Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Mengorek kejadian belasan tahun lalu


__ADS_3

"Sebenarnya kamu itu bukan anak kami."


Deg! Bagai tersambar petir, perkataan sang ayah begitu berdentum keras mengagetkannya. Sheena membeku dengan bulir-bulir air mata yang akan siap tumpah.


"A-apa? Aku bukan anak ayah? Bukan anak ibu? Apa maksudnya ini?" Sheena menatap kedua orang tuanya bergantian.


"Ibu, katakan ini tidak benar kan?" Sheena menatap ibunya yang lebih dulu menumpahkan air mata.


Sheena menggeleng kuat, tenggorokannya seakan tercekat, lidahnya kelu dengan bibir mengatup rapat. Selama 21 tahun hidupnya, dia baru mengetahui kebenaran ini.


"Maafkan ayah nak, maafkan kami, selama ini kami menyembunyikan kebenarannya padamu."


"Kenapa? Kenapa Nana baru tahu sekarang?"


"Kami tak ingin membuat mu kecewa, ayah dan ibu sudah sepakat akan merawat mu tanpa harus memberitahu identitas mu yang sebenarnya."


"Apa itu sebabnya? Warga di sini selalu mengataiku 'anak haram'? Karena aku bukan anak ayah dan ibu?"


Ibu memandang ayah, ayah mengangguk paham. "Tenangkan emosimu, ayah tahu hal ini tidak bisa di terima olehmu, tapi inilah kenyataannya."


Sheena akhirnya menangis, menumpahkan air matanya dengan tangisan pecah, isakannya bahkan sangat terdengar keras, mengetahui hal ini meskipun dari orang tuanya langsung dan bukan dari orang lain, tetap saja sangat menyakitkan.


Ayah dan ibu diam, membiarkan Sheena dengan tangisnya, ibu memeluk Sheena erat, begitupun dengan ayah, pria bijaksana itu tampak sangat bersalah karena baru memberitahukannya kepada Sheena setelah bertahun-tahun berlalu ia hidup dalam kebohongan.


Setelah cukup lama waktu terlewati, Sheena mengusap air matanya. "Lalu di mana? Dimana orang tua asliku berada?"


Ayah menggeleng lemah. "Kami tidak tahu nak, karna kami mengadopsi mu."


"Waktu itu pernikahan ayah dan ibumu berjalan hampir sepuluh tahun tapi tidak juga di karuniai anak, lalu memutuskan untuk mengadopsi seorang anak, kata orang sebagai pancingan, lalu kami memutuskan untuk merawat mu, saat umur mu lima tahun."


"Tapi kenapa Sheena gak ingat apa-apa? Kenapa Sheena gak bisa ingat kedua orang tua Sheena? Atau bahkan kenangannya."


"Dari yang ayah tahu, ibu panti yang merawatmu, dia menemukan mu di depan halaman panti dengan penuh luka, dan badan compang camping, mereka bilang kamu pingsan dan di rawat intensif, setelah kamu bangun kamu tak ingat apa-apa lagi, kamu seperti hilang ingatan."


Ibu memeluk Sheena sekali lagi. "Nana, dari awal kami melihatmu, ayah dan ibu sudah sangat tersentuh, kamu begitu lucu saat kecil, setelah memutuskan untuk mengadopsi mu, kami memutuskan untuk menganggap mu seperti anak sendiri."


"Itulah sebabnya kami pindah dari kediaman lama dan memutuskan tinggal di sini, dengan merawatmu. Awalnya niat kami memang salah, hanya ingin menjadi kan mu pancingan, tapi lambat laun, ibu semakin menyayangi mu dan meminta ayah untuk merahasiakan tentang kebenaran mu."

__ADS_1


"Aku tidak tahu Harus berkata, semua ini terlalu mendadak untuk aku cerna, aku bukan anak kalian dan aku baru mengetahui kebenarannya setelah umurku dua puluh satu tahun." Sheena hampir tak bisa untuk melanjutkan ucapannya.


"Maafkan ayah, maafkan ibu nak ... " lirih kedua orang tuanya.


"Oh ya, ibu bisa ambil kotak itu?" ayah mengisyaratkan ibu, wanita paruh baya itu mengangguk lalu mengambil sesuatu di laci lemari.


"Ini adalah satu-satunya peninggalan yang melekat di dirimu nak." ayah membuka kotak kayu yang di berikan ibu.


Sebuah kalung emas putih dengan liontin berbentuk tetesan air permata biru yang begitu menyilaukan mata. Sheena hampir tak bisa mengalihkan pandangannya dari kalung itu.


"Kalung ini sudah ada sejak kamu di temukan sama ibu panti, kalung ini selalu merekat padamu, ibu panti bilang mungkin ini adalah pemberian orang tua aslimu." Ayah menyerahkan kalung itu pada Sheena.


"Sekarang kalung ini ayah kembalikan lagi padamu." Sheena mengambil kalung itu, mengusapnya dengan lembut, berharap dia bisa mengingat kenangan tentang orang tua aslinya lewat kalung itu.


"Biar ibu pakaian." usul ibu, Sheena mengangguk, menyerahkan kalung pada ibu, lalu berbalik membiarkan ibu memakaikannya.


"Kalung ini memang sengaja kami simpan, untuk berjaga-jaga jika kelak kamu tahu tentang kebenaran aslinya."


Sheena agak sedikit menunduk, mengusap permata kalung itu, lalu kembali menatap orang tuanya.


"Ayah, ibu, aku sudah putuskan, aku ingin mencari tahu tentang asal usul ku."


"Jayden, sudah berapa kali kakek katakan, jangan pernah mengungkit masalah yang sudah lalu!" Kakek Yudis menggebrak meja dalam kemarahan.


"Kenapa? kenapa tidak kakek ceritakan saja sederhananya? tentang kematian orang tuaku?"


"Memangnya apa lagi yang ingin kau bahas?" Kakek akhirnya bisa bersikap tenang, pria renta itu mengenggam tongkatnya kembali.


"Banyak, tentang bagaimana bisa orang tuaku meninggal?"


"Sudah ku bilang itu semua murni kecelakaan."


Yang Jayden tahu, setelah kecelakaan itu ia di rawat di rumah sakit, lalu kakek datang, mengaku sebagai teman kerja ayahnya, Jayden yang saat itu sudah sebatang kara akhirnya di adopsi oleh kakek dan ingatannya hanya seputar itu, dia bahkan tidak tahu di mana keluarga besarnya, saat kedua orang tuanya tiada.


"Bukankah kecelakaannya begitu ganjil? aku ingat saat itu ayah bilang jika rem mobilnya blong, apa maksudnya?"


"Apakah ada konspirasi di balik ini semua?"

__ADS_1


Kakek masih bersikap tenang, pria itu memang pintar sekali dalam mengatur ekspresi, sampai Jayden pun belajar darinya.


"Apa yang membuat mu menanyakan semua ini? setelah bertahun-tahun berlalu, kau mengungkitnya kembali?"


"Karena itu terus berdengung di kepalaku, semuanya tentang ingatan kecelakaan itu, aku tak mengerti kenapa mimpinya hanya datang saat aku berulang tahun saja, seakan-akan itu adalah isyarat agar aku kembali menyelidikinya."


"Sudahlah Jayden, tak ada gunanya kamu menyelidiki, semuanya sudah berlalu, tak ada gunanya kau mengungkit-ngungkitnya kembali." Kakek lalu berdiri, bersiap untuk pergi.


"Lalu bagaimana dengan Gadis kecil itu!" Jayden berdiri dengan suara lantang.


"Gadis yang sering ku temui di rumah sakit itu, yang juga kehilangan orang tuanya karena kecelakaan itu."


Kakek berhenti, mengeratkan genggaman pada tongkatnya. "Kakek tak tahu menahu tentang dia."


"Bukankah ini sangat ganjil? gadis itu menghilang tepat saat kakek mengetahui aku selalu menemuinya."


"Seakan-akan memang dia telah di singkirkan."


"Apa maksudmu!" Kakek menjadi marah.


Jayden mendengkus. "Simpel saja, selama ini apa yang kakek rencanakan."


Jayden sejujurnya tak pernah menaruh curiga pada kakek, namun saat dia melihat berkas-berkas atas nama ayahnya di mansion kakek kecurigaannya mulai timbul. apalagi Jayden sangat ingat, saat kecil dulu kakek berbincang-bincang dengan seseorang yang menurut Jayden sangat mencurigakan.


"Tak tahu di untung!" Kakek menoleh lalu menggebrak meja dengan tongkatnya. mata tuanya menyala-nyala seakan mengisyaratkan murka yang di tahan.


"Memangnya berkat siapa kau masih hidup sampai sekarang? berkat siapa kau masih berdiri dengan kekuasaan tertinggi saat ini."


"Aku tahu, aku seharusnya mengucapkan banyak-banyak terima kasih padamu."


"Tapi selama ini aku membuktikan kinerja ku dengan kerja keras ku sendiri, aku tahu kau mengadopsi ku karna ingin mencari penerus mu, aku juga telah membangun organisasi mafia terbesar ini dengan tangan ku sendiri."


"Jadi kau mau bilang ini impas." Kakek tersenyum sinis.


"Ingat, jika bukan karna diriku kau sudah menjadi gelandangan."


Jayden mengeratkan kepalan tangan, giginya bergemelutuk dengan rahang mengeras.

__ADS_1


Kakek menghela nafas panjang. "Sudahlah tak ada gunanya terus mendebatkan ini."


"Persiapkan saja dirimu, tentang perjodohan yang akan kakek atur untukmu," ucap kakek lalu berbalik pergi.


__ADS_2