Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Jebakan


__ADS_3

Cindi adalah sepupu Elsa, namun dia saja dapat berkhianat apalagi Rama. Cindi terlibat dalam kasus penutupan kasus pembunuhan Elsa. Bahkan otaknya sudah dicuci untuk menuruti setiap perintah Rama. Agar dia terlepas dari kasus pembunuhan yang dia lakukan pada Elsa.


"Rencana apa yang sudah kamu susun untuk Reno? Cindi mengelus pipi Rama, mereka baru saja selesai melakukan penyatuan diri.


"Aku tidak akan bisa melakukannya tanpa bantuan kamu, Sayang."


"Apa yang harus aku lakukan?"


"Yakinkan keluarga kamu bahwa orang terakhir yang bersama Elsa adalah Reno. Karena pria itu juga Elsa hamil, tidak mau bertanggung jawab dan memilih menghabisi nyawa Elsa."


"Bagaimana caranya? Keluarga aku sudah percaya bahwa kematian Elsa tidak ada hubungannya dengan Reno."


"Justru itu yang jadi tugas kamu, Sayang. Jangan bilang kamu tidak mau melakukannya? Demi hubungan kita, Sayang." Rama mengecup pipi Cindi.


Dia bahkan sudah berbalik dan tubuhnya yang berada di atas Cindi. Membuat wanita itu lagi-lagi menegang karena sentuhan tangan Rama yang begitu liar di atasnya.


"Kamu memiliki tubuh yang indah, apalagi di bagian ini. Besar dan tentu saja kencang. Sangat pas di kedua tanganku. Haha ..." canda Rama yang lantas membuat Cindi mengerang saat pria itu tiba-tiba saja menggigit ujungnya.


"Nakal ih. Jangan mulai lagi, aku sudah lemas tauk semalaman menerima goyangan kamu yang seolah tidak akan ada habisnya."


"Tapi kamu juga suka kan?" colek Rama di ujung hidung Cindi.


"Sudah, aku mau mandi. Kamu juga segera bersihkan diri kamu."

__ADS_1


"Atau kita lakukan di kamar mandi saja?" Rama masih saja berusaha menggoda Cindi.


"Big, No!"


Cindi kabur ke kamar mandi. Rama mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.


"Segera atur rencana untuk menjebak Reno, sebelum dia mengambil langkah jauh dan mencari siapa pembunuh Elsa."


"Baik, Bos."


"Jangan meninggalkan jejak, apalagi melakukan kesalahan sekecil apapun itu. Tamat riwayatmu jika sampai hal itu terjadi."


"Siap, Bos."


Wajah Rama menyunggingkan senyum. Dia akan membuat fakta baru yang tentu saja bukan fakta sebenarnya. Sebab hal itu hanya sebuah jebakan agar Reno menjadi satu-satunya orang yang bersalah dalam kasus kematian Elsa.


Reno sama sekali tak sadar kalau tindak tanduknya akhir-akhir ini sedang diawasi. Rama akan melakukan segala cara agar terlepas dari hukuman.


"Daeng, sebaiknya tidak usah ikut campur lagi atas kematian Elsa. Entah kenapa perasaan aku mulai tidak enak." Tenri mengatakan hal itu dengan jujur. Terkait apa yang dia rasakan tentang Reno yang terus menerus berusaha menebus kesalahan dengan menemukan pembunuh Elsa.


"Ada apa, Tenri? Mengapa tiba-tiba sekarang kamu menentang keputusan yang sebelumnya sudah kita sepakati?"


"Entahlah, Daeng. Perasaanku mengatakan, sesuatu yang buruk akan menimpa Daeng. Tentu saja mungkin ini hanya kekhawatiran semata, sebagai isteri aku hanya mengandalkan naluri."

__ADS_1


"Doakan saja, Sayang. Semoga semuanya berjalan dengan baik. Doakan suami kamu ini hal-hal yang baik. Bagaimana anak kita, apakah dia sudah tertidur?"


"Sudah, Daeng."


"Kemarilah, Tenri."


Tenri mendekat dan Rene memeluknya dari belakang. Menumpukan dagunya pada tulang selangka Tenri. Dia tiba-tiba jadi melankolis, menjadi pria romantis yang hanya ingin menghabiskan waktu berdua tanpa ada gangguan dari siapa-siapa.


"Mau aku buatkan kopi?" tanya Tenri.


"Tidak usah. Aku ingin memeluk kamu seperti ini saja. Maafkan aku di masa lalu, bila ingat lagi ke belakang aku bukan suami yang baik untukmu."


"Ssst ... jangan dibahas lagi, Daeng. Aku sudah ikhlas sejak pertama kamu meletakkan nikah di atas tapak tanganku. Di saat itu pula aku bersedia menjadi istrimu dalam suka dalam duka. Dalam setiap keadaanmu, susah maupun senang." Tenri berbalik dan kini mereka telah saling berhadapan.


Reno menundukkan kepalanya sedikit, untuk menggapai bibir Tenri yang seakan menggodanya.


Perlahan ciuman pun semakin intens. Tenri tak lagi canggung seperti sebelumnya. Dia bisa mengimbangi Reno yang lebih berpengalaman. Reno semakin jauh, mencapai leher, dada dan tangannya yang terus meraba ke bagian sensitif Tenri.


"Kamu buru-buru sekali, Daeng." goda Tenri.


"Karena kamu membuatku tak sabaran, Sayang. Aku tidak akan bisa menahan gejolak demi melihat tubuhmu yang hanya berbalut kain tipis baju tidur pemberianku ini."


"Ahh ... Daeng," desah Tenri begitu Reno telah tiba pada dua aset isterinya yang menegang.

__ADS_1


Keduanya bergumul dan saling menyatukan hasrat menggebu. Reno tak pernah menyia-nyiakan setiap kesempatan di mana dia harus menyenangkan isterinya di tempat tidur. Begitu juga sebaliknya. Tenri selalu melayaninya dengan baik, tanpa ada suara protes satu kalimat pun keluar dari bibirnya.


Puncak gairah telah sampai, keduanya berkeringat seperti habis olahraga dalam waktu berjam-jam. Nyatanya mereka memang sedang olahraga, hanya saja keduanya saling memberi energi untuk penyatuan cinta antara keduanya.


__ADS_2