Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Syal merah


__ADS_3

Matahari merangkak naik di gantikan langit hitam yang penuhi bintang di kota tokyo, dersik suara angin lembut menerpa wajah cantik gadis yang kini sedang berdiri balkon kamar hotelnya.


Sheena menarik nafas dalam-dalam, sambil menikmati secangkir coklat panas di genggaman kedua tangannya, menyandarkan siku di pembatas balkon mengamati langit malam yang sangat indah.


Setelah kembali dari jalan-jalan singkat mereka tadi sore, Jayden tak terlihat lagi oleh Sheena, pria itu benar-benar sibuk sekarang, ada banyak rapat dan pertemuan bisnis yang di jalaninya.


Sheena menghela nafas, mulai mengamati telapak tangannya lalu mengingat kembali tentang bagaimana Jayden yang menggenggam erat tangannya, membuat jantungnya berdetak dua kali lebih kencang, darahnya berdesir, dan Pipinya terasa memanas, padahal malam ini udaranya cukup dingin.


Sheena berseru pelan saat ia teringat sesuatu, ia lalu mengambil ponselnya dan mengamati foto-foto saat ia dan Jayden jalan-jalan tadi, Sheena mengulum senyum saat teringat sejarah terciptanya foto ia bersama tuan dingin ini.


"Tuan,ayo kita foto di bawah pohon itu," pinta Sheena saat mereka berhenti sebuah pohon besar dengan daun dan bunga-bunga nya bermekaran berwarna kuning pastel yang indah.


Namun Jayden tetep bergeming walaupun Sheena menariknya dengan sekuat tenaga. "Tidak!' satu ucapan terlontar dari mulutnya.


"Ih, ayo tuan, kapan lagi kita bisa foto, ayo kita buat dokumentasi untuk kenang-kenangan," kata Sheena tetap menarik tangan pria itu.


Sampai akhirnya Jayden mengalah mengikuti langkah gadis mungil itu, lewat seseorang yang bersedia untuk memfoto mereka berdua, Sheena dan Jayden berfoto dengan beberapa gaya dengan background pemandangan yang memakau, mungkin hanya Sheena yang bergaya, sementara Jayden seperti patung saat itu.


Sheena mengembangkan senyum, teringat dia yang kesal karena di semua foto yang mereka ambil Jayden tak pernah menunjukkan senyumnya, seakan hanya memiliki satu raut wajah saja, datar.


Sheena lalu berjalan ke dalam, ia hampir melupakan gelang yang ia beli tadi, Sheena menaruh ponselnya di atas meja, lalu mengambil gelang yang terbuat dari biji-bijian yang memiliki warna mengkilap dengan desain antik yang begitu indah.


Sementara Jayden sibuk menghadiri pertemuan dengan tuan Asahi benjiro, di sebuah hotel mewah saat ini, pertemuan ini sangat penting karena melibatkan investasi besar yang akan membawa keuntungan untuk perusahaan masing-masing nya, lewat kerja samanya dengan tuan Asahi benjiro juga, Jayden bisa memperkuat relasi hingga perusahaannya mungkin bisa bersaing dengan Ananta group dan de chullen company, dua perusahaan raksasa yang menjadi pesaingnya saat ini, yang mana kedua pemimpinnya adalah orang terdekat Jayden sendiri.


Mungkin kedua orang itu akan terkejut, diam-diam Jayden menarik seringai kecil, kita lihat saja nanti.


"Senang berbisnis dengan anda," kata tuan Asahi menyalami Jayden.


Jayden tersenyum tipis, menanggapi dengan perkataan yang sama. Acara pertemuan bisnis di tutup dengan riuh rendah tepuk tangan para jajaran direksi, setelahnya Jayden hendak pergi untuk kembali ke hotel jika saja seseorang tidak mencegatnya di depan sana.

__ADS_1


"Wah, kita bertemu lagi, Jayden Alexander!" seorang pria di depan sana menyeringai lebar, mendekati dirinya.


Jayden bergeming, "Sayangnya, aku tak berharap untuk bertemu dengan mu," kata Jayden datar.


"Ck, ck, kau tetap sama seperti dulu, apatis," sarkas pria itu.


Victor varandes, pria tinggi menjulang berwajah timur tengah yang Jayden temui bersama Sheena kemarin, tuan muda dari Varandes company, ayahnya pernah menjalin kerjasama dengan kakek Jayden, namun batal karna mereka terlibat konflik, saat itu jayden masih di luar negeri untuk menempuh pendidikan, jadi tak tahu apa yang terjadi hingga kini sang kakek dan ayah Victor tak pernah lagi terlibat dalam kerjasama, konflik apa yang terjadi di antara mereka Jayden tak pernah tahu, dan juga tak ingin tahu.


Sedangkan untuk Victor, ia pun tak tahu ada hubungan buruk apa mereka di masa lalu, hingga pria itu seakan-akan menaruh benci padanya, mereka memang sempat berada di satu sekolah yang sama di Swiss dulu, sebelum akhirnya lelaki itu pindah, namun ia dan Victor sama sekali tak dekat namun hubungan mereka entah kenapa selalu sengit.


Dan mengetahui jika Sheena pernah bertemu dengan lelaki Cassanova ini, Membuat Jayden harus waspada, entah apa yang di rencanakannya saat ini.


Victor semakin mendekati Jayden hingga kini mereka bersejajar. "Oh ya gadis manis kemarin ... dia cukup menarik." bisiknya seketika langsung menyulut emosi Jayden. Dia tahu arah pembicaraan pria licik ini.


"Kayanya gadis itu berharga banget ya buat lo, apa perlu gue ... " sebelum Victor melanjutkan ucapannya, Jayden lebih dulu melangkahkan kaki, melewatinya.


...----------------...


Jayden kembali ke hotel saat melawati pintu kamar Sheena pria itu berhenti sejenak, menatap sekilas namun akhirnya Pergi.


Namun ada dorongan di dalam hatinya hingga ia kembali lagi mendekati pintu, mengetuknya pelan.


Lalu pintu terbuka menampilkan seraut wajah mungil dengan puppy eyes nya yang melengkung karna senyum. "Tuan ... " Sheena berdiri di ambang pintu dengan sedikit mendongak menatap pria di depannya ini.


"Kau belum tidur?" percayalah, baru kali ini seorang Jayden Alexander berbasa-basi, menayangkan hal yang nyatanya tidak perlu.


Sheena menggeleng. "Belum, buktinya aku ada di depan mu kan? hahaha." Sheena tertawa,merasa lucu dengan pertanyaan Jayden.


Jayden mengangkat alis, mengusap tengkuknya. "Ah, ya kau benar."

__ADS_1


"Tuan ngapain di sini? tuan gak tidur?"


Jayden menggeleng. "Malam ini udaranya sangat dingin, pakailah pakaian hangat," katanya menatap penampilan Sheena.


Ah,ya benar ia menyadari karena kini Sheena hanya memakai baju rumahan biasa. "Di dalam ada penghangat tuan, hehehe," katanya dengan cengiran lucu.


Jayden menggeleng. "kau tunggulah di sini."


Sheena terkejut. "Eh, tuan mau kemana?" namun pertanyaannya tak di gubris oleh pria itu, yang tetap berjalan entah kemana, Sheena menghela nafas, menunggu pria itu kembali.


Setelah beberapa menit, Jayden kembali lagi, dengan sesuatu di tangannya, mata Sheena mengerjap-ngerjap, canggung. Pria itu membawa sebuah syal, berwarna merah.


Tanpa basa-basi lagi, Jayden langsung membelit kan syal merah itu ke leher Sheena, suasana lorong sedang sepi saat ini, hanya keheningan yang tercipta, namun tidak dengan riuh suara detak jantung mereka yang semakin bertalu-talu.


"T-tuan?" Sheena menatap garis wajah sempurna itu dengan gugup yang menyerang, sementara Jayden hanya menatapnya tanpa mengatakan apa-apa.


"Pakailah terus," kata Jayden lalu pria itu mengambil kedua tangannya, membenamkan nya di tangan besar sang pria, rasa hangat langsung mengalir saat tangan besar Jayden mendekap tangan mungilnya.


Sheena menunduk dengan pipi bersemu merah, dan benar saja udara menjadi lebih dingin saat ini, sampai-sampai nafas yang di keluarkan dari mulut bisa terlihat seperti embun.


"Masuklah," kata Jayden melepaskan tangannya.


Sheena mengangguk, berjalan hendak masuk namun sejenak ia berhenti, menggenggam syal merah pemberian pria itu dengan senyum terkembang, lalu ia melongok lagi ke samping, namun pria Itu sudah tidak ada di sana.


Akhirnya Sheena masuk ke dalam. Sementara Jayden menatap Sheena dari kejauhan dengan tangan ia benamkan di dalam saku.


"Kayla ... bolehkah aku melupakan mu?" gumamnya menatap gamang.


Kini dia berada dalam kebimbangan besar.

__ADS_1


__ADS_2