Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Tangisan Elsa


__ADS_3

Elsa menelepon Reno, dari suaranya yang bergetar tergambar jelas terjadi sesuatu hal yang buruk.


"Reno, tolong aku. Cepat ke apartemen aku, keluar banyak darah dari alat kelaminku." Suara Elsa terbata sambil menahan sakit.


Reno yang sudah di kantor sangat bingung harus bagaimana. Dia pun memberi tahu Doni dan segera menelepon Tenri.


"Sayang, jangan-jangan Elsa keguguran."


"Innalilahi, kok bisa?"


"Mungkin karena tes DNA kemarin."


"Astaga, Sayang. Aku harus bagaimana?"


"Daeng cepat ke sana, tolong Elsa. Jangan sampai terjadi sesuatu padanya."


"Baiklah, aku segera ke sana sekarang."


Tanpa pikir lama, Reno pamit pada Doni untuk menemui Elsa di apartemennya. Jika boleh jujur, Reno sangat khawatir pada Elsa. Bagaimana pun wanita itu pernah baik padanya. Meskipun memang tidak ada lagi perasaan yang tersisa untuk Elsa.


Sementara Reno dalam perjalanan, Elsa sudah meringis kesakitan seraya meremas perutnya. Ceceran darah bersimbah di lantai, wajah Elsa berubah semakin pucat. Dia takut melihat darah yang begitu banyak.


"Reno, kumohon cepatlah!" keluhnya dengan air mata yang terus mengalir.


Tak ada siapapun di sana, bahkan Rama yang diharapakannya untuk datang pun tak pernah menemuinya lagi. Dia harus mengorbankan Reno yang tidak memiliki andil apapun untuk bayi yang sedang di kandungnya.


"Rama, kamu sangat tega. Kamu ninggalin aku di saat kondisi aku sedang hamil. Aku bersumpah saat bertemu denganmu lagi, aku tak akan segan-segan untuk membuat perhitungan."


"Argghh ... sakiiiittt ...."


Elsa menjerit kesakitan. Darah semakin banyak keluar dan saat dia mendengar suara pintu diketuk kesadarannya mulai menghilang. Apapun yang dilihatnya perlahan gelap dan Hitam.


"Elsa ...! Buka pintunya," teriak Reno dari luar.


"Elsa ...." lanjutnya lagi karena tidak ada sahutan sama sekali.


Reno memutar otaknya, dia kembali turun ke bawah mencari satpam. Tak lama kemudian dia sudah kembali bersama salah seorang petugas di apartemen itu.

__ADS_1


"Mohon bersabar, Tuan." ucap orang yang bersama Reno dan sedang memasukkan anak kunci serep ke dalam lubang kunci.


Ceklek.


Pintu terbuka dan Reno segera melompat masuk mencari keberadaan Elsa. Saat Reno membuka pintu kamar Elsa, dia pun dibuat terkejut dengan pemandangan yang dilihatnya.


Elsa tengah duduk di lantai, kakinya selonjoran dengan darah masih terus mengalir di antara pangkal pahanya. Punggungnya bersandar pada badan tempat tidur.


"Elsa ...." panggil Reno yang segera meraih kepala Elsa. Wanita itu sudah tak sadarkan diri.


"Pak, tolong bantu aku untuk mengangkatnya. Kita harus segera membawa dia ke rumah sakit."


Tanpa pikir panjang, petugas itu pun segera membantu Reno mengangkat Elsa. Saat mereka di lift dan sepanjang jalan Elsa dibawa hingga ke parkiran, semua orang melihat dengan tatapan iba dan khawatir.


"Terimakasih, Pak." ucap Reno setelah berhasil memasukkan Elsa ke dalam mobil.


Dengan cepat Reno menyalakan mesin mobilnya dan menuju rumah sakit terdekat. Dalam perjalanan, Tenri sempat menelepon namun Reno tak bisa mengangkat telepon tersebut dikarenakan dia sedang dalam posisi menyetir.


Elsa di jok belakang masih tak sadarkan diri, bau darah segar tercium dan sangat anyir.


"Bertahanlah Elsa, jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk." Reno sambil berdoa dan melirik Elsa sesekali dari balik kaca spion.


"Tolong lakukan yang terbaik, dia kehilangan banyak darah dan sekarang dalam kondisi pingsan." Reno berusaha memberitahu kondisi terkini Elsa. Beberapa perawat tengah sibuk mendorong brankar ke ruang UGD dan dilakukan tindakan pada kondisi Elsa.


"Bapak tunggu di sini," ujar salah seorang perawat.


Tubuh Elsa hilang bersama brankar dari balik ruang Unit Gawat Darurat. Reno pun teringat dengan telepon Tenri. Dia segera merogoh kantongnya untuk mengambil ponsel. Dia membuka kunci telepon dan mencari nama Tenri di kontaknya, sesaat kemudian ponsel itu didekatkan ke telinga untuk mendengar apakah Tenri menjawab teleponnya atau tidak.


"Halo ... Daeng. Syukurlah akhirnya kamu angkat juga. Bagaimana kondisi Elsa? Aku khawatir banget di rumah."


"Dia sedang ditangani pihak rumah sakit, kayaknya dia kehilangan banyak darah. Kemungkinan keguguran, saat aku bawa dia ke rumah sakti, Elsa sudah tak sadarkan diri."


"Innalilahi, terus Daeng masih di sana? Apakah aku boleh menyusul ke sana?"


"Tidak usah, Sayang. Kamu di rumah saja, tunggu kabar dari aku."


"Baiklah, semoga tidak terjadi apa-apa pada bayi dan juga pada Elsa."

__ADS_1


"Aamiin."


***


Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya seorang dokter datang menemui Reno.


"Bapak adalah pihak keluarga dari Ibu Elsa?"


"Iya, Dok. Saya keluarganya."


"Apa Anda suaminya?"


"Bu ... bukan dokter. Saya hanya berteman dan kebetulan dekat dengan pasien."


Reno memang harus mengakui seperti itu, sebab jika dia mengakui sebagai suami maka masalah baru akan muncul.


"Baik, emm pasien mengalami pendarahan hebat. Apakah sebelumnya, pasien pernah menjalani sebuah proses medis atau pengecekan terhadap janin?"


"Saya kurang tahu soal itu, Dokter."


"Pasien sedang hamil dan dia mengalami pendarahan hebat, menurut hasil pemeriksaan pasien seperti pernah kemasukan alat pada kelaminnya. Itu yang menyebabkan pasien mengalami pendarahan. Sehingga mengakibatkan, pasien terpaksa harus kehilangan janinnya."


Mendengar penjelasan sang dokter, entah Reno harus gembira atau bersedih. Di sisi lain dia senang anak yang bukan tanggungjawabnya itu telah tiada. Di sisi yang lainnya lagi, dia merasa bersedih atas musibah yang menimpa Elsa. Itu semua karena dirinya hingga wanita itu mengalami keguguran.


"Jadi apakah kondisi pasien baik-baik saja, Dokter?"


"Kondisi pasien saat ini belum stabil dan belum sadarkan diri. Hanya saja itu tak akan berlangsung lama. Namun, saya berharap Anda bisa menyampaikan mengenai keguguran itu pelan-pelan kepada pasien. Agar tidak ada rasa trauma atau gangguan terhadap kesehatan psikis sang pasien."


"Baik dokter, Terimakasih atas bantuannya."


Dokter bersama dua orang perawat itu pun meninggalkan Reno yang masih tertegun karena kabar keguguran Elsa. Bagaimana pun dia tetap merasa bersalah.


Reno menghubungi Tenri dan menceritakan apa yang terjadi pada Elsa. Tenri ikut sedih dan merasa bersalah, walaupun hal tersebut pada akhirnya membuat mereka dapat bernapas lega.


Tetap saja, tak boleh bahagia di atas penderitaan orang lain. Elsa seorang perempuan, begitu juga dengan Tenri. Sejahat-jahatnya Elsa pada dirinya, dia masih menyimpan perasaan iba pada wanita itu.


"Kasian Elsa, Daeng. Dia pasti histeris dan terpukul saat tahu bayi dalam kandungannya telah hilang dan tak dapat diselamatkan."

__ADS_1


"Itulah. Tapi biar bagaimanapun juga, dia memang harus bisa menerima takdir, Sayang."


Reno menutup teleponnya, dia ingin mengecek kondisi Elsa di ruang rawatnya.


__ADS_2