
Tenri sudah terbiasa bangun pagi karena profesinya sebagai guru sudah sewajarnya datang lebih awal ke sekolah. Tenri menoleh ke arah Reno, lelaki yang sudah resmi jadi suaminya itu masih tertidur pulas. Tenri bingung harus melakukan apa. Rumah sebesar itu dan hanya ada mereka berdua, bukankah sangat sepi.
Sebagai seorang isteri, Tenri harus bisa belajar melayani suaminya. Oleh karena itu, dia pun turun ke lantai bawah untuk mengecek dapur. Apa saja yang ada di sana dan bisa dia olah untuk sarapan pagi.
Tenri membuka kulkas, hanya ada telur dua butir. Itu juga dia nggak tahu masih bagus atau sudah busuk. Dia kan tidak tinggal sebelumnya di sana. Tenri mengecek tempat beras, untung saja masih ada cukup banyak. Dia pun mencari-cari peralatan dapur untuk memasak.
Beras tersebut dia cuci dan mulailah Tenri memasak apa yang bisa dimasak pagi itu. Namun sebelumnya, dia membuat kopi terlebih dahulu. Menurut informasi yang didapat dari ibu Reno, suaminya itu menyukai kopi hitam saat bangun pagi.
Aroma kopi pun tercium memenuhi area dapur. Tenri mencium aromanya dengan mendekatkan ujung hidungnya.
"Ummm ... sepertinya baunya enak sekali. Semoga saja Daeng suka." Senyum pun terukir di bibir Tenri.
Dengan hati-hati dia membawa cangkir berisikan kopi tersebut ke kamar. Pelan-pelan dia membuka pintunya dan Reno masih tertidur dengan wajah polosnya.
Baru saja Tenri meletakkan kopi tersebut di atas meja nakas, ponsel Reno yang berdekatan dengan cangkir kopi itu bergetar. Tenri bukan perempuan yang kepo atau ingin tahu sekali urusan pribadi suaminya. Namun melihat layar kaca ponsel suaminya yang telah berhenti bergetar itu terdapat 10 panggilan tak terjawab. Instingnya pun bekerja, mungkin itu adalah panggilan darurat dan Reno harus segera menjawabnya.
Tenri pun kebingungan, antara menjawab telepon tersebut karena tak berhenti bergetar atau membangunkan suaminya. Reno mungkin kecapean itu sebabnya dia tertidur seperti sudah tak ingat bangun saja.
Tangan Tenri yang akan meraih ponsel itu, kemudian dikejutkan dengan gerakan tangan yang cepat dari Reno.
"Ada apa?" tanya Reno dengan mata yang masih belum sempurna.
Tenri memegang dadanya karena kaget.
"Apa yang kau lakukan pada ponselku?"
"Tidak. Tidak ada. Tadi ponselmu bergetar terus sepertinya ada telepon masuk dari sesorang yang begitu mendesak. Itu sebabnya aku bingung antara mau menjawab atau membangunkanmu," jawab Tenri gugup dan takut bila seandainya Reno marah padanya.
__ADS_1
Dia tahu hal itu mungkin salah, karena ponsel adalah bagian dari privasi seseorang. Meskipun Reno adalah suaminya.
"Lain kali walaupun ponselnya bergetar seribu kali jangan pernah ada niat untuk mengangkatnya." Reno menjawab ketus dan mengambil ponselnya itu.
"Maaf, kalau begitu saya tinggal dulu ke dapur. Saya sudah buatkan kopi untukmu, daeng. Silakan diminum."
Dengan kepala tertunduk, Tenri berjalan keluar meninggalkan kamar tidurnya.
Reno melihat layar ponselnya dan mendapati lebih dari sepuluh kali panggilan masuk dari nomor Elsa.
"Shit!" umpatnya.
"Apa Tenri melihat nama Elsa? Semoga saja tidak. Aku harus segera menyelesaikan urusanku dengan Elsa. Ini tidak bisa dibiarkan." Berbicara pada dirinya sendiri dan kemudian bangkit dari tempat tidur lalu menuju balkon kamar tidurnya.
Reno menghubungkan telpon ke nomor Elsa. Dia meletakkan ponsel ke telinganya dan suara seorang perempuan pun terdengar.
Bagaimana tidak, sudah sepupu hari Elsa tak bisa bertemu dengan kekasihnya itu.
"Aku di Jakarta. Siang ini kita ketemu di tempat biasa." Sudah menjadi karakter Reno yang tidak mau basa-basi saat berbicara dengan siapapun.
"Really?" seru Elsa. "Okey, aku akan ke sana secepat mungkin. Aku akan dandan sekarang juga."
"Baiklah."
Telepon pun ditutup. Reno menggenggam ponselnya. Dia tak tahu apakah keputusan yang akan diambil nanti adalah yang terbaik tapi dia berharap semoga semuanya baik-baik saja.
Reno menghela napas panjang, dia kembali ke kamarnya dan melihat kopi yang sudah dibuatkan Tenri untuknya. Dia duduk di tepi tempat tidur dan mulai menyesap cairan berwarna pekat itu.
__ADS_1
"Rasanya lumayan juga. Persis buatan Ibu," ucap Reno lirih memuji kopi buatan Tenri.
***
"Saya sudah siapin sarapan buatmu, Daeng. Hanya telur ini yang saya dapat di kulkas dan masih bagus. Jadi saya masak nasi terus bikin nasi goreng. Cobalah, biar kamu ke kantor tidak lapar."
Reno tertegun, langkahnya terhenti di tangga terakhir yang langsung berdekatan dengan dapur. Tenri yang masih dengan pakaian tidurnya, sejak pagi sudah di dapur untuk menyiapkan sarapan untuknya. Hal itulah yang membuat hati Reno seakan terkesan.
"Kamu masak apa?" tanyanya dengan ekspresi datar. Dia tidak ingin terlihat memuji Tenri di depannya langsung.
"Hanya nasi goreng telur. Habisnya tidak ada apa-apa di kulkas. Kamu memang sudah lama tidak tinggal di rumah ini ya?" tanya Tenri berusaha untuk membangun percakapan antara mereka.
"Iyah, maafkan saya. Asisten rumah tangga yang biasanya bekerja di rumah ini pulang kampung dan mungkin besok baru kembali."
"Makan-maki, daeng."
"Kau tidak makan?"
"Sebentar, daeng. Saya bereskan dulu ini," Tenri menunjukkan beberapa sampah berserakan.
"Tidak usah dulu, sini duduk dan makan denganku."
Tenri pun menurut dan ikut duduk. Ini sarapan pertama mereka sejak menjadi suami isteri. Tenri sedikit sungkan karena dia masih berusaha agar beradaptasi dengan Reno. Dia takut melakukan kesalahan seperti sebelumnya tentang telepon Reno yang hampir saja dia jawab.
Saat makan tak ada yang berbicara, hanya sesekali terdengar bunyi sendok dan piring yang saling beradu. Reno menatap wanita di depannya itu, terlalu polos pikirnya.
***
__ADS_1
Bersambung