Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Aku Akan Belajar Mencintaimu


__ADS_3

"Jadi bagaimana Dokter, apakah aku dan calon bayiku aman untuk terbang?" tanya Tenri pada Daffa masih konsisten dengan bicara formal pada pria itu.


"Pasti amanlah, iya kan Daff?" sosor Reno.


"Iyah aman, semoga selamat sampai Makassar ya. Sampaikan salamku pada Daeng Jarre."


Deg.


Jantung Tenri berdegup mendengar ucapan Daffa. Apa coba maksud dia bicara seperti itu? Apakah untuk menyindir Reno atau siapa?


"Daeng Jarre? Siapa itu Tenri?" tanya Reno heran. Daffa pun menertawai Reno karena bahkan keluarga dekat Tenri saja dia tidak tahu. Seolah Daffa ingin menegaskan kalau dia lebih tahu tentang Tenri dibanding Reno.


"Saudara dari pihak almarhum ibu," jawab Tenri tenang. Meski di dalam hatinya dia juga takut Reno akan menginterogasi dirinya sebentar lagi.


"Oh, Iyah. Nanti aku saja yang sampaikan, kuceritakan juga pada Daeng Jarre bahwa kita ini Friend. Iyah nggak?" ujar Reno sambil memeragakan bahwa dirinya dan Daffa adalah sahabat dekat.


Ekspresi Daffa langsung berubah, dia menilai Reno kali ini terlalu banyak bicara. Berbeda dengan Reno yang dikenalnya selama ini, terkenal kalem dan kalau tidak terlalu kenal akan dikatakan orang sombong.

__ADS_1


"Iyah. Kita friend," jawab Daffa seakan terpaksa.


"Baiklah kalau tidak ada lagi, mungkin kita bisa pulang daeng. Dokter Daffa, apa surat keterangan sehatnya sudah selesai?" potong Tenri.


"Sudah, silakan ambil di depan."


"Okeh Sayang, ayo pulang. Oops, hati-hati jangan sampai jatuh Sayang." Reno langsung menuntun Tenri berdiri karena dia sudah sedikit kesulitan akibat perutnya yang membesar.


Daffa yang melihat pemandangan itu membuang mukanya agar tak melukai hatinya lebih dalam lagi.


***


Tenri menarik napas dalam-dalam.


"Mengapa daeng mengambil kesimpulan seperti itu? Apa karena ucapan Daffa di klinik soal Daeng Jarre?" Tenri balik bertanya dengan hati-hati.


"Iyah, soalnya daeng merasa terlalu bodoh karena tidak tahu apapun tentang kamu. Sementara Daffa dia sepertinya tahu banyak tentang kamu. Sebenarnya ... daeng tahu bahwa Daffa dan kamu pernah kenal sebelumnya." Reno menghentikan kalimatnya dan menatap Tenri lekat-lekat.

__ADS_1


"Baiklah, mungkin sudah waktunya aku jujur pada daeng. Iyah ... aku ... dan Daffa pernah kenal sebelumnya. Aku juga tidak menyangka kalau ternyata kalian berdua adalah sahabat. Aku terkejut saat kalian bertemu di cafe dan terlihat akrab sekali. Ternyata kalian memang bersahabat. Namun, aku juga harus jujur padamu tentang hubungan kami yang hanya sebatas pertemanan biasa. Tidak lebih dari itu daeng, aku masih tahu batas dan aku tahu bahwa menikah denganmu adalah takdirku."


Tenri terdiam. Dia menunggu respon dari Reno, dia sudah pasrah akankah Reno marah besar padanya dia akan terima. Menerima segala resiko sekiranya itu adalah kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi.


Reno langsung memeluk Tenri, tak ada kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya. Melainkan perasaan tulus kepada Tenri yang berusaha dia tunjukkan. Tenri tidak menyangka reaksi Reno akan seperti itu, dia bahkan menangis haru saat Reno memeluknya begitu erat. Dia sedih sekaligus bahagia, suaminya memperlakukan dirinya sangat baik.


"Tidak apa-apa, aku tahu kamu wanita yang baik. Jika bukan wanita baik, ibu tidak akan memilihmu sebagai menantunya. Aku akan selalu percaya padamu, Tenri. Selalu."


Tenri mengeratkan pelukannya ke tubuh Reno, dia tak menyangka kata-kata bijak itu akan keluar dari mulut Reno.


"Terimakasih daeng, terimakasih banyak."


Usai acara peluk-pelukan itu, Reno menangkup wajah Tenri dengan kedua tangannya. Menghapus air mata isterinya dengan kedua ujung jarinya.


"Maafkan aku pernah membuatmu menangis, padahal tidak seharusnya begitu. Sekarang, mohon bantu aku, ajari aku cinta untuk mencintaimu Tenri."


Tenri mengangguk, wajahnya masih sembab oleh air mata. Dia sangat bahagia, selama ini luka yang dia rasakan seolah terbayarkan. Tak ada apa-apa bila dibandingkan dengan segala perubahan Reno yang sekarang. Semoga suaminya tidak akan pernah berubah lagi, akan tulus mencintainya tanpa syarat lagi.

__ADS_1


____ TBC. Maaf masih dengan kesibukan yang sama. Aku belum sempat nulis yang panjang. Love You


__ADS_2