
Sheena terdiam beberapa saat. "Aku gak ngerti ya kamu ini siapa dan ngapain? tapi lebih baik kamu pergi dari sini!" ucap Sheena to the point.
"Heh, Lo emang benar-benar gak takut sama ancaman gue?!" Vania tak mau kalah,mulai menunjukkan taringnya.
Sheena menggidikkan bahu,tak peduli. "Ngapain takut, sama-sama makan nasi, kecuali kalau kamu makannya T-rex." jawabnya santai yang mana menimbulkan tawa berderet di belakang Vania.
Vania naik pitam, tangannya mencengkram kuat, lalu ia hendak layangkan ke pipi Sheena.
"Kamu ya?!" jerit Vania geram.
Tak! tak sampai kena, tangan Vania lebih dulu di tahan oleh seseorang.Mereka semua menoleh, mendapati ada Jayden di sana, dengan raut datar.
Vania terkesiap, seketika berdiri. "Ekhem, sayang kamu ada di sini?" suaranya berubah sensual di depan pria itu.
"Hoekk!" Sheena yang mendengarnya hampir muntah, "Aduh eneg banget ya ampun."
Vania memicingkan mata ke arahnya, merasa tersinggung, namun ia tak bisa berbuat apa-apa, karena di sampingnya ada Jayden.
Lalu ia menyadari ada tatapan seseorang yang mengarah padanya, ia kembali menatap Jayden."Tuan, hehehe," Sheena cengengesan, menyipit kan mata.
"Kalau begitu kalian, eemm, selesai kan lah masalah, aku keluar deh," katanya mempersilahkan. Namun saat hendak pergi, kerah bajunya di tarik Jayden dari belakang.
"Ini kamarmu, kenapa kau harus pergi?" kata pria itu menyadarkan Sheena.
"Tapi ... tuan kan mau ngobrol ... " Sheena menunduk, tak kuat dengan tatapan pria itu yang begitu dalam.
"Tetaplah di sini," kata Jayden, gadis hanya mengangguk.
"Dan kau!" Jayden menunjuk ke arah Vania, "Pergi dari sini!" ia memberi peringatan.
Namun bukan Vania namanya jika tak keras kepala. "Kenapa sih Jay? harusnya gadis kampung ini yang kau usir!"
Jayden menggeleng, tak habis fikir. "Apa yang mau kau coba lakukan? jangan seperti wanita bodoh yang mempunyai obsesi tak jelas, berfikir lah menggunakan otak mu, atau kau memang tak punya otak?"
Vania mengerjap, baru kali ini Jayden berbicara sepanjang itu, pria dingin itu? tapi kenapa kata-kata yang keluar begitu pedas dan menyakitkan?
Pfffft! sementara Sheena dan para bodyguard Vania di belakang tak bisa lagi menahan tawa, bahkan mereka tak kenal, namun Sheena dan para bodyguard Vania itu malah saling menyenggol, berusaha untuk tidak tertawa.
Vania menggeram kesal, ia merasa sangat di permalukan, dan itu semua karna Jayden, orang yang dia idam-idamkan selama ini. Sialan!
__ADS_1
Mata Vania berkaca-kaca. "Oke, aku akan pulang, tapi aku akan mengadu tentang perlakuan mu pada kakek Yudis," katanya mengancam.
"Kakek sudah memutuskan bahwa aku yang akan menjadi istrimu. Viona, adikku hanya pengganti sesaat saja, karna sejak awal akulah yang di inginkan kakek untuk menjadi istri mu."
Sheena di tempatnya terkejut, apakah begini kah sistim perjodohan anak orang kaya? Bagaimana dengan Viona, meskipun baru sekali bertemu Viona, namun ia bisa merasakan jika wanita itu tulus mencintai Jayden.
Dan juga bagaimana dengan Jayden? Sheena menatap pria itu dengan sendu, merasa kasihan karena sang tuan yang seakan di kekang, tak membiarkan ia memilih calonnya sendiri. Semuanya sudah di atur sedemikian rupa.
Jayden bergeming, tak mengindahkan ucapan berupa ancaman Vania, kesal karena di abaikan Vania akhirnya pergi dari sana, dengan air mata berderai.
Suasana kemudian menjadi lenggah. Sorot mata Sheena meredup menatap Jayden, ada guratan lelah di wajah tampan itu. Semua tekanan datang padanya, Sheena mengerti.
"Tuan? ... " lirih Sheena, Jayden menoleh menatapnya, mata keduanya bertemu, perpaduan yang indah dari mata bulat dengan warna hitam pekat milik Sheena dengan mata tajam berwarna coklat milik Jayden.
Beberapa saat diam Jayden maju, mendekati Sheena, gadis itu terkesiap, Jayden hendak menggapainya namun Dugh! Jayden jatuh dalam pelukan Sheena.
Sheena terkejut. "Tuan?!" namun tak ada pergerakan dari pria itu.
...----------------...
Sheena menatap wajah tenang Jayden yang kini terbaring di kasur kamarnya, Kevin datang setelah mengantar dokter yang memeriksa Jayden, keluar.
"Tuan kelelahan, itu kata dokter," tuturnya pada Sheena.
Pantas, setiap Sheena datang ke kamarnya, Jayden selalu terlihat segar, ternyata dia tak pernah tidur malam.
"Kevin, kau bilang orang tua tuan Jayden meninggal saat dia kecil, apa setelah itu yang merawat nya adalah kakeknya?"
Kevin menoleh pada Sheena, lalu mengangguk. "Kamu benar Na, sejak saat itu tuan di tuntut untuk menjadi sempurna, di tempa untuk menjadi pemimpin besar sedari dia kecil."
"Itu berarti sejak kecil tuan sudah tak pernah lagi merasakan hangatnya keluarga?"
Kevin kembali mengangguk. "Tuan selalu sendirian di istana megah yang sunyi, kesepian, tuan besar pun selalu sibuk jadi tak ada waktu untuknya."
"Memiliki trauma, tak punya orang tua meski kaya dan punya kekuasaan besar dia selalu di kekang dan di tekan, bagaimana bisa ada kebahagiaan di dalamnya?" lirih Sheena.
"Itulah sebabnya, kamu datang Na," ucap Kevin menatap Sheena.
"Sejak adanya kamu, tuan menjadi hidup, dia seperti manusia yang memiliki perasaan itu setelah kamu hadir di hidupnya,"
__ADS_1
"Itu sebabnya, tolong jangan pernah tinggalkan tuan Jayden ya, Na."
"Tuan bisa saja dingin, kejam dan keras, namun sebenarnya dia rapuh di dalam."
"Jadi kamulah obat yang di butuhkan tuan," kata Kevin lalu pergi setelah ijin pamit untuk melakukan beberapa urusan.
Sheena menatap Jayden terakhir kali, ia menghela nafas, lalu memutuskan untuk tidur di sofa, menemani pria itu.
...----------------...
"Daniel, hiduplah dengan bahagia, jangan pikirkan tentang kami lagi."
"Ayah, bunda, kalian ada di sini?"
"Iya kami di sini ada karna ingin melihat mu yang terakhir kali, Daniel berjanji lah pada ayah dan bunda, hidup lah dengan tenang, bahagia lah Jangan pernah memikirkan tentang kematian kami lagi."
"Tidak, aku ingin ikut dengan kalian!" mata Jayden yang terpejam bergerak, nafasnya memburu dengan keringat memenuhi pelipisnya.
"Berjanji lah Daniel, hidup lah dengan bahagia." lalu bayang- bayang tentang orang tuanya menghilang di gantikan dengan cahaya besar yang menyilaukan.
"Kakak, aku menunggu mu."
Suara anak kecil itu ... Kayla?
"Tuan, tuan?!"
"Haaah!" Jayden membuka mata, tercekat, nafasnya tersengal-sengal, matanya lalu tertuju pada seorang gadis yang kini ada di depannya, menatapnya dengan khawatir.
"Tuan, kau tidak apa-apa?" Sheena terbangun karena suara Jayden yang menganggunya, seperti nya pria itu habis bermimpi buruk.
Grep! Jayden langsung menarik pinggang Sheena mendekat, memeluknya dengan erat, Sheena terkesiap, Jayden menenggelamkan wajahnya di perut gadis itu.
Belitan tangan Jayden di pinggangnya semakin erat, Sheena bisa merasakan tubuh pria itu yang gemetar, perlahan tangan Sheena tergerak untuk mengusap rambut pria itu.
Sebenarnya seberapa berat trauma tuan dingin ini? jika bisa Sheena ingin menghilangkan nya, melihat nya rapuh entah kenapa Sheena menjadi ikut sakit.
"Tuan tidak apa-apa, aku ada di sini," lirih Sheena.
__ADS_1
"Jangan tinggalkan aku ... Kayla."
Sheena terkejut dengan membelakakan mata. Kayla?