Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
WenGio


__ADS_3

"Kau bisa tinggal di sini untuk sementara," Georgio berkata acuh tak acuh pada wanita di samping nya.


Hari terlewati dengan cepat, tuan Adinata sekarang sedang berada di rumah untuk menjalani perawatan luka-lukanya, meskipun dia dari kubu musuh namun Adinata sudah memberi kontribusi besar karena kesaksiannya pada Jayden, hal itu membuat ia memberikan kesempatan terakhir untuk Adinata bisa melihat dunia, terlebih lagi ia mempunyai seorang putri satu-satunya yang tak memiliki keluarga selain dirinya, membuat Jayden akhirnya memutuskan untuk membebaskan pria paruh baya itu.


Namun hal tak terduga sempat terjadi, Adinata mengalami kritis setelah memberi kesaksian tempo lalu, hal itu membuatnya kini dalam kondisi parah di rumah sakit, dan Wendy, gadis itu teramat lemah, hal itu membuat Georgio memutuskan untuk mencarikan nya tempat tinggal, setidaknya sampai tuan Adinata siuman dan sehat kembali.


"Kamu terlalu baik tapi aku ... "


"Tapi apa?" Georgio bertanya balik, mereka kini berada di apartemen yang Georgio sewakan untuknya, apartemen ini yang paling dekat jaraknya dengan rumah sakit tempat tuan Adinata di rawat, jadi ia rasa cocok untuk Wendy berteduh selama tuan Adinata menjalani masa kritisnya.


"Aku sebaiknya tinggal saja di rumah sakit menemani ayah ku,"cicit Wendy, kepalanya menunduk tak berani menatap wajah keras itu.


Matanya sembab, ia sudah terlalu kenyang menangis terus, meratapi nasibnya yang naas, tapi bagaimana pun hanya ayahnya satu-satunya keluarga yang ia punya, ia harus tetap kuat untuk sang ayah.


Bisa lepas dari jeratan tuan Yudistira saja ia sudah sangat bersyukur, apalagi bisa hidup berdua dengan damai bersama ayahnya nanti, Wendy akan selalu menantikan hal itu.


"Kau pikir rumah sakit adalah sebuah hotel mewah? jangan keras kepala, tinggal saja di sini untuk sementara waktu." Georgio berkata tegas membuat nyali Wendy seketika ciut.


Akhirnya ia hanya bisa menurut. "B-baiklah, terimakasih."


Menatap wajah Wendy membuat sisi lain tepat di dada kiri Georgio terasa tersentil. "Apa aku terlalu kasar padanya?" batinnya bertanya-tanya, lalu seperkian detik kemudian ia menggeleng keras. "Aku tidak peduli."


"Tapi bagaimana dengan biaya sewanya?" tanya Wendy, mata polosnya yang terlihat jernih itu membuat Georgio terdiam seketika, terhipnotis.


"Tak usah pikirkan biaya, kau tinggal saja dan rawat ayahmu."


"Ah, baiklah," seru Wendy pelan.


"Terimakasih, kau sudah banyak membantu ku," ucap Wendy, Georgio hanya mengangguk, ia mengusap tengkuknya tampak salah tingkah, lalu buru-buru ia menguasai keadaan.


Perempuan cantik dengan kulit seputih salju itu lalu memandang ke setiap sudut tempat tinggalnya untuk sementara ini, tak ada apa-apa selain tempat tidur dan sebuah lemari di sini,. bahkan pakaian gantinya pun tak sempat ia bawa dari mansion tuan Yudistira, sekarang ia tak memiliki apa-apa, bagaimana ia bisa mendapatkan uang untuk membeli keperluannya?


"Ada apa lagi?" menyadari tatapan Wendy membuat Georgio paham jika wanita itu sedang bingung.


"Anu ... aku tak mempunyai uang untuk membeli perlengkapan ku," kata Wendy pelan bahkan hampir tak terdengar, ia terlalu sungkan.

__ADS_1


"Ah tapi tak apa, aku akan melamar pekerjaan dan mendapat uang secepatnya." kilahnya, yang sebenarnya tak ingin membuat Georgio tak nyaman karena ia yang terlalu banyak menuntut.


Tanpa di duga Georgio menarik tangan nya hingga membuat tubuh mereka reflek mendekat.


"Ayo!" Georgio berjalan dengan menggandeng tangan Wendy tanpa persetujuan nya, membuat wanita itu berdiri kaku.


"Ayo kemana?" pertanyaan Wendy Membuat Georgio menoleh.


"Membeli perlengkapan mu? memangnya apalagi?"


"Eh?" Wendy tertegun. "Tidak usah, aku takut merepotkan mu, biar aku mencari uang untuk diriku sendiri."


"Kata siapa merepotkan?" suara Georgio mulai terdengar tajam.


."Lagipula aku bukan melakukan ini untuk mu, aku hanya menjalankan tugas dari tuan ku." yang sebenarnya itu hanya alibi.


Wendy mengerjap-ngerjap bingung, hal itu membuat Georgio menarik nafas gusar. "Kau terlalu lamban."


. Grep! dengan gerakan secepat cahaya, Georgio sudah menarik pinggang Wendy mendekat dan membawanya ke pelukannya,ia menggendong Wendy ala bridal style yang membuat gadis itu tersentak tiba-tiba.


Georgio seakan menulikkan telinga, ia tak mengucapkan sepatah kata pun dan tetap membawa Wendy di gendongannya, berjalan santai tanpa memperdulikan pandangan orang-orang di sekitarnya, sementara Wendy yang malu kontan saja menutup wajahnya dengan jas pria itu.


...----------------...


Georgio membawa Wendy ke pusat perbelanjaan terbesar yang ada di kota itu.



"Pilih saja yang kau mau, ambil beberapa untuk persediaan," titah Georgio saat mereka mengunjungi tokoh baju.


Wendy hanya bisa mengangguk, namun di dalam hatinya debaran-debaran itu seakan terdengar jelas di telinga.


Ada apa ini? Wendy tidak mungkin kau jatuh cinta secepat itu kan? apalagi pada pria yang baru kau kenal, ia menepuk-nepuk dadanya sendiri berusaha menyadarkan diri.


"Kenapa?" Georgio menyadari tingkah nya, bertanya dengan dahi berkerut.

__ADS_1


Wendy menggeleng seraya tersenyum. "Tidak apa-apa." tadi itu terlalu jelas.


Pusat perbelanjaan ini sangatlah padat terhitung karena hari ini hari pekan dan ada diskon besar-besaran yang sedang di adakan, Wendy yang belum ke tempat ramai seperti ini sebelumnya terlampau kaget saat di belakang nya seseorang menubruk punggungnya hingga ia nyaris saja jatuh jika seorang pria di depannya tak sigap menahan tubuhnya.


Wendy lalu mendongak tatapannya bertemu dengan tatapan tajam Georgio, mereka hanyut dalam setiap detik moment saat mata mereka sama-sama menyelami makna yang tersirat.


Jantung Wendy berdetak kencang, belum pernah ia merasakan hal seperti ini sebelumnya.


Orang yang menabraknya bersuara membuat mereka menarik diri masing-masing.


"Maaf, saya tak sengaja."


"Lain kali hati-hati,"ucap Georgio dengan suaranya yang ketus, orang itu pergi setelah mengangguk mengerti.


"Terimakasih," ucap Wendy.


Keduanya lalu berjalan beriringan, Georgio mengajak Wendy ke salah satu stan baju, melihat gadis itu yang hanya diam sambil menatap satu persatu baju di hadapannya membuat Georgio gemas sendiri.


Lalu akhirnya Georgio mengambil beberapa pasang tanpa persetujuan dari Wendy, ia menjajal satu persatu mengepaskannya dengan tubuh mungil gadis itu.


Pergerakan mereka di perhatikan oleh orang-orang di sekitar, para pengunjung yang ada di stan ini melirik lalu berbisik-bisik pada keduanya.


"Wah, pasangan itu lucu, cowoknya yang milih baju buat cewek nya sendiri."


"Gemes ih, yang satu ganteng yang satu lagi cantik, mereka pasti lagi ngedate."


Bisik-bisik itu terdengar hingga ke telinga mereka, Wendy menunduk malu, sedangkan Georgio biasa dengan wajah temboknya.


"Jangan dengar kan mereka," ujarnya.


Wendy tertegun, lalu seperkian detik ia mengangguk, andai saja Georgio tahu ia justru mengaminkan perkataan mereka dalam hatinya.


**


Hai, apakabar hari ini? semoga semuanya di beri kesehatan selalu ya🤗

__ADS_1


Jangan lupa like,komen, beri gift, vote, dan bintang lima, terimakasih ✨


__ADS_2