuma."


"Kok kamu bicara seperti itu sih? Aku begini juga kan karena isteri kamu yang tidak punya tata Krama itu."


"Sudah ya, berhenti menyalah-nyalahkan Tenri dalam hal ini. Teleponnya aku tutup."


KLIK.


Saat itu juga sambungan telepon Elsa ditutup oleh Reno. Beberapa saat kemudian, ponselnya bergetar lagi. Masih Elsa. Karena dia terganggu, dia pun mematikan ponselnya. Sambil menahan kesal, dia pergi meninggalkan ruangannya tanpa membawa ponsel.


"Mau ke mana?" tanya Doni saat mereka berpapasan di lobby.


"Keluar sebentar ngecek cabang."


"Tumben?"


"Tepatnya nyari udara segar. Kepalaku penat."


"Asal gak minum aja, Ren."


"Nggak. Aku udah tobat."


"Preet!!!"


Reno melambaikan tangan pad Doni dari belakang. Kemudian masuk mobil lalu pergi.


"Kalau bos gini nih, seenaknya ninggalin kantor tanpa dosa. Kalau karyawan aja, auto potong gaji." Omel Doni melihat kepergian Reno.


***


Seharian itu, Reno benar-benar hanya keliling bengkel dan mencari kesibukan lain. Hanya agar dia tak kepikiran lagi tentang Tenri untuk sementara waktu. Pertengkaran tadi pagi membuat pikirannya sedikit terbebani.


Tenri menghubungi Reno sejak tadi namun tidak diangkat. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam tapi suaminya itu belum pulang juga. Dia menunggu dengan cemas, pikirannya sudah mengembara entah ke mana.


Berulang kali dia menyibak gorden dan mengintip dari jendela, kalau-kalau suaminya itu sudah pulang dan dia akan turun untuk menyiapkan makanan. Namun setelah menunggu cukup lama, Reno belum ada tanda-tanda akan pulang.


Kecemasan Tenri terus berlanjut sampai tengah malam, sampai dia pun tertidur di atas kasurnya.

__ADS_1


Sekitar pukul sepuluh malam barulah ada suara deru mesin mobil memasuki halaman rumah. Tenri terbuai alam mimpi.


__ADS_2