Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Tanda-tanda


__ADS_3

Malam ketika Tenri bersiap tidur, Reno baru saja pulang. Sebelumnya Reno telah menelepon Tenri untuk tak usah menunggunya karena ada rapat yang harus dia hadiri.


"Daeng, sudah pulang?"


"Sudah. Kamu kalau mau tidur duluan, silakan saja. Aku mau membersihkan diri dulu."


"Baik, daeng. Oh iya, aku sudah menyiapkan handuk kering di dalam. Air juga sudah aku setel ke hangat agar daeng bisa menyegarkan badan setelah seharian bekerja."


"Terimakasih, kamu sudah menyiapkan semuanya untukku." Reno tersenyum dan memegang sebelah bahu Tenri.


Reno masuk ke kamar mandi, sementara Tenri menarik selimut. Meski dia ngantuk tapi matanya belum juga terpejam. Dia teringat pertanyaan ibu mertuanya beberapa saat yang lalu sempat menelepon dirinya.


"Nak, apa sudah ada tanda-tanda?" tanya ibu mertuanya.


"Tanda-tanda apa, Bu?" tanya balik Tenri dengan polosnya tidak mengerti mengenai bahasa isyarat.


"Tanda-tanda kalau kalian akan segera memberi ibu cucu, Nak."


Deg.


Hati Tenri berdebar kencang. Hal yang dia takutkan pun terjadi, sudah menjadi kebiasaan bagi pasangan pengantin yang baru saja menikah akan menerima sejumlah pertanyaan mengenai sudah adakah tanda-tanda penambahan keturunan.


'Aku harus jawab apa? Aku bahkan belum disentuh sedikitpun oleh Daeng. Bagaimana bisa tanda-tanda itu datang padaku? Sudah mau satu bulan pernikahan kami tapi dia masih belum mau menyentuhku.' ucap Tenri dalam hatinya.

__ADS_1


"Belum, Bu. Doakan ya, kami akan selalu berusaha memberikan yang terbaik."


"Iyah, Nak."


Tenri terus kepikiran dengan pertanyaan itu. Dia mulai memikirkan apakah sebaiknya dia yang memulai? Tapi bagaimana? Apakah dia akan direspon atau tidak? Bagaimana jika Reno menolak? Sejumlah pertanyaan terus berkelindan di dalam benaknya.


Hingga Reno selesai membersihkan dirinya dan keluar dari kamar mandi, Tenri masih terlihat gamang memikirkan sesuatu.


"Ada apa? Kamu belum tidur?" tanya Reno yang melihat Tenri seperti orang yang sedang melamun.


"Tidak apa-apa, Daeng." 'Apa aku jujur saja ya, kalau ibu tadi menelepon dan menanyakan perihal tanda-tanda kehamilan?'


"Kamu kalau ada yang ingin dibicarakan, katakan saja." Timpal Reno seolah tahu apa yang sedang dipikirkan Tenri.


Reno yang sedang memakai baju langsung terhenti aktifitasnya. Dengan gerakan lambat, pakaian yang akan dia pakai pun akhirnya melekat di tubuhnya. Reno seperti berpikir sejenak sebelum mengatakan sesuatu pada Tenri.


"Maafkan aku, Tenri."


"Tidak apa-apa jika daeng belum siap. Aku paham."


Tenri langsung memperbaiki letak selimutnya dan tak lagi tidur menghadap Reno. Dia membalikkan badannya.


Reno yang mendapati sikap Tenri yang langsung berubah, merasa tidak enak. Dia pun menyentuh bahu Tenri, "bukannya aku belum siap Tenri. Tapi apakah kamu tidak menolakku? Aku hanya khawatir kamu yang belum siap."

__ADS_1


"Seorang isteri akan selalu siap melayani suaminya, daeng. Bahkan dalam keadaan tidak memungkinkan sekali pun, dia akan tetap melakukannya. Aku isterimu dan sudah hampir satu bulan pernikahan kita namun tidur pun masih saling membelakangi seperti ini."


"Berbaliklah Tenri, lihat aku."


Tenri bergeming. Namun akhirnya dia berbalik juga setelah kedua bahunya disentuh oleh Reno.


"Maafkan aku ... mungkin kamu sudah terlalu banyak mendengar kata maaf dariku. Jika kamu memang sudah siap, maka kita akan melakukannya malam ini juga."


Sorot mata Reno yang langsung mengenai bola mata Tenri, membuat seluruh tubuh Tenri seperti merinding. Kedengarannya malah seperti sebuah pertanda akan ada serangan. Haha.


Tenri menekuk wajahnya. Reno mengangkat dagu Tenri agar bisa sejajar dengan wajahnya saat ini.


'Wanita yang sedang kulihat ini mengapa wajahnya begitu bercahaya? Berbeda dengan aura Elsa yang berani dan menantang. Tatapan sayu dari mata Tenri, justru membuat nyaliku ciut yang bahkan hanya untuk sekedar menyentuhnya. Seperti ada perasaan malu dan rasa bersalah. Mengingat beberapa hari yang lalu Elsa datang ke kantorku dan langsung menciumku dengan brutal. Kedua wanita ini sungguh berbeda dan aku seakan dibayangi keduanya.'


"Ada apa daeng? Kenapa berhenti?" tanya Tenri yang mendapati Reno berhenti padahal wajah mereka kini telah begitu dekat.


"Tidak apa-apa, Tenri. Maafkan aku."


"Baiklah, mungkin sebaiknya memang hal itu belum terjadi. Tidurlah, Daeng."


Tenri berbalik membawa keping hatinya yang kecewa. Reno masih ragu untuk menyentuhnya, bahkan sekedar memberinya ciuman selamat malam di kening. Tenri pun merasa malu karena terkesan dia yang meminta dan begitu menginginkannya.


"Tenri, selamat malam."

__ADS_1


Hanya kalimat itu yang didengar Tenri, sebelum akhirnya tebing pipinya dibasahi oleh air mata. Reno buta akan hal itu. Kesedihan Tenri berlipat ganda mengingat ada wanita lain dalam rumah tangga mereka.


__ADS_2