Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Ibadah Paling Panjang


__ADS_3


Tidak mudah memang, tapi bukan berarti tak bisa diperbaiki. Manusia memiliki tujuannya masing-masing, mengapa dia terlahir ke bumi ini. Mana tahu tujuan aku terlahir adalah, menyempurnakan ibadahku bersama lelaki bernama Reno. Sebab ibadah yang paling panjang adalah MENIKAH. ___Tenri.


Reno keluar dari rumah sakit hari ini, atas permintaan sendiri. Pihak rumah sakit juga tidak bisa menahan pasien jika memang ingin keluar lebih awal. Lagi pula, luka di wajahnya sudah mengering, jahitan sudah dibuka. Tinggal retak di pahanya yang masih terkadang membuat nyeri dan ngilu saat digerakkan.


Dengan hati-hati Tenri menuntun Reno mengganti bajunya. Seorang suster masuk membawa kursi roda serta rekam medis punya Reno.


"Apakah sudah selesai, Pak, Bu?" tanyanya.


"Sudah." Tenri menjawab saat Reno baru saja merapikan pakaian yang baru saja di pakainya.


"Ibu sudah mengurus administrasi di depan?"


"Sudah semuanya Suster, tinggal angkat koper saja. Hehe. Suami saya sudah tidak betah katanya, rawat di rumah mungkin lebih cepat sembuh kan tinggal pemulihan."


"Iyah, Bu. Beruntung loh bapak punya isteri kayak ibu ini. Sudah cantik, perhatian, mau ngurusin bapak, mau repot sana sini, sementara banyak loh Pak isteri-isteri di luar sana, suaminya sakit eh malah cari lelaki lain." Sang suster ini kayaknya lagi curhat pengalaman pribadi. Haha.


"Oh iyakah, Suster?" tanya Tenri memastikan yang didengarnya. Biar Reno ikut menyimak.


"Iyah, Bu. Saya sering Nemu yang begituan. Maaf Pak, kami bantu ke kursi roda dulu ya."


Reno pun berpindah ke kursi roda dengan dibantu oleh suster tadi dan juga Tenri. Suster mendorong kursi rodanya dan Tenri membawa tas besar bawaan dia dari rumah untuk keperluan Reno selama di rumah sakit.

__ADS_1


"Semoga cepat sembuh ya, Pak." ucap sang suster sebelum meninggalkan mereka di area parkir.


Hari ini mereka pulang dengan naik kendaraan online, berhubung Tenri belum bisa menyetir. Sepertinya, ke depan dia harus belajar untuk bisa mengendarai mobil sendiri.


Di sampingnya Reno sedang termangu, menatap jalan di luar jendela kaca. Sudah dua hari Tenri perhatiin, suaminya itu jadi lebih pendiam, banyak melamun. Mungkin sedang memikirkan perubahan-perubahan dia yang drastis itu.


"Kenapa daeng? Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Tenri seraya menumpuk tangannya di atas punggung tangan Reno.


Reno melihat sekilas ke arahnya, tersenyum sedikit dan kembali melayangkan pandangan pada jendela kaca mobil.


"Tenri, apakah kamu pernah merasakan perasaan yang benar-benar kosong? Keadaan di mana kamu tidak mengerti diri kamu sendiri, atau keadaan di mana kamu berniat ingin berubah lebih baik namun kenyataannya justru sebaliknya. Kamu jadi semakin jauh dari diri kamu sendiri, semakin jauh dari perubahan baik, perasaan-perasaan semacam itulah yang aku rasakan sekarang."


"Aku belum pernah daeng, dalam prinsip hidup Tenri. Apapun yang tidak ditakdirkan untuk kumiliki, syukuri. Apapun yang ditakdirkan untuk aku punyai, jaga dan syukuri, atau apapun yang belum ditakdirkan untuk aku raih dan genggam, maka sabar dan syukuri. Perasaan kosong itu semacam halusinasi daeng. Kita menciptakan mahluk lain dalam diri kita, mahluk yang bertentangan dengan apa yang sesungguhnya kita inginkan, tapi justru dia sangat kuat hingga kita kehilangan kendali atas diri kita. Di saat seperti itulah kita akan merasa yang namanya terbuang, berpikir bahwa kita ini sendirian, kosong dan lain sebagainya."


"Bersyukur adalah tidak merasa lebih di saat berlebih, dan tidak merasa kurang di saat kekurangan. Melainkan selalu merasa cukup dengan apapun yang sudah Tuhan gariskan untuknya."


"Jadi apa aku kurang bersyukur?" tanyanya sekali lagi.


"Yang tahu itu adalah diri daeng sendiri, daeng yang menjalani hidup daeng. Sekarang, tidak masalah kita sedang kekurangan, yang penting kita tak kehilangan kasih sayang."


Reno beralih menatap wajah Tenri, setiap ucapan isterinya barusan itu seperti sebuah cambuk atau sentilan untuk dirinya. Betapa dia sudah terlalu banyak kehilangan waktu, terbuang sia-sia.


Sementara hal yang tidak akan pernah kembali adalah WAKTU.

__ADS_1


"Maukah kamu memulainya dari awal lagi, Tenri?"


"Pertanyaan itu terlalu mudah untuk aku jawab daeng, tentu saja aku mau. Bahkan mulai dari minus pun aku lillah di atas jalan Tuhan bersamamu jika itu adalah perjalanan terbaik dalam ibadah panjangku yaitu menikah."


Sampai di situ, Reno tak bisa bicara lagi. Dia tergugu. Terpana dengan setiap kalimat runut yang disampaikan Tenri. Sangat wajar bila Tenri menjadi guru, tidak hanya menenangkan tapi juga mencerahkan.


Selama ini Reno telah menyia-nyiakan berlian, yang bahkan sinarnya tak terkalahkan meski dia terus menjadi gelap untuk di sekelilingnya.


"Kamu memang wanita pilihan ibu, Tenri." Reno tersenyum.


Hati Tenri perlahan menghangat. Tak terasa, mobil yang dia kendarai pun telah sampai di depan pintu gerbang rumahnya. Rumah yang beberapa hari ini terpaksa ditinggal karena mereka harus berada di rumah sakit.


"Terimakasih, Pak." ucap Tenri setelah memberi uang sewa untuk pak supir.


Kursi roda yang dia beli di rumah sakit diturunkan oleh supirnya, Reno dibantu Tenri dan juga supir tadi untuk duduk di atas kursi roda. Setelah itu, Tenri mendorong kursi tersebut hingga masuk rumah mereka.


Untuk sementara mereka tidur di lantai bawah, soalnya sangat sulit membawa Reno ke kamar atas dan mereka hanya tinggal berdua.


Reno menyaksikan semua kerepotan isterinya dalam menyiapkan kebutuhannya. Sekarang kamu paham kan Reno? Betapa kamu sudah sangat tidak adil pada Tenri selama ini.


Selamat memasuki gerbang rumah tangga untuk kalian berdua ya ....


______

__ADS_1


Terimakasih kepada para readers yang udah baca cerita ini. Mohon masukan agar cerita ini lebih baik lagi. Terimakasih. Mampir juga ke karya aku yang sudah tamat judulnya COMPLICATED LOVE. ❤️❤️


__ADS_2