
"Gimana kondisi kamu?" tanya Reno pada Elsa yang baru saja siuman.
"Sudah mendingan. Apa dokter bilang sesuatu padamu, Ren?"
"Iyah, hanya kamu harus tenang. Bagaimanapun kondisi kamu masih lemah, tidak boleh terlalu banyak gerak."
"Aku baik-baik saja, katakan Ren apa yang dibilang dokter sama kamu."
"Dokter bilang kamu pendarahan hebat dan janin di dalam kandungan kamu ikut keluar."
Elsa mendesah pelan dan menekan udara dari dadanya yang terasa sangat berat.
"Apa itu artinya aku kehilangan bayiku?" tanya Elsa dengan tatapan sayu.
Reno mengangguk lemah. Dia mau tidak mau harus jujur pada wanita di depannya itu.
"Hiks ... padahal aku sangat menginginkannya. Memang pernah sempat aku menyesali kehadiran bayi ini. Namun mungkin naluri seorang ibu yang sudah muncul dari dalam diriku. Hingga aku pun tidak tega untuk menggugurkannya. Ren ... maafkan aku."
Elsa menangis tersedu. Tak kuasa menahan nyeri di dadanya. Dia merasa ada sesuatu yang hilang dari perutnya. Terasa kosong dan hampa.
Elsa memandang Reno dengan saksama. Pria tampan bagi standar wanita mana pun yang waras. Dan dia salah satu yang tak bisa terlepas dari jerat Reno. Rela melakukan hal bodoh demi memikat hati Reno serta melakukan kebohongan demi mendapatkan pengakuan status atas anak yang baru saja hilang dari kandungannya itu. Dan dia ingin sekali minta maaf pada Reno, kala itu.
"Ren, bisakah kau memelukku untuk sesaat?" Ada nada getir dari ucapan yang keluar dari bibir Elsa.
Reno dilanda kebingungan, dia kasihan pada Elsa tapi bukan berarti dia bisa memeluk perempuan itu kapanpun, di mana pun sebebas-bebasnya. Dia sadar dia pria beristri dan permintaan Elsa tidak mungkin diturutinya.
"Apa ada yang kamu butuhkan?" tanya Reno mengalihkan perhatian Elsa.
Elsa menggeleng. "Aku tahu permintaan aku terlalu berat bagimu, Ren. Kamu juga melakukan ini karena kasihan padaku kan?" Wajah Elsa terlihat rapuh, tapi pertahanan Reno tidak boleh kalah.
__ADS_1
"Aku akan carikan kamu makanan, tunggu di sini sebentar."
Tanpa menunggu jawaban dari Elsa, Reno langsung berjalan dan menghilang di balik pintu ruang rawat. Elsa mencari-cari ponselnya, ternyata ketinggalan di apartemen. Dia baru sadar kalau ke rumah sakit pun dia dibantu oleh Reno.
Wajah Elsa menegang, emosinya ingin meledak bila ingat tentang Rama. Pria itulah yang sudah menanamkan benih di rahimnya dan tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya.
"Aku akan mencari kamu sampai kapanpun dan di manapun. Bahkan di ujung dunia sekalipun. Rama, kau sudah menghancurkan hidup aku ...." teriaknya putus asa seorang diri.
"Jadi itu perbuatan Rama?" batin Reno yang ternyata kembali lagi karena ada sesuatu yang ingin ditanyakan pada Elsa.
"Sudah kuduga sebelumnya, pasti pria itu. Enak saja melimpahkan kesalahan begitu saja padaku. Membuat rumah tanggaku seperti dihantui setan dan tak pernah tenang. Tapi yang paling penting aku sudah tahu jika itu bukan anakku. Seenggaknya hasil dari tes DNA Prenatal itu bisa menjadi bukti akurat sekaligus meyakinkan Tenri." Ungkapnya membatin.
Dia pun sedikit lebih tenang sekarang, dia menghubungi Tenri untuk memberitahu keadaan Elsa.
"Sayang, ada kabar mengejutkan."
"Masih, sekarang aku lagi ke kantin. Mencarikan Elsa makanan, sebenarnya dia tidak minta sih. Aku saja yang inisiatif soalnya aku tidak mau berlama-lama dalam satu ruangan dengannya."
"Terus kabar mengejutkannya apa, Daeng?"
"Ah iya, aku sampai lupa. Tadi aku tidak sengaja mendengar Elsa mengatakan kalau pria yang menghamilinya adalah Rama. Orang yang sudah menipu aku beberapa bulan lalu."
"Astaga. Dan pria itu tidak mau bertanggung jawab dan meninggalkan Elsa?"
"Kurang lebih seperti itu, tapi Sayang, untuk lebih meyakinkan kamu lagi kita tetap menunggu hasil tes DNA yang sudah pernah dilakukan."
"Iyah Daeng. Aku senang karena itu bukan, Daeng."
"Benar Sayang, apa itu artinya kamu sudah benar-benar memaafkan aku kan?"
__ADS_1
"Hhehe, iyah. Aku selalu memaafkan kamu kok Daeng."
"Tentu, karena kamu isteri yang paling baik yang pernah ada di planet ini."
"Modus. Haha."
"Ya sudah, aku beli makanan dulu untuk Elsa. Kamu jangan capek-capek."
***
Sekembalinya Reno ke ruang rawat Elsa, dia tak mendapati wanita itu di sana. Reno pun mencari ke kamar mandi tapi tidak ada. Akhirnya dengan perasaan khawatir dia menanyai suster jaga.
"Sust, pasien di kamar ini ke mana ya?"
"Oh ibu yang tadi pendarahan itu?"
"Iyah."
"Jadi begini, Pak. Tadi kami sudah melarang untuk tidak pergi. Tapi ibu tersebut memaksa dan dia bersedia menanggung resiko andai saja terjadi apa-apa pada dirinya setelah keluar dari rumah sakit ini. Dia baru saja meninggalkan rumah sakit."
"APA? Astaga, Elsa. Kamu kan belum sembuh ...."
Reno pun kalang kabut, wanita itu memang nekat. Padahal dia baru saja mengalami pendarahan hebat. Bukannya istirahat malah memilih kabur.
Reno berlari ke lobby rumah sakit hingga ke parkiran namun dia tak mendapati Elsa di manapun. Wanita itu sudah menghilang tanpa ada jejaknya.
"Hhh ... Elsa, Elsa. Kepala batumu tak hilang-hilang juga. Ya sudahlah, mending aku pulang saja." Desis Reno yang merasakan dadanya naik turun kelelahan mengejar Elsa yang sudah tak tahu pergi ke mana.
Reno berjalan ke arah di mana mobilnya di parkir. Rahangnya sedikit terbuka membayangkan bagaimana Elsa menahan rasa sakit saat di jalan. Wanita itu benar-benar nekat.
__ADS_1