Menikahi Wanita Pilihan Ibu

Menikahi Wanita Pilihan Ibu
Menghadiri Pesta


__ADS_3

Reno terpana saat melihat Tenri baru saja selesai mencoba gaun berwarna putih yang menampilkan lekuk tubuh isterinya yang selama ini jarang diperhatikannya. Rupanya Tenri memiliki tubuh yang sangat bagus, gaun yang dikenakannya tampak pas di badannya. Membalut tubuh ramping miliknya dengan sedikit terbuka di bagian dada.


Tenri terlihat sedikit tak nyaman, mungkin karena bagian dada dari gaun itu yang agak memperlihatkan sebagian benda menonjol miliknya. Namun overall semuanya sangat pas dan gaunnya cocok dipakai oleh Tenri.


"Bagaimana, daeng?" tanya Tenri meminta pendapat suaminya yang masih terpana dengan penampilan Tenri.


"Kamu ... sangat mempesona andai kau tahu," pujinya pada Tenri.


"Tapi ... dadanya terlalu rendah, aku agak tidak nyaman. Bisakah aku menggantinya?" tawar Tenri.


"Benar juga, itu terlalu terbuka. Mbak, tolong Carikan lagi gaun yang mirip ini tapi bagian dadanya sedikit tertutup."


"Baik, Pak."


Tenri masuk lagi ke ruang ganti, menunggu karyawan butik tersebut membawakan gaun baru untuk dicoba olehnya. Tak lama kemudian, sang karyawan masuk lagi membawa beberapa gaun putih.


Tenri memilih satu yang dia rasanya sudah cocok untuknya. Dia pun memakai gaun itu, merapikan rambutnya agar terlihat semakin anggun.


Selang beberapa menit kemudian, Tenri membuka tirai ruang ganti dan menunjukkan dirinya saat memakai gaun pilihannya pada Reno. Pria yang jadi suaminya itu pun terpesona untuk sesaat. Dia seperti bukan sedang melihat Tenri. Melainkan seorang wanita sekelas putri raja. Tingginya pas dengan gaun yang dipakainya, mempertontonkan ketegasan dan betapa elegannya gaun itu dipakai oleh istrinya.


"Kamu cantik sekali, apa aku berlebihan jika aku tak bisa mengalihkan pandanganku kepada yang lain selain kamu, Tenri?" bisiknya mesra di telinga Tenri.


Tenri tersipu malu dan pipinya tampak memerah, "jadi aku pakai ini saja?"


"Tentu. Kamu akan bersinar di tengah pesta nantinya, aku akan perkenalkan kamu di hadapan semua orang kalah Tenri Awwaru adalah isteriku yang paling cantik. Hehe."


"Aku merasa kamu terlalu berlebihan memujiku, daeng. Semoga aku tidak mengecewakan kamu di pesta nanti."


"Sekarang, kamu ikut bersamaku ke pesta." Reno langsung menggandeng tangan Tenri.


"Gaunnya gimana? Sudah dibayar?"


"Kamu ini polos sekali, tentu saja sudah. Jangankan satu gaun, bahkan jika kamu ingin membeli semua gaun di toko ini akan kubelikan untukmu."

__ADS_1


"Pantas saja banyak yang menggilaimu, daeng."


Reno tertawa mendengar ucapan Tenri. Isterinya memang terlalu polos.


***


Tibalah mereka di sebuah gedung yang sangat tinggi dan mewah, beberapa orang terlihat lalu lalang dengan menggandeng pasangannya masing-masing. Tenri sedikit gugup karena ini adalah pengalaman pertamanya untuk hadir di sebuah pesta besar di mana para tamunya adalah pengusaha-pengusaha sukses yang sebagian besar adalah teman dan kolega Reno, suaminya.


"Aku gugup sekali," bisik Tenri dengan menggamit erat lengan Reno.


"Tenang sayang, kamu coba tarik napas sedikit lalu hembuskan pelan-pelan." Reno menjawab seraya menepuk halus punggung tangan Tenri yang melingkari lengannya.


"Apa? Sayang? Tadi Reno memanggilku sayang? Aku tidak salah dengarkan? Kenapa sih dia sering kali memanggilku dengan sebutan yang bikin aku bergetar mendengarnya dan dia hanya sekali menyebutku dengan panggilan tersebut."


Tenri melakukan persis yang diperintahkan Reno, dia mencoba rileks dan tersenyum jika Reno menyapa teman-temannya.


"Perkenalkan, ini isteriku." Reno memperkenalkan Tenri di depan beberapa rekan bisnisnya.


"Tiga bulan yang lalu. Kami menikah di kampung halaman orang tua kami."


"Turut berbahagia, Ren. Selamat ya sudah jadi suami sekarang," ucap yang lainnya memberi selamat.


Saat mereka sedang menyalami satu persatu tamu, sampailah Tenri dan Reno menyapa pemilik pesta yang merupakan pebisnis dengan kekayaan yang mungkin sudah tak terhitung lagi nominalnya.


"Pak, selamat atas pernikahan Puteri Anda. Kami turut berbahagia. Ah iya, ini isteri saya."


"Salam ...." sapa Tenri lembut.


Reno terlibat obrolan panjang dengan sang pemilik pesta, membuat Tenri harus mengambil jarak sedikit karena tidak mau mengganggu obrolan mereka. Kesempatan tersebut tak disia-siakan oleh Elsa yang juga hadir di sana dan sejak tadi sudah mengawasi Tenri.


Dia pun menarik Tenri menepi dari pesta saat orang lain dan Reno sedang sibuk ngobrol.


"Lepas!" ucap Tenri berontak namun masih dengan intonasi yang tak terlalu keras.

__ADS_1


"Berani juga kamu datang ke pesta bersama Reno, harusnya aku yang mendampingi dia. Toh aku juga yang mendampingi dia selama ini. Kamu itu muncul dan merusak hubungan aku dengan Reno. Kamu harus terima akibatnya." Elsa berbicara dengan ekspresi geram dan tatapan tajam ke Tenri.


"Apa masalahnya denganmu? Kalian berdua sudah tak memiliki hubungan apapun."


"Itu karena kamu hadir, coba saja kamu lenyap dari dunia ini. Hubungan aku dan Reno mungkin baik-baik saja sekarang."


Jemari Elsa mencengkeram kuat ke lengan Tenri, sampai wanita itu agak merintih kesakitan karena kuku-kuku Elsa yang panjang menusuk permukaan kulitnya.


"Lihat saja apa yang bisa aku lakukan sekarang!" Elsa menunjukkan gunting di tangannya dan bersiap menggunting pakaian Tenri.


"Tidak. Jangan lakukan itu! Kita bisa bicarakan ini baik-baik, tidak perlu seperti ini."


"Heh! Memang ini yang kuinginkan, lihat saja akan kupermalukan kamu di depan umum."


Tenri berusaha meraih gunting di tangan Elsa dan terjadilah peristiwa rebutan gunting. Elsa bersikukuh hendak menggunting gaun Tenri, isteri dari Reno itu mencoba melawan dan akhirnya guntingnya malah merobek bagian tangan Elsa. Seketika darah mengalir dari sana dan dia menjerit kesakitan. Saat itulah beberapa orang menghampiri mereka dan Elsa menuduh Tenri bahwa dia akan dibunuh.


Wajah Tenri merah padam, kejadiannya tidak seperti itu. Justru Elsa lah yang berusaha melukainya namun gunting tersebut malah melukai Elsa sendiri.


"Lihat, wanita tak bermoral ini mau membunuh aku setelah dia puas merebut pacar aku!" teriak Elsa di tengah kerumunan.


Tenri menggeleng tak percaya, Elsa menuduh dirinya di depan umum dan hampir semua orang yang ada di sana percaya kalau hal itu benar dilakukan oleh Tenri. Sebab, mereka tahu pacar Reno sebelumnya memang adalah Elsa.


"Jahat sekali!" komentar salah seorang yang hadir di situ.


"Percuma cantik kalau kelakuan mirip iblis. Dasar pelakor!"


Sejumlah tudingan pun diterima oleh Tenri saat itu, membuat dia harus menahan malu dan berlari meninggalkan pesta. Saat itu barulah Reno sadar kalau terjadi sesuatu pada isterinya.


Meskipun dia belum mencintai Tenri, tapi dia juga tak percaya kalau sampai dia berani membawa gunting ke pesta itu dan hendak menikam Elsa. Karena itu, dia berusaha mengejar Tenri. Isterinya sama sekali tak tahu menahu daerah sekitar gedung tempat berlangsungnya pesta. Dia takut isterinya akan kesasar.


Semuanya pun menjadi berantakan karena insiden yang disengaja oleh Elsa.


"

__ADS_1


__ADS_2