Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Flash back kecelakaan di ingatan Jayden


__ADS_3

Jakarta, lima belas tahun silam.


Di dalam mobil sedan berwarna putih itu terdapat sepasang suami-istri dengan anaknya. Sang ayah, kepala keluarga tengah menyetir sambil memperhatikan jalan, sang bunda yang sibuk bersolek sambil berceloteh ria, sedangkan bocah tampan yang duduk di kursi penumpang tengah bermain game pada benda pipih yang di genggamnya.


Hari ini rencananya mereka akan berjalan-jalan melepas penat di hari minggu. perusahaan besar yang di pegang sang ayah membuat waktunya selalu tak ada, tapi hari ini dia memutuskan segala pekerjaan untuk menemani sang putra yang akan berulang tahun.


Daniel Wicaksono, hari ini berulang tahun ke sepuluh, bocah laki-laki yang sedang bermain game itu tanpak sangat khusuk sambil mendengarkan ayah dan bundanya berbincang.


"Daniel sayang, ulang tahun kali ini kamu mau hadiah apa?" tanya bundanya sambil melihat Daniel dari kaca mobil.


"Gak tau bun, terserah kalian aja."


"Kok gitu sih? ayo bilang, kamu hadiah apa? nanti ayah berikan?"


Mendengar hal itu Daniel sontak melebarkan mata, memutus pandangannya dari layar game yang sedang di mainkan.


"Waaah bener ayah mau kasih apa aja?" Riangnya.


"Huh, giliran sama ayah mu aja,kamu semangat." seru sang bunda.


Ayah tertawa. "Maklum bun, anak lelaki emang paling dekat sama ayahnya."


"Kebalik kali yah, anak lelaki deket sama bundanya, kalau anak perempuan baru sama ayahnya."


Mendengar perdebatan kedua orang tuanya itu, Daniel memutar bola mata malas. "Bunda juga dekat kok sama Daniel, ayah juga, pokoknya ayah bunda deket sama aku." Seru bocah itu.


Ayah dan bunda tertawa. "Oke, oke, tapi kamu emang gak mau gitu punya adik? perempuan?"


"Gak, gak Daniel mau jadi anak tunggal aja."


Ayah bunda semakin tergelak. "baiklah, kamu mau hadiah apa sayang?"


"Aku pengen punya robot Ultraman yang gede, yang bisa nyemburin api kalau di pencet."


Kedua orang tua Daniel tertawa mendengar penuturan putranya. "Ada-ada saja kamu ini, tapi boleh lah, nanti ayah sama bunda cariin."


"Benar yah, benar!"

__ADS_1


"Iya bener."


"Horee!" bocah tampan itu berjingkrak dengan sorak semangat.


Hingga suara klakson dari mobil yang datang melintas dari arah yang berlawanan berhasil membuat suara Daniel lenyap di gantikan dengan keterkejutan.


"Ayah rem, yah ada mobil di depan, mau nabrak yah!" bunda tercekat membelakakan mata, ketika mobil hitam di depan mereka tak mau berhenti begitupun dengan mobil ayah


Ayah terus saja menginjak tuas, tapi mobil tidak mau berhenti. "Gak bisa bun, kayanya rem blong!"


Kepanikan seketika terjadi, mobil hitam itu semakin mendekat ke arah mobil mereka, bunda segera saja ke arah Daniel, melindungi Daniel dengan tubuhnya.


"Bunda Daniel takut," bocah yang akan menuju ke ulang tahunnya yang ke sepuluh itu mendadak pucat dengan tubuh bergetar di pelukan sang bunda.


"Tak apa sayang, bunda akan selalu melindungi kamu."


Hingga suara benturan sangat keras memekakkan telinga Daniel, menciptakan bunyi nginggg~ yang sangat kuat, lalu dia tak ingat apa-apa lagi.


***


Jayden mengusap kedua matanya yang lelah, hari ini pun dia tidak bisa lagi tidur nyenyak, terbangun karena mimpi kecelakaan itu telah berhasil membuatnya terjaga hingga pagi.


Jayden tidak menjawab kecemasan Kevin, pria itu lebih memilih pergi, padahal hari ini ada pertemuan antar mafia lain, namun Jayden tak ingin pergi terpaksa Kevin yang harus menggantikan sebagai perwakilan.


Jayden merebahkan tubuh di king size miliknya, hari ini dia ada di mansion ke dua, tempat peristirahatannya selama beberapa hari di sini. setelah itu dia akan pergi ke London, di mana mansion utamanya berdiri kokoh, yang sekarang hanya di urus oleh Mister Hans, sebagai kepala maid di sana.


Jayden mengambil laptop lebih memilih untuk sibuk bekerja, melihat pembukuan salah satu club miliknya. Namun ingatannya malah melintas ke lima belas tahun yang lalu. lagi.


Mobil yang di kendarai ayah terjungkal setelah hantaman keras pada mobil hitam di depan mereka, mobil akhirnya terjatuh ke dalam dasar jurang.


Asap mengepul, suara mesin mobil seakan menggema di kedalaman hutan. Daniel yang di lindungi tubuh sang bunda ternyata masih hidup.


Darah mengucur deras di sela mobil yang ringsek, kepala Daniel seakan berputar-putar dan terasa sangat sakit. mobil mereka jatuh terbalik, Daniel menangis seketika saat melihat wajah sang bunda yang memucat dengan darah yang mengalir segar di hidung dan sudut bibirnya.


"Bunda, bangun bunda ... " Daniel meraung, terisak dengan kuat, tergugu ia berusaha bangun keluar dari mobil.


Susah payah tubuh kecil Daniel keluar dari mobil yang menghimpitnya, dia pun penuh dengan luka lebam, sayatan, juga penuh dengan debu, Daniel kemudian berjalan ke tepi, melihat sosok pemimpin yang juga menutup mata di kursi kemudi. kondisi ayah lebih memperhatikan, tulang kakinya bahkan bisa terlihat dari darah yang mengucur.

__ADS_1


Daniel terhenyak, ngeri, namun ia tetap menghampiri, menggoyangkan bahu sang ayah. "Ayah, bangun ayah!"


Sekali lagi Daniel meraung, terisak dengan tergugu,tak mempedulikan rasa sakit di tubuhnya, lalu ia berjalan lagi ke arah tubuh sang bunda yang sudah terbujur kaku. "Bunda bangun, jangan tinggalin Daniel sendiri!"


"AYAH! BUNDA!


Jayden membuang nafas kasar, dadanya berdentum keras setiap kali mengingat hal itu. di sandarkannya leher di bantal.


Jayden tak mungkin lupa, kecelakaan itu terjadi tepat di hari ulang tahunnya. Dan hari ini adalah hari ulang tahunnya, dan ingatan itu kembali datang. Membuat rasa sakit itu kembali menghantamnya.


Jayden menaruh laptopnya kembali, lalu mata elangnya tak sengaja bertumbuk pada anting perak bermata berlian di atas nakas, lalu ia mengambilnya, menatap anting itu.


Terhitung sudah tiga minggu gadis nona pengantin tidak waras itu jauh dari jangkauannya. apa mungkin hari ini dia akan menjemputnya dan menagih kesepakatan itu? Ya, tentu saja.


***


Di rumah Sheena, hari tengah di landa nelangsa, penyakit ayah kambuh, ayah yang mempunyai riwayat penyakit stroke, terpaksa harus berbaring di kasur dengan keadaan memprihatinkan. usaha yang di kelola mereka sekarang sedang surut Membuat Sheena dan ibu di landa kebingungan.


Di tengah itu semua, Andre datang kerumah mereka bersama dengan Raina, Membuat Sheena dan ibu kembali geram.


"Ngapain kalian datang kesini?!" kedua tangan Sheena mengepal dengan mata menyalang menatap ke dua sejoli itu di ruang tamu.


"Aku dengar penyakit ayah mu kambuh, aku datang kesini untuk menjenguknya," ucap Andre enteng, tangannya menggenggam erat tangan Raina. kedua orang ini memang sudah seperti perangko, membuat Sheena jijik ketika mengingat penghianatan mereka.


"Tidak tahu diri sekali kalian berdua ini, setelah membuat keluarga kami hancur kalian datang dengan tidak tahu malunya." ketus ibu duduk di samping Sheena.


"Niat kami di sini baik bibi," ujar Raina.


"Jangan memanggilku dengan sebutan itu." pelotot Bu Nafisah merasa geram.


"Tapi aku juga teman Sheena, bibi dulu juga sangat baik padaku." lirih Raina dengan wajah sedih yang di buat-buat.


"Orang yang telah menghancurkan hidup putriku bukan lagi bagian dari orang yang kami kenal, jangan sok merasa sedih, karena bukan kamu yang di sakiti di sini," ucap ibu, Sheena sampai terkejut, ibu yang terkenal pendiam dan lemah lembut pun ternyata bisa semarah itu.


"Lebih baik, kalian berdua keluar!" titah Sheena berdiri.


"Tunggu, kami juga ingin menyerahkan ini." Andre menaruhnya di meja.

__ADS_1


Sebuah undangan. Seketika hati Sheena teriris, bagai di tikam ribuan belati, di undangan itu tertera nama mereka berdua. Kenapa mereka begitu tega?


"Kami tidak butuh, lebih baik kalian segera pergi, pergi!" ibu mengusir mereka berdua, sedangkan Sheena terduduk dengan mata kosong yang berkaca-kaca.


__ADS_2