
Jayden seketika terperanjat, dengan mata terbuka lebar, wajahnya menunjukkan keterkejutan yang luar biasa, seketika ia kembali berbalik, menghampiri Sheena.
"Apa maksud mu? dari mana kau tahu nama itu?!" sentak Jayden dengan mencengkeram kedua pundaknya. Amarah tercetak jelas di wajahnya.
Sementara Sheena menatapnya penuh kelembutan, bibirnya yang pucat menyungging senyum, perlahan tangannya terulur mengusap pelan rahang tegas Jayden.
"Daniel, aku adalah Kayla-mu." lirihnya.
Jayden menggeleng, seakan tak percaya, namun Sheena menahan tangannya agar pria itu tetap menatapnya.
"Janji yang kau buat lima belas tahun lalu, untuk menikahi seorang gadis kecil dengan jepitan merah di rumah sakit, di adalah Kayla kan?"
Seakan terhipnotis perlahan Jayden mengangguk, dada keduanya sama-sama berdegup kencang, tak memperdulikan hujan yang semakin terjun bebaskan dan deras.
"A-aku, aku adalah gadis yang kamu cari dan selama ini aku pun tengah mencari pria yang bernama Daniel, bocah laki-laki dengan raut wajah tampan di rumah sakit itu ... itu dirimu bukan?"
"Aku yang diam-diam mengintip mu saat pemeriksaan dokter saat kau mengamuk, saat kau mengajakku ke dalam ruangan mu, saat kau memberikan ku sebuah apel, saat kamu mengajak ku berjalan-jalan di sekitar taman, melihat kunang-kunang di malam hari, aku ingat semua, sekarang aku mengingat semuanya," lirih Sheena dengan Isak tangis.
Bertahun-tahun mereka terpisah, berbeda ruang dan waktu namun akhirnya benang merah takdir itu kembali terajut, menuntun mereka untuk menemukan satu sama lain.
Tanpa sadar selama ini mereka sudah menghabiskan waktu bersama, tanpa tahu jika satu sama lain sedang saling mencari.
Jayden menggeleng tak percaya, tangan kokohnya mencengkam lembut pipi Sheena, "Kau benar Kayla ku? gadis kecil yang selama ini kucari?"
Sheena mengangguk dengan Isak tangis yang semakin hebat. "Y-ya tuan, aku Kayla mu."
Grep! Jayden langsung menarik tangan Sheena, membawa tubuh mungilnya ke dalam dekapan yang paling hangat, Sheena menangis di dada bidang pria itu.Seakan ada benang merah tak kasat mata yang terhubung di antara keduanya.
"Aku merindukan mu, sangat merindukanmu," kata jayden dengan suara beratnya. "Selama ini aku selalu mencari keberadaan mu, aku bertahan untuk hidup karena dirimu."
Benar kata pepatah, sejauh apapun jarak, jika memang berjodoh pasti akan bertemu lagi.
Sheena mengangguk. "Aku mencintaimu,tuan, aku mencintaimu."
__ADS_1
Jayden melerai pelukan mereka, hujan tak selebat tadi, namun mereka tak perduli. perlahan Jayden menarik tengkuk Sheena lebih mendekat, ia sedikit menunduk untuk mensejajarkan tinggi badan.
Jayden memiringkan kepalanya, lalu bibir mereka bertemu, kedua tangan Jayden memegang lembut kedua pipi Sheena, pun dengan Sheena yang tanpa sadar melingkar kan tangannya di pinggang Jayden.
Ciuman mereka semakin intens, menyesap rasa manis, bisa Sheena rasakan lidah Jayden yang lolos dan memporak-porandakan rongga mulutnya, pria itu memimpin, Sheena dibuat semakin terbuai, mengikuti ritme permainan pria itu.
Sheena semakin berjinjit tinggi, beberapa menit berlalu pagu*tan panas mereka terlepas, Jayden menatap bibir Sheena yang membengkak karena ulahnya dan mengusapnya lembut, Sheena tertunduk dengan pipi putihnya yang bersemu merah.
"Ayo kita kembali, mi amor (sayangku-spanyol)."
Sheena mengulum senyum sambil menunduk malu, ada rasa lega di hati keduanya, Jayden mengenggam tangan mungil Sheena dalam dekapan tangan besarnya.
"Aku sudah mencari mu selama bertahun-tahun, tak akan ku biarkan kau pergi lagi." suara batin Jayden.
...----------------...
Sementara jayden duduk di ranjang dengan setelan piyama, menekuk satu kakinya, dengan menopang tangan,menatap penampilan Sheena cukup lekat. Terkesima.
"Kenapa kau hanya diam di situ? kemari," titah Jayden.
Sheena mengambil satu langkah ke depan, lalu terdiam kembali mengendarkan pandangan, menghindari tatapan Jayden yang begitu intens.
"A-aku malu, tuan," cicit Sheena memilin ujung kemeja putih Jayden, apalagi tak ada bawahan yang bisa menutupi pahanya yang kini terekspos jelas.
"Tch," Jayden tertawa samar, lalu berdiri menarik tangan Sheena, menuntunnya hingga kini mereka tertunduk di ranjang.
"Tutup matamu," kata Jayden.
__ADS_1
"Eh, mau ngapain tuan?"
"Tutup saja." menurut, Sheena menutup perlahan kelopak matanya, di saat itulah ia merasakan hangatnya bibir Jayden di kedua matanya, pria itu melabuhkan kecupan singkat di sekitar wajahnya, membuat Sheena menahan nafas, malu sekaligus terkejut.
"T-tuan?" wajah mereka kini sangat dekat, Sheena menengadah, memandang Jayden dengan tatapan dalamnya.
"Bisakah kau jangan memanggilku tuan?" kata Jayden dengan suara baritonnya.
"Kau akan menjadi nyonya Alexander, kau harus merubah panggilan itu."
"Tapi tuan,nona Viona ... "
"Ssst," Jayden berbisik menaruh telunjuk di bibirnya. "Jangan katakan hal itu, di sini hanya ada kita berdua dan yang kita bicarakan sekarang hanya untuk kita, tidak ada orang lain."
Sejenak Sheena berfikir, beginikah es jika sudah mencair? Jayden terlalu banyak mengeluarkan kosa kata. Sheena menggigit bibir,menahan senyum.
"Apa yang kau tertawakan?" seru Jayden bertanya.
Sheena menggeleng lucu. "Tidak ada tuan--" Sheena terdiam melihat tatapan mengintimidasi pria itu.
"Maksudku ... "Jayden."
Jayden menarik senyum simpul. "Good girl."
"Mungkin akan ada banyak rintangan dalam hubungan kita kedepannya, banyak yang akan menentang, maka berjanjilah padaku satu hal."
Kedua bola mata Sheena tergerak. "Apa itu?" pandangan mereka bertemu kembali.
"Untuk selalu berada di samping ku, apapun yang terjadi," kata Jayden dengan lugas.
****
Hai, apakabar hari ini? semoga semuanya di beri kesehatan selalu ya🤗
__ADS_1
Jangan lupa like,komen, beri gift, vote, dan bintang lima, terimakasih ✨