Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
YESS!


__ADS_3

Doni membawa mobil melaju dengan tenang di jalan yang lumayan padat hari ini. Sebagai supir dadakan yang atas permintaannya sendiri, dia sebenarnya cukup gugup. Apalagi tepat di belakangnya sedang duduk seorang wanita yang sementara didekatinya. Memang suasana terlihat tenang, tapi di dalam hati Doni sedang terjadi riak atau bahkan pertentangan batin.


Dia seringkali mencuri pandang ke arah Olla, walau perempuan itu terus saja melihat ke arah lain yaitu tepat keluar kaca jendela mobil. Dia sungguh deg degan, dia memang terbilang tak cukup pandai dalam hal menaklukkan hati wanita. Dia terlalu malu untuk sekedar menyampaikan perasaannya pada seseorang yang dikagumi ataupun orang yang disukainya.


Olla adalah wanita kedua yang ingin dikejarnya setelah wanita pertama yang bernama Bella bahkan tak sempat mendengar pernyataan cinta Doni. Wanita bernama Bella itu keburu dipanggil Tuhan oleh sebuah kecelakaan tragis yang merenggut nyawanya.


Hal itu tentu saja meninggalkan trauma yang mendalam di hati Doni. Tak banyak yang tahu tentang kisah percintaan Doni. Tidak Reno apalagi Daffa yang memang mereka baru bertemu lagi beberapa bulan terakhir. Doni menyimpan itu semua karena tak ingin membagi lukanya kepada yang lain. Dia cukup pandai dalam hal menyembunyikan masalah atau kisahnya sendiri.


"Don, kamu belum kepikiran untuk menikah?"


Deg.


Pertanyaan dari papa Reno cukup membuatnya terserang jantungan. Betapa tidak, disaat dirinya baru berencana mendekati seorang perempuan secara serius. Tiba-tiba saja dia sudah ditanyai soal pernikahan.


"Belum, Om. Habis tidak ada calonnya, hehe." jawab dini yang terlihat gugup. Dia tertawa hanya untuk menutupi kegugupannya.


'Apa-apaan ini? Malah ditanya kapan nikah lagi, mana Tenri dengar.' batin Doni.


"Kamu sudah cukup umur itu, di belakang kamu itu ada perempuan yang juga masih lajang. Sama kayak kamulah, usianya udah matang tapi belum mau menikah juga."


Olla yang mendengar ucapan Papa Reno hanya bisa tersenyum tipis, meski sebenarnya hatinya juga tidak enak karena papanya Reno malah terkesan menjodohkan mereka.


"Kan memang belum ada yang melamar, Om. Lagi pula, Olla belum kepikiran sih."


"Don, dengar itu. Katanya belum ada yang melamar, buruan sudah kamu lamar dia."


'Gila papa Doni main tembak langsung aja, kalau Olla mau sih nggak masalah, kalau nggak? Malu jadinya kan.'


"Om bisa saja," ucapnya cengengesan.

__ADS_1


***


Mobil yang mereka kendarai pun memasuki area bandara, Doni semakin gugup. Saat berhenti di parkiran, Doni membantu membawakan barang-barang bawaan mereka.


"Biar kubantu, La."


"Terimakasih, Don."


Saat mereka hendak masuk area check ini, Doni merasa bimbang menyergap hatinya. Semua barang sudah diletakkan di atas troli, Papa Reno bahkan sudah mau masuk antrian pemeriksaan.


"Om, Tante? Bisa tunggu sebentar? Aku mau ngobrol lima menit dengan Olla, boleh ya?"


Papa Reno langsung tersenyum, lalu mengangguk memberi persetujuan. Bahkan dia terlihat memberi semangat pada Doni secara sembunyi-sembunyi.


"Terimakasih, Om." Doni menjawab optimis lalu mengajak Olla untuk menepi sejenak di coffee shop.


"Em ... sorry aku menculik kamu sebentar. Tidak apa-apa kan?" tanyanya gugup dan mengusap belakang lehernya. Dia selalu mengusap batang lehernya saat dia merasa grogi atau semacamnya.


"Bisakah aku mengenal kamu lebih jauh, lebih dekat lebih dari sekedar teman?" jawabnya cepat dengan pertanyaan yang ditujukannya khusus untuk Olla.


"Maksud ... kamu, Don?" tanya Olla terbata.


"Ya, aku ... ingin agar kita lebih dekat satu sama lain."


Penjelasan Doni masih terlalu ambigu, masih bisa diartikan lain. Tidak terlalu fokus pada pernyataan perasaan yang ingin diungkapkannya. Ayo Don, tunggu apa lagi.


Doni berusaha untuk tenang sembari menanti jawaban Olla.


"Aku tidak bisa menjanjikan apapun untuk sebuah hubungan yang lebih dari sekedar teman, Don."

__ADS_1


Deg.


Doni sudah menduga, Olla mungkin tidak akan mau menerima dia. Apa jangan-jangan Olla sebenarnya sudah menerima Daffa sebagai pasangannya? Pertanyaan itu yang seketika berkelebat di kepala Doni.


"Tidak apa-apa, aku mengerti kok." Doni mencoba tersenyum agar lebih rileks tapi dia tahu sebagian dari hatinya ada yang menjerit.


"Maksud aku, aku memberikan peluang kepada siapa saja yang memang ingin serius dengan aku. Tentu saja dengan mempertimbangkan banyak hal tentang bagaimana hubungan itu dijalani kedepannya."


Doni menarik napas dalam-dalam, dia merasa lega mengetahui bahwa dia masih punya kesempatan.


"Lelaki yang serius tak hanya akan mendekati begitu saja, tapi juga menunjukkan sikap seriusnya dan itu terlihat tidak hanya dari ucapan tapi juga tindakannya."


"Apa itu berarti aku masih memiliki kesempatan itu?"


Olla mengangguk tersenyum. Tak sadar Doni memekik YESS dan itu terdengar oleh Olla.


"Terimakasih ya, aku juga tidak akan menjanjikan apapun untuk saat ini. Tapi sesuai ucapan yang kamu bilang tadi, maka aku akan berjuang untuk merasa pantas bersanding denganmu."


Olla pun tersenyum, "aku tunggu."


"What??? Apa itu artinya Olla menunggu aku datang ke Makassar untuk melamar dia? Ah, wanita emang mahluk yang paling tak bisa ditebak."


Beberapa saat kemudian, mereka kembali menemui Papa dan Tante Reno. Olla pun pamit ke Doni begitu juga dengan Papa dan tantenya Reno.


"Terimakasih ya, Don. Jangan lupa, jalan-jalan ke Makassar. Siapa tahu jodohnya orang sana. Haha." Papa Reno tertawa lebar, begitu puas menggoda Doni yang sejak tadi sudah salah tingkah.


"Bye, Don." ucap Olla.


"Bye, La. Take care ... berkabar bila sudah sampai di Makassar."

__ADS_1


"Pasti."


Tak lama kemudian, mereka pun menghilang dari barisan antrian menuju loket check in. Doni meninggalkan bandara dengan perasaan tenang dan senang.


__ADS_2