Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Gawat untuk perasaannya


__ADS_3

"Tuan ... sedang memasak?" tanya Sheena, heran, ia mendekati meja pantry, wangi harum masakan yang tadi ia cium ternyata berasal dari sini.


Jayden mengangguk pelan. "Hanya sarapan biasa."


"Waaah, tuan ternyata bisa masak?!" tanya Sheena dengan mata berbinar, Jayden menggeleng seraya mendengkus, kebiasaan, pikirnya, Sheena ini memang selalu ekpresif bahkan untuk hal-hal kecil yang mengejutkannya, ia terlalu hiperbola.


"Duduklah, kita sarapan bersama," kata jayden.


Sheena mengangguk antusias, ia lalu mendudukkan bokongnya di kursi seberang jayden, mengamati masakan yang masih mengepulkan asap tipis itu seketika membuat perutnya keroncongan.


"Wah, aku tahu nama makanan ini," pekik Sheena. "Kalau tidak salah namanya omurice, benar kan,tuan?" tanyanya yang lalu di angguki oleh Jayden.


Omurice adalah makanan Jepang berupa nasi putih yang di goreng bersama saos tomat dan di bungkus oleh telur gulung omelet. Namanya berasal dari kata omelet dan rice sebuah contoh wesaei-eigo, di atas omurice biasanya di siram oleh saos tomat.


Sheena dengar Membuat telur omelet nya lah yang susah, karena benar-benar harus teliti dan sempurna yaitu setengah matang dan bentuknya pun harus benar, hingga benar-benar terhidang cantik.


Sheena menyendok satu suap, di saat itulah telur setengah matangnya meluber dan terlihat creamy, matanya berbinar penuh, hendak menyuapkan ke mulut namun sebuah sentilan mendarat di jidatnya yang lebar.


"Berdoa dulu," ujar Jayden mengingat kan, Sheena tersenyum malu, ia lalu berdoa dan mengaminkan dengan lirih, sedikit mencebik setelahnya karena Jayden yang begitu menjaga table manner di meja makan, Pria itu terlalu perfeksionis, Haissh!


Tanpa berlama-lama lagi Sheena langsung menyuapkan satu sendok penuh omurice yang terlihat menggiurkan itu ke dalam mulutnya, dan seketika seperti ada kembang api yang meletup- letup di sekitar kepalanya.


"Hmm, oishii (enak)," katanya dengan semangat, "Tuan ini enak banget," katanya memuji, jarang ia menemukan pria yang bisa memasak, apalagi seperti Jayden sang kolongmerat yang selalu sibuk, jadi dia speachless.


Jayden menggeleng pelan melihat tingkah Sheena, lalu pria itu melanjutkan makannya.


Sheena menatap Jayden yang sibuk mengunyah dalam tenang, sedikit canggung ia berkata. "Tuan, beneran sudah tidak apa-apa?" tanyanya memastikan.


Jayden mendongak, mengangguk. "Aku sudah lebih baik, sekarang."


Sheena tersenyum. "Syukur lah." ia ingin bertanya tentang Kayla, yang di sebut pria itu semalam, namun ia takut terlalu lancang. Jadi ia hanya diam saja, memendam kekepoannya.


Setelah acara sarapan selesai, Jayden dan Sheena lalu sibuk dengan urusan masing-masing, pria itu duduk di sofa sambil berpangku kaki, tampak sibuk dengan laptopnya, sementara Sheena berjalan mondar-mandir dengan canggung.


"Tuan, kalau begitu aku kembali ke kamar ku ya?" ijin Sheena pada Jayden. pasalnya di sini pun dia tidak tahu apa yang harus di lakukan.


"Kenapa?" pria itu malah bertanya, mengalihkan fokus dari layar laptop.


Melihat Sheena yang hanya diam dengan canggung, membuat Jayden berkata lagi. "Tunggu lah di sini sebentar, kita akan pergi."

__ADS_1


Sheena mengernyit. "Kemana tuan?"


Jayden menatapnya. "Melihat salju."


...----------------...


Satu jam terjebak awkward, Jayden akhirnya mengijinkan Sheena kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap, sementara dia mengecek beberapa email lagi yang masuk, sampai tak sadar email terakhir dari Kevin, pria itu mengernyit karena ini bukan tentang pekerjaan.


Jayden membukanya, di sana ternyata berisi foto-foto nya bersama Sheena saat mengunjungi kuil sensoji dengan kimono mereka tempo hari, di bawahnya ia membaca pesan dari Kevin.


(Saya fikir tuan juga ingin menyimpan foto-foto ini jadi saya mengirimkannya untuk tuan)


Jayden semakin mengerutkan keningnya. Dari mana Kevin mendapatkan foto-foto itu? lalu sebuah pesan kembali muncul seakan menjawab pertanyaannya.


(Tuan tenang saja, saya mengirimkan diam-diam dari ponsel Nona Sheena saat meminjamnya, jadi tak usah overthingking,mwehehe)


Jayden menggeleng tak habis fikir. Lalu ia membaca pesan terakhir.


(Tuan, gaji saya di naikan kan? atau mau ngasih bonus gitu hehehe)


Jayden membatin, ternyata ada maunya.


Itaewon adalah sebuah tempat strategis di negeri ginseng, Korea Selatan, memberikannya sebuah penthouse adalah pilihan tempat yang pas untuk Kevin yang suka berpetualang, tak mengapa untuk menyenangkan hati orang kepercayaannya itu, Kevin sudah melakukan tugas dengan baik, pikirnya.


Lalu ia membuka foto-foto yang di kirimkan Kevin barusan, ada sekitar lima foto di sana, Jayden ingat betapa hebohnya gadis itu saat pengambilan gambar, bahkan selalu memintanya untuk tersenyum, pada akhirnya hanya satu foto saja Jayden tersenyum itupun terlihat terpaksa.


Jayden terkekeh geli saat mengingatnya, matanya lalu tertuju pada Sheena yang berfoto sendiri, menggunakan kimono cantik dengan motif bunga sakura, dan senyum nya yang menawan, membuat Jayden terhipnotis sejenak.


Tanpa sadar jarinya bergerak memencet fitur (Jadikan foto sebagai wallpaper) Dan. kini foto Sheena yang tersenyum cerah itu telah terpampang di layar depannya.


Selarik senyum tipis ia buat, jayden merasa puas, lalu menatap jam yang ada di pojok layar, ia segera menutup laptop dan berdiri. Hendak bersiap-siap juga.


...----------------...


Dari malam udara memang sudah berubah lebih dingin, menurut perkiraan cuaca, salju akan turun hari ini, tentu Jayden sudah memeriksa jadwal yang di kirimkan Kevin tadi, dan waktu lenggang sekitar tiga jam untuk membawa Sheena melihat salju turun.


Pemanas ruangan ia nyalakan, setengah jam bersiap-siap kini dia sudah rapi, menatap jam di pergelangan tangan, Jayden akhirnya memutuskan untuk ke kamar Sheena, mengingat gadis itu tak kunjung datang.


Jayden sudah berdiri di depan kamar Sheena, ia mengetuk pintu beberapa kali, lalu keluarlah seorang gadis bertubuh mungil dengan pakaian musim dingin yang menenggelamkan hampir separuh badannya.

__ADS_1


"Tuan?" Sheena terkejut, dengan kehadiran Jayden.


"Kau sudah siap?" tanya jayden.


Sheena mengangguk pelan. "Tapi ... itu ... anu, tuan, sepatu ku tiba-tiba saja tidak ada sepatu yang bisa ku kenakan jadi ... "


"Jadi, kenapa?"


Sheena mencebik. "Ish masa gak paham? aku harus pakai apa? masa nyeker?!" kesalnya karena Pria ini terlampau tak peka.


Namun seperkian detik Sheena tersadar dan menutup mulutnya, kaget. "Maaf tuan," cicitnya karna telah lancang memarahinya.


Jayden hanya menggeleng, tertawa kecil hal itu sontak membuat Sheena terkejut, karna ini baru kedua kalinya pria itu berekspresi lebih hidup dengan tertawa, meski singkat lalu dia kembali dengan raut biasa saja.


"Ayo!" tanpa menunggu lama Jayden menarik tangan Sheena, membawanya ke parkiran dan masuk ke dalam mobil.


...----------------...


Mereka sampai di sebuah tokoh sepatu, Sheena berjalan sedikit lebih cepat untuk mengimbangi langkah Jayden yang lebar.


"Selamat datang, ada yang bisa kami bantu," seorang staff wanita dengan seragam tokoh mereka dan logat bahasa Jepang menyapa keduanya.


"Berikan aku sepatu hangat untuk musim dingin," kata Jayden.


"Baiklah, kami ada beberapa rekomendasi, tolong tunggu sebentar."


Jayden mengangguk, Sheena memilih untuk berdiam diri mengikuti saja, sedetik kemudian Jayden menarik tangan Sheena untuk duduk di sofa yang di sediakan.


Sheena tertunduk malu dengan wajah memerah, meski ruangan ini hangat entah kenapa tangan Jayden terasa dingin.


Beberapa staf datang membawa beberapa rekomendasi sepatu musim dingin yang mewah, "Mau menjajal satu-satu tuan?" kata salah satunya.


Jayden mengangguk, seorang staf pria tersenyum hendak berjongkok untuk memasang kan sepatu pada Sheena namun Jayden menghentikan tangannya.


"Biar aku saja," katanya tak ingin staf pria itu memegang kaki Sheena. Posesif bos!


"Tuan, kenapa kamu melakukan semua ini?" Sheena menunduk malu saat Jayden memakaikan sepatu untuk nya. Ia terlalu sungkan, sifat Jayden yang seperti ini akan gawat untuk perasaannya.


"Kenapa?" Jayden mendongak menatapnya. "Aku hanya ingin membahagiakan mu, apa itu salah?"

__ADS_1


Deg!deg!deg!


__ADS_2