Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Tenri Menjalani Operasi


__ADS_3

Reno dan Tenri sedang dilanda rasa was-was, pasalnya Tenri berulang kali merasa perutnya sakit dan mulas. Padahal usia kandungannya masih delapan bulan. Seperti saat ini, Tenri bilang perutnya sakit dan dia berulang kali keluar masuk WC.


"Sayang, kita periksa aja yuk. Aku takut kamu kenapa-kenapa."


"Apa mungkin aku akan melahirkan?" tanya Tenri yang sedang memegangi pinggangnya bagian belakang serta menadah perutnya yang membesar di bagian depan.


"Usia kandungan kamu masih delapan bulan, apa itu mungkin?"


"Entahlah, aku merasakan sakit luar biasa sesaat. Lalu berhenti sebentar dan sakit lagi meski sakitnya berkurang namun rasanya nggak nyaman."


"Tunggu, aku telepon Daffa saja."


Tenri pun mengangguk.


Samar-samar terdengar Reno sedang ngobrol dengan Daffa. Sementara Tenri sedang menahan rasa nyeri dan sakit yang muncul tiba-tiba.


"Gimana? Apa katanya?"


"Daffa bilang, sebaiknya kita langsung ke rumah sakit sekarang. Takut terjadi apa-apa dan telat penanganan."


"Ya sudah," jawab Tenri dengan raut sedang menahan rasa sakit.


"Kamu berbaring saja di tempat tidur sambil nunggu aku beresin semua barang-barang kamu untuk dibawa ke rumah sakit."


Tenri menuruti semua perintah Reno, sesaat setelah dia berbaring dia merasakan seperti ada cairan keluar dari kelaminnya. Dia pun berteriak memanggil Reno.


"Daeeengg .... arrghh .... sakit!"


Reno yang masih berada di lantai bawah untuk memasukkan barang ke dalam mobil, secepatnya berlari lagi ke atas saat mendengar teriakan Tenri.


"Sayang, ada apa?"


"Cepat! Perutku sa .... kkiittt ...." keluhnya seraya menahan sakit yang tak bisa lagi dia gambarkan.


Reno tiba di kamar dan melihat ada cairan membasahi seprei tempat tidurnya. Juga ada darah namun tak sebanyak cairan bening itu.


"Tenri ...."


Reno dengan cepat membopong tubuh isterinya dan berjalan cepat menuruni tangga. Dia tidak peduli seberat apa tubuh isterinya sekarang, dia hanya peduli pada keselamatan isteri dan juga anaknya.

__ADS_1


Akhirnya dia pun bisa mendudukkan isterinya di depan. Dengan cepat Reno melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


"Bertahanlah Sayang, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit. Kamu harus kuat," ucap Reno memberi semangat kepada isterinya. Meski dia sendiri sebenarnya dalam suasana sangat khawatir.


Biji-biji keringat menggantung di wajah Tenri, tidak hanya di wajah seluruh tubuhnya berkeringat dan basah. Dia terus berbicara agar istrinya selalu dapat mendengarnya dan tidak kehilangan kesadaran sampai rumah sakit.


Beruntung karena jalanan sedang tak macet, jika tidak Reno tidak tahu lagi harus bagaimana. Mungkin dia akan turun dari mobil dan menggendong Tenri sampai rumah sakit jika itu satu-satunya cara untuk membuat mereka tiba di rumah sakit dengan cepat.


"Daeng ...." panggil Tenri lemas.


"Ya, Sayang. Sabar ya, sebentar lagi sampai."


"Aku tidak kuat lagi, perutku sakit dan semua tulang bawahku seperti akan copot. Sakittt ...."


"Iya, aku tahu. Kamu harus sabar, jangan sampai pingsan ya. Aku akan menyanyi untukmu, agar kamu hanya mendengar suaraku dan jangan pernah tutup matamu. Kamu harus tetap sadar."


Reno kemudian mulai bernyanyi lagi favoritnya sejak dulu. Lagu dari The Beatles yang bertajuk I Will.


"Who knows how long I've loved you. You know I love you still. Will I wait a lonely lifetime. If you want me to, I will. For if I ever saw you. I didn't catch your name. But it never really mattered. I will always feel the same. Love you forever and forever."


Tanpa disadarinya, Reno sudah meneteskan air mata. Dia menyadari kini berapa dia sangat menyayangi isterinya itu. Dia pun melanjutkan lagi nyanyiannya. Sesekali satu tangannya mengusap kepala Tenri, atau menggenggam tangan isterinya itu untuk menguatkan. Kadang pula memberikan usapan di perut Tenri.


Usai bernyanyi Reno mencium punggung tangan Tenri.


"Suara kamu bagus, Daeng." Tenri memuji suara Reno meski dengan mata yang redup dan sayu.


"Terimakasih, Sayang."


"Aku tidak tahu kalau kamu bisa menyanyi."


"Sekarang kamu jadi tahu, kalau kamu mau aku akan bernyanyi untukmu sepanjang malam."


"Janji?"


"Janji."


Mereka pun tiba di rumah sakit, Reno melompat keluar dari kursi kemudi dan berlari ke pintu sebelahnya untuk mengeluarkan Tenri.


Dia mengangkat tubuh istrinya dengan hati-hati.

__ADS_1


"Tolong Sust, isteri saya mungkin akan melahirkan."


Melihat seluruh pakaian Tenri yang basah, para suster bergerak cepat. Ada yang menghubungi dokter sehingga orang saat itu menjadi sibuk karena kedatangan Tenri semata.


Tak lama kemudian, Daffa datang lengkap dengan jas putih kebesarannya sebagai seorang dokter. Reno bersyukur karena Daffa saat itu juga bertindak dengan cepat.


"Kamu tunggu di sini, aku akan masuk melihat kondisi Tenri."


"Iyah, Terimakasih Daffa. Tolong selamatkan mereka," tatapan Reno yang seakan mengiba, membuat hati Daffa terenyuh dan mengangguk pasti bahwa dia akan menyelamatkan Tenri dan juga bayinya.


Di ruang persalinan.


"Bagaimana kondisi pasien?" tanya Daffa.


"Ibunya mengalami pecah ketuban dan sedikit pendarahan. Padahal belum terjadi bukaan. Untuk lebih jelasnya, dokter bisa periksa sendiri." Daffa pun mengambil alih pemeriksaan Tenri. Beruntung karena dia juga bertugas di rumah sakit tersebut selain punya klinik sendiri.


"Kita harus melakukan Operasi Cesar," ucap Daffa tegas dan ucapannya langsung direspon dengan cepat oleh para suster untuk mengurus segala prosedur melahirkan Cesar.


Daffa kembali menemui Reno untuk meminta persetujuan operasi Cesar. Begitu pintu terbuka, Daffa langsung disambut oleh Reno.


"Bagaimana kondisi isteri saya?"


"Tenri harus menjalani operasi, dia mengalami gawat janin."


Wajah Reno seketika bingung. "Maksudnya?"


"Gawat janin adalah suatu keadaan dimana janin tidak menerima oksigen cukup. Pola jantung janin pada monitor janin elektronik mungkin menunjukkan bahwa bayi dalam bahaya kecuali ia dilahirkan dengan cepat. Salah satu cara untuk mengatasi kondisi ini adalah kelahiran secara caesar."


"Lakukan apapun untuk menyelamatkan mereka, Daff. Aku mohon ...."


"Baik, kamu tanda tangani surat persetujuan Cesar terlebih dahulu baru semuanya dikerjakan."


Seorang suster datang membawa berkas persetujuan operasi dilakukan. Reno segera tanda tangan, saat ini yang dia pikirkan hanya keselamatan isteri dan calon anaknya.


"Daffa, kumohon selamatkan mereka berdua."


Daffa mengangguk pasti. "Jangan lupa untuk berdoa, Ren."


Situasi menjadi sepi dan sunyi di sekitar Reno. Waktu mendadak berhenti dan dia hanya bisa berdoa untuk keselamatan isteri dan anaknya. Sesaat kemudian, dia mengabari bapak dan keluarganya di Makassar. Sekaligus meminta doa dan harapan agar Tenri selamat dan berhasil operasi. Begitu juga dengan bayinya, semoga dapat diselamatkan.

__ADS_1


__ADS_2