
Dengan langkah gontai dengan tangan yang menahan luka tembakan di punggung kanannya, Jayden terduduk di sofa panjang ruang kerjanya.
Ia memerintahkan untuk semua anak buahnya keluar, hanya Kevin yang tersisa, tentu bersikap tenang tak ada kengerian saat melihat bosnya yang kini sedang merasakan nyeri, Hal seperti ini sudah terbiasa di dunia mereka, bukan mafia namanya jika tidak bisa menahan rasa sakit seperti ini.
"Tuan, apa sebaiknya saya panggil kan dokter saja?" tanya Kevin, agak meringis juga melihat darah yang mengalir deras.
"Tidak, siapkan saja alat operasi untuk ku." sejak dulu Jayden benci dengan yang namanya dokter juga hal yang berbau rumah sakit.
Sementara Kevin memekik kaget. "Tuan, akan melakukan operasi mendadak di sini."
Jayden mengangguk. "Bukankah hal seperti ini sudah biasa kita lakukan."
Benar, saat dalam penyerangan para anggota mafia biasanya akan mengoperasi diri mereka sendiri saat mereka terluka apalagi jika luka tembakan namun masalahnya ... tak ada anestesi di sini. Penghilang rasa sakit juga perlu karena bagaimanapun mereka tetap manusia yang bisa merasakannya.
"Kau memikirkan apa? anestesi? tidak perlu, siapkan saja peralatan operasi seadanya."
"Tapi tuan ... "
"Cepatlah!" sentak Jayden, Kevin akhirnya hanya bisa menjalankan tugas yang di berikan itu, tak berselang beberapa lama,ruangan itu bersulap menjadi ruang operasi mendadak, di mana Jayden yang menindaki lukanya sendiri.
Seperti yang bisa di tebak Kevin, pria itu mulai membedah lukanya sendiri tanpa anestesi, membuat ia sedikit meringis ngeri.
Hanya ada Kevin yang ada di sana dan dia tidak diijinkan membantu hanya bisa melihat apa yang tuannya lakukan.
Sesekali Jayden akan meloloskan lolongan kecil, meski begitu ia bisa menjaga raut wajahnya, Bravo! kekaguman Kevin semakin menjadi untuk tuannya ini.
"Perban," lirih Jayden, isyarat ia meminta Kevin mengambilkannya perban karna pria itu sedikit kesusahan.
"Biar saya bantu tuan." kali ini Jayden tak membantah membiarkan Kevin membalut lukanya yang sudah diberi obat, Kevin menggeleng pelan saat menemukan banyak luka di punggung Jayden, bukan hanya di punggung namun di setiap sisi permukaan kulit badan pria itu, apalagi di sekitar perut seperti luka sayatan yang menganga, bukti kekejaman Jayden selama ini.
Setelah selesai membalut luka Jayden, Kevin langsung membereskan tempat kembali seperti semula, sementara Jayden menyandarkan punggungnya di sofa, sedikit merilekskan tubuh.
"Apa kau sudah menangkap dua orang yang ku suruh?"
__ADS_1
"Sebenarnya sudah tuan ... tapi--"
"Tapi apa?"
"Mereka ternyata lebih memilih untuk melenyapkan diri daripada menjadi tawanan kita, mereka mati sia-sia," tutur Kevin.
Jayden Menghela nafas gusar. "Apa kakek yang melakukan ini semua?" gumamnya.
Kevin bergeming tak berani untuk menjawab. "Tapi bisa saja ini dari kubu musuh, tuan Eren Duke, pria itu."
"Tidak, Eren saat ini sedang berada di Itali, dia terlalu sibuk untuk hal bodoh seperti ini," kata Jayden mencekal, Eren Duke adalah salah satu rivalnya yang di dunia gelap ini, Jayden tahu tentang tindak tanduknya, meskipun tak menyukai satu sama lain rasanya terlalu konyol jika menetapkannya sebagai dalang dari semua ini.
"Kevin, siapkan pesawat, besok kita akan kembali pagi-pagi sekali," keputusan Jayden akhirnya.
"Baik tuan." Kevin menunduk patuh. Ia mengerti bagaimana pun sekarang untuk sang tuan, ada seorang gadis yang harus ia lindungi.
...----------------...
Jayden menatap pintu kamar Sheena sesaat sebelum akhirnya mengetuk pelan,tak sampai ketukan ke sekian, pintu segera terbuka, menampilkan raut wajah cemas yang kini berkaca-kaca.
Sheena terkejut. "tuan kenapa, apa ada yang sakit?" tanyanya khawatir, namun Jayden menggeleng.
Mata mereka kembali bertemu, jayden bisa merasakan ketulusan di mata berembun itu.
Satu, dua, tiga, Sheena akhirnya menangis kencang. "Huwaaa, tuan kemana saja, aku takut sekali!" isaknya.
Jayden terkesiap, lalu menatap ke sekitar,tak ingin ada orang yang melihat mereka, Jayden langsung menarik Sheena masuk ke dalam.
Di sana, gadis itu masih setia dengan tangisnya, isakannya seperti anak kecil, itu terdengar lucu tapi juga kasihan, Jayden bergeming membiarkan gadis itu menyelesaikan tangisnya.
"Tuan tahu aku menunggu berapa lama di sini?" dia mulai mengomel, Jayden mendengar kan.
"Aku takut sekali semuanya terjadi begitu saja, beruntung nya saat tuan menyuruh ku pulang, aku bisa selamat walaupun takut bercampur deg-degan, terus aku ingin nyusul tuan tapi Kevin menyuruh ku untuk menunggu di sini, karena tak tahu harus melakukan apa, jadi aku menurut saja."
__ADS_1
"Aku sangat takut, apalagi saat melihat kedua mayat itu, huwaaa jantung ku hampir merosot masuk ke dengkul, aku sangat cemas, khawatir dengan keadaan tuan!" Sheena menumpahkan semua apa yang dia rasakan.
Jayden terkejut raut wajahnya berubah menatap teduh membuat Sheena berhenti dengan tangisnya.
"Apa kau sebegitu khawatir nya padaku?" tanya Jayden, entah kenapa kini aliran darahnya berdesir hebat.
Sheena mengangguk pelan. "Aku sangat khawatir tentang keadaan tuan."
Semenjak kematian orang tuanya di saat ia tepat berumur sepuluh tahun, Jayden tak pernah lagi merasakan kekhawatiran seseorang terhadapnya.
Sejak dulu, dia sudah di latih keras, tak pernah mengenal yang namanya kasih sayang apalagi perasaan cinta, yang ada hanya ambisi sang kakek yang selalu menjadi beban yang harus ia pikul.
Kini mengetahui ada seseorang yang tengah menghawatirkan dirinya entah kenapa membuat tembok pembatas di hatinya seketika runtuh, di dalam sana menghangat seketika.
Jayden lalu memajukan langkah mendekati Sheena. sejak dulu sang kakek selalu menanamkannya untuk tidak percaya tentang cinta dan dia meyakini itu.
Ia anggap semua wanita yang singgah padanya hanyalah seekor ngengat yang menganggu, tak lebih dari seonggok sampah, karna Jayden tahu kebanyakan wanita yang mendekati nya karena tahu apa statusnya, hanya ingin nama belakangnya saja.
Namun semenjak kehadiran gadis ini, entah kenapa semuanya mulai berubah, perlahan gadis itu menghancurkan tembok pembatas di hatinya, memberikannya kepercayaan baru, tentang rasa kenyamanan yang kini akhirnya ia temukan.
Kesepian juga kehampaan di dalam dirinya seakan sirna diisi oleh senyuman manis dan perhatian oleh gadis bertubuh mungil ini. Jayden tak bisa menolak perasaan yang mulai mendesaknya, ia mulai tak berdaya.
"Tuan, mau ngapain?" Sheena menatap dengan puppy eyes nya entah kenapa membuat Jayden merasa gemas.
"Bolehkah aku mencium mu?" tanya Jayden, to the point.
"T-tuan?" kini sudah tak lagi jarak di antara mereka, bahkan deru nafas hangat Jayden bisa Sheena rasakan di wajahnya.
"Dorong lah aku jika kau tidak menginginkannya," perlahan tangan Jayden terulur mengusap lembut wajah Sheena.
Seakan terhipnotis Sheena hanya bisa terdiam, tatapan teduh nan begitu dalam pria itu seakan melenakan Sheena, ia di buat tak berdaya, ada kekosongan yang seakan memintanya untuk diisi.
"Aku menginginkan mu, Afsheena," kata Jayden dengan suara seraknya.
__ADS_1
Perlahan bibir mereka mendekat lalu bertemu, ada rasa dingin kian menghangat lalu keduanya terpejam, menikmati ciuman kedua yang seakan menuntut untuk meminta lebih.