Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Mengapa Daffa dan Bukan Reno?


__ADS_3

"Mengapa kamu sendirian di sini? Di mana Reno?" tanya Daffa tampak khawatir dengan kondisi Tenri.


Tenri hanya menggeleng, dia memeluk tubuhnya sendiri yang kedinginan karena malam semakin larut. Tanpa pikir dua kali, Daffa langsung mengambil jasnya dan menutupi tubuh Tenri yang sedikit terbuka di bagian punggungnya.


"Aku antar kamu pulang ya. Kamu tahu alamat rumah kamu, kan? Reno pasti sedang khawatir mencarimu, kamu bisa mati kedinginan jika berada di sini terus. Jakarta itu terlalu kejam untuk perempuan polos seperti dirimu.


Awalnya Tenri bersikukuh hanya akan berdiri dari tempatnya sekarang jika Reno yang datang menjempuntya. Namun perkataan Daffa seperti ada benarnya juga, sejak tadi dia sudah merasa kedinginan dan mulai menggigil. Akhirnya dia pun mau ikut bersama Daffa untuk diantar pulang daripada dia harus seorang diri seperti orang terlantar dan tak punya tempat untuk pulang. Daffa menuntun Tenri menuju mobil, memintanya duduk di depan saja agar Daffa lebih mudah mengawasi dirinya.


Daffa menutup pintu mobil dan berjalan memutar untuk sampai di kursi kemudi. Tenri hanya diam saja di dalam mobil, Daffa juga sungkan untuk bertanya lebih jauh apa sebabnya dia seorang diri di trotoar jalan tadi. Namun kesimpulan Daffa adalah Tenri dan Reno sedang ada masalah yang membuat mereka bertengkar mungkin dan Tenri melarikan diri.


Daffa melihat Tenri masih sama seperti dulu, sama ketika mereka masing-masih masih berada di bangku kuliah. Wajah Tenri yang polos meski pembawaannya dewasa dan cara dia berbicara yang lembut, mengingatkan Daffa kembali tentang perempuan yang begitu diinginkannya namun bersikeras menolak dirinya.


Perlahan namun pasti, kendaraan beroda empat itu membawa mereka semakin dekat dengan rumah Reno dan Tenri. Entah kenapa ada bagian dari hati Daffa yang berteriak seakan tidak terima dengan Tuhan menakdirkan keduanya bersama. Mengapa perempuan yang kini duduk di sampingnya itu harus menjadi isteri dari sahabatnya sendiri. Padahal dulu, dialah yang berjuang mati-matian untuk mendapatkan cinta Tenri lalu Reno dengan mudahnya memenangkan itu semua tanpa sepengetahuan dirinya.


Mengapa Reno? Pertanyaan itulah yang terus berenang dan terngiang di kepalanya. Seolah Tuhan telah bertindak tidak adil padanya dan malah berlaku adil pada Reno. Mobil terhenti tepat di depan sebuah rumah besar, rumah yang ditinggali Tenri bersama Reno. Daffa turun dari mobil dan segera membukakan pintu untuk Tenri. Tak ada kalimat apapun yang keluar dari bibir Tenri kecuali ucapan terimakasih.


"Terimakasih sudah mengantar saya pulang, sampai di sini saja. Aku masuk dulu."

__ADS_1


Baru saja hendak membuka pintu, sebuah mobil dengan suara menderu panjang perlahan muncul dari kegelapan dan parkir tepat di samping mobil Daffa. Ban mobilnya berdecit panjang sampai akhirnya pengemudi yang ternyata adalah Reno turun dari mobil. Perawakannya yang tinggi sangat mudah dikenali oleh Tenri.


"Daffa ...." ucapnya terkejut.


" Tenri ... kamu sudah pulang? Dari mana saja?"


"Kamu yang dari mana, Ren? Masa membiarkan isteri kamu sendirian di jalanan, kedinginan dan mungkin juga dalam kondisi ketakutan." Daffa yang menjawab pertanyaan Reno, sementara Tenri sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah tak menghiraukan kedua pria yang sedang berbicara di luar itu.


"Kamu yang mengantar dia pulang, Daf?"


"Iyah. Aku tadi nggak sengaja lewat dan aku melihat sosok mirip seperti wajah isterimu sedang duduk seorang diri di trotoar jalan. Aku menepi untuk memastikan dan ternyata benar itu isteri kamu. Bro, apapun masalah kalian aku tidak ingin ikut campur. Hanya saja, jaga isteri kamu baik-baik, coba saja yang menemukan dia adalah orang jahat? Kamu bisa apa?"


"Astaga! Kamu lebih mementingkan mantan pacar kamu daripada isteri kamu, Ren?" Daffa geleng-geleng kepala tak percaya dengan pengakuan Reno barusan.


"Aku berusaha mengejar Tenri, tapi dia sudah keburu jauh dan aku melihat Elsa berlumur darah. Makanya saat itu juga aku langsung membawa dia ke rumah sakit."


"Apapun itu, aku harap masalah kalian cepat selesai. Oh iya, kamu harusnya lebih memprioritaskan isteri kamu, Ren."

__ADS_1


"Hhh ... oh iya, ini sudah malam kamu tidak mau mampir dulu?"


"Tidak usah Ren, aku pulang saja. Sebaiknya kamu masuk dan minta maaf pada isteri kamu. Mungkin dia sedang marah padamu."


Reno tertawa miris, namun dia setuju dengan ucapan Daffa. Setelah mobil Daffa bergerak meninggalkan halaman rumahnya, Reno pun masuk dan menemui isterinya di kamar. Namun apa yang didapatinya saat baru saja sampai, Tenri sudah bergelung di balik selimu menutupi hampir keseluruhan tubuhnya. Jika sudah begitu, artinya Tenri sedang tidak mau diganggu, tidak mau bicara apapun dan dengan siapapun. Artinya lagi, Reno harus menunggu sampai kemarahan Tenri reda dan mereka harus bicara baik-baik.


Reno pun pasrah dan memilih untuk masuk ke kamar mandi membersihkan segala peluh di tubuhnya dan juga untuk mendinginkan pikirannya yang kacau. Harusnya hari ini adalah hari yang bahagia untuk mereka, namun semuanya rusak seketika. Reno meremas rambutnya sambil berjalan ke arah kamar mandi.


Tenri menangis di balik selimut, Reno lebih mementikan Elsa daripada dirinya. Kenapa harus Daffa dan bukan Reno yang lebih dulu menolongnya. Selamanya mungkin dia akan berpura-pura tidak saling mengenal dengan Daffa. Bagaimana pun Tenri harus bisa menjaga perasaan Reno, meski pria itu kerap menyakitinya secara tidak sengaja.


Air mata yang mengalir di pipinya bukan karena Tenri merasa lemah, dia hanya tak bisa menahan perihnya hati yang disakiti oleh suami sendiri. Bayangkan saja, suami kamu lebih mementingkan orang lain yang merupakan mantan pacar ketimbang isterinya sendiri. Hati siapa yang tak akan hancur dan luka?


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2