
Tenri tak menyana jika Reno yang saat itu memeluknya malah langsung menggendongnya dan membawanya ke lantai dua, tepatnya di kamar mereka. Dia menidurkan Tenri ke tempat tidur dan wanita itu masih menatap heran ke arah Reno. Tenri pun bangun duduk di depan Reno, pria yang merupakan suaminya itu malah berlutut di depannya. Menciumi tangannya berkali-kali sambil menatap ke dalam mata Tenri tanpa berkedip.
"Aku sudah tahu yang sebenarnya, aku mencari kebenaran itu sendiri. Aku melihat semua yang terjadi di rekaman CCTV gedung tempat pesta itu berlangsung. Elsa yang mencari gara-gara padamu, dia yang menuduhmu, dia juga yang membuat kamu malu di depan semua orang. Lalu aku terlalu bodoh untuk mempercayai semua ucapan Elsa dan aku yang begitu naif membiarkanmu sendirian di jalanan waktu itu. Tenri, maukah kau memaafkan semua kesalahanku itu?"
Tenri terenyuh dengan yang dilakukan Reno, dia melihat ketulusan di mata suaminya. Karena itu, dia mengangkat bahu suaminya, dia menunduk dan memeluk suaminya itu penuh haru.
"Aku sudah memaafkanmu, daeng. Bahkan sebelum kamu minta maaf pun aku selalu memaafkanmu." Isak tangis Tenri pecah, namun kali itu bukan lagi karena kesedihan tapi tangis haru karena Reno akhirnya sadar bahwa yang dia lakukan saat itu adalah keliru.
Reno mencium kening Tenri begitu lama, sangat menghayati sampai dia memejamkan matanya. Keduanya kembali berpelukan, tidak pernah Tenri merasa setenang sekarang berada di antara lengan besar suaminya. Dia selalu berharap Reno akan menyadari betapa dirinya sudah melakukan yang terbaik yang bisa dia lakukan.
"Terimakasih sudah memaafkan aku, aku memang bukan suami yang sempurna untukmu. Tapi aku akan belajar untuk menjadi suami yang baik untukmu."
"Aku juga daeng, aku akan selalu belajar untuk sabar dan menunggu sampai kamu benar-benar menempatkan hatimu untuk hatiku."
Reno mengangguk pelan, dia menghapus air mata isterinya yang masih tersisa di pipinya.
"Sekarang, kita turun ke bawah. Makan siangnya pasti sudah terhidang di meja, kamu pasti lapar daeng. Sejak pagi belum sarapan dan sekarang sudah jam berapa?"
"Tentu. Ayo, biar aku menggandeng tanganmu seperti ini."
Dengan malu-malu Tenri menyelipkan lengannya di lengan Reno. Dia berjalan beriringan, sesekali jemari Reno mengusap pelan punggung tangan Tenri. Wajah mereka sumringah dan terpancar aura kebahagiaan. Bibi sebagai saksi satu-satunya di rumah itu yang melihat kemesraan keduanya turut senang karean pertengkaran mereka berakhir bahagia.
***
__ADS_1
Sebuah telepon mengejutkan keduanya saat baru masuk kamar, Reno ditelepon oleh ibunya di Makassar. Reno meminta izin sebentar pada Tenri untuk mengangkat telepon tersebut.
"Iya Bu, halo. Ibu sehat saja?" tanya Reno lembut pada ibunya.
"Iya Nak, ibu sehat. Kamu sudah tahu belum kalau hari ini adalah ulang tahun Tenri?"
Reno terhenyak, bahkan ulang tahun isterinya sendiri dia tak tahu. "Benarkah, Bu? Reno tidak tahu, maaf."
"Bagaimana bisa kok tidak tahu ulang tahun isteri sendiri? Ya sudah, segera berikan kejutan untuk Tenri. Isteri itu harus selalu diberi kejutan, tak perlu istimewa yang sederhana saja. Terkadang yang sederhana itu lebih bisa menyentuh hati daripada yang mewah. Kamu mengerti maksud ibu, kan?"
"Mengerti, Bu. Terimakasih sudah memberi tahu Reno, jika bukan ibu mungkin aku tidak akan tahu kalau tanggal 25 Maret adalah hari di mana wanita istimewa yang dijodohkan untuk Reno itu lahir. Ibu sehat-sehat ya, ada apa-apa segera hubungi Reno."
"Walaupun kalian menikah tidak disertai rasa cinta atau pun ikatan sebelumnya, namun kalian berdua harus tetap bisa saling mengerti satu sama lain. Kamu adalah lelaki, harus bisa menjadi teladan untuk isterimu."
"Iya, Bu. Kalau begitu Reno akan siapkan sedikit kejutan untuk Tenri, doakan Reno ya Bu."
Telepon kemudian terputus dan Reno kembali ke kamar, di sana di melihat Tenri sedang duduk di depan meja riasnya. Reno datang padanya, tersenyum penuh arti memegang pundak isterinya itu.
"Aku mau kasih sesuatu sama kamu," ucap Reno yang menatap Tenri dari cermin.
"Apa?"
"Kamu tutup mata dulu, akan aku ambilkan untukmu."
__ADS_1
Reno ingat, dia pernah membeli satu set perhiasan yang akan dia berikan kepada perempuan yang akan menjadi isterinya kelak. Entah kenapa dia baru teringatnya sekarang, jika tak diberitahu ibunya bahwa Tenri hari ini ulang tahun, dua huga tak akan ingat pernah membeli set perhiasan itu.
Kotak berbentuk love dan berwarna merah itu sudah di tangannya, Reno membuka dan mengambil salah satu perhiasan di dalamnya. Dia mengambil kalung dan mengalungkannya di leher Tenri. Wanita itu merasakan sesuatu yang dingin menyentuh permukaan kulitnya. Dia penasaran.
"Apa ini?" tanyanya.
"Sekarang bukalah matamu," jawab Reno.
Tenri membuka matanya dan di lehernya telah melingkar perhiasan yang begitu berkilau. Kecil tapi sangat indah di lehernya. Tenri sampai tak percaya, apalagi saat dia melihat dan tiara-tiara kecil di kalung itu bercahaya seperti menyapanya.
"Ini indah sekali ...."
"Kamu suka?"
"Ini perhiasan terindah yang pernah kumiliki."
"Selamat ulang tahun ya, maaf aku tidak tahu jika hari ini ulang tahunmu. Andaikata kita belum berbaikan, aku pasti adalah orang yang paling bersalah karena tak memberimu apa-apa di hari ulang tahunmu. Sekali lagi maafkan aku."
Setelah kalimat itu diucapkan, Reno mengecup puncak kepala isterinya. Lagi-lagi air mata Tenri menetes, dia terharu sekali. Bukan karena perhiasan itu, bukan karena ini hari ulang tahunnya, tapi karena Reno melakukannya dengan tulus untuknya.
Tenri berdiri dan berbalik, "terimakasih, daeng. Kamu sudah memberikan ini untuk Tenri, tapi hadiah yang paling indah sebenarnya bukan ini. Tapi ketulusanmu." Tenri memeluk Reno dan mereka pun saling berpelukan untuk kesekian kalinya hari itu.
"Seringkali ujian datang hanya agar kita lebih siap untuk menghadapi ujian selanjutnya ...."
__ADS_1