Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Sisi lain itu telah bangkit


__ADS_3

"Maaf tuan, tapi apa maksud anda?"


Sheena kini berani untuk mendongakkan wajahnya, melihat langsung pria renta dengan tongkat di tangan kanannya itu, meski terlihat renta namun aura kepimpinan juga intimidasinya Sheena akui sangat kuat, bulu kuduk nya meremang, darahnya berdesir hebat, meski ada takut di dalam dirinya, Sheena tetap berani untuk menatap wajah tuan besar itu.


Sekilas tuan Yudis mengulas senyum tipis, ada pancaran kilat di mata tuanya.


"Apa perkataan ku tadi kurang jelas untuk mu?" semua orang hanya menunduk, semakin menunduk tak berani bersuara, ruangan seketika menjadi sunyi senyap meski ramai orang di sini.


"Pergi dari mansion, jauhi cucuku, dan jangan pernah kembali lagi."


Tuk!tuk! ketukan dari tongkat yang beradu dengan lantai marmer mengkilap itu kembali menggema, tuan Yudis duduk di kursi tunggal mewah yang sebelumnya sudah di siapkan bawahannya.


Ia menumpu kaki dengan sikut menekuk menopang kepala, tangan satunya terbentang mengukung kuat tongkat di genggamannya.


"Seperti kau tahu, Jayden membawanya hingga ke sini karna dia hanya ingin bermain-main dengan mu."


Deg! jantung Sheena kali ini benar-benar memompa sangat cepat. Hanya bermain-main? apa maksudnya?


"Oh, atau kau sama sekali tidak tahu?"


Tuan Yudis menangkap raut keterkejutan di wajah Sheena, lelaki tua itu tersenyum miring.


"Jangan beranggapan semua tindakan baiknya padamu selama ini karena dia menaruh ketertarikan padamu, karna itu tidak akan pernah terjadi."


Sheena menggeleng cepat, sepertinya ada kesalahpahaman di sini.


"Tapi tuan, saya rasa anda salah menyikapi hubungan kami selama ini," sanggah Sheena.


Sheena ingat pertemuan pertama kali dengan tuan Yudistira saat itu sangat tak baik, Sheena takut tuan besar ini salah sangka atas hubungan dia dan cucunya selama ini.


"Tuan Jayden memang sangat baik padaku, aku berhutang budi padanya karena dia pernah menyelamatkan nyawa ku, dan aku pun bersedia untuk tinggal di sini dan menjadi asisten pribadinya semata-mata hanya ingin membalas budi."


"Itu, itulah masalahnya, kau pikir aku tidak tahu? kau lah yang pertama kali menggoda cucuku."


"Apa?" Sheena hendak menyangkal namun tangan pria bertubuh besar yang berdiri di samping tuan Yudistira menghalanginya.


"Lancang sekali kau berani memotong ucapan tuan besar!" bentaknya. Sheena tak mengerti, kenapa mereka begitu serius sekali? Sheena Seperti terdakwa kasus kejahatan berat yang sedang di adili. Ini bukan ruang pengadilan kan?


Tubuhnya meremang respon dari keterkejutan juga ketakutannya. Orang-orang ini memiliki aura yang sangat menyeramkan, serba hitam dan mengerikan. Siapakah tuan Jayden sebenarnya? kenapa dia di kelilingi orang-orang yang mengerikan?


"Kau dengan datang ke bar, bergalak sok sedang mabuk dan membuatnya marah dengan tingkah mu, sebenarnya itu adalah rencana mu kan untuk menarik perhatiannya?"

__ADS_1


"Sungguh tuan, saya tidak mengerti apa yang tuan katakan, tapi saya tidak seperti itu, dari awal pun saya tidak tahu siapa tuan Jayden sebenarnya, pertemuan kami murni karna kecelakaan." tutur Sheena membela diri.


"Aku tidak perduli!" tegas tuan Yudis. "Sekarang bawa koper itu dan segera lah pergi dari sini."


"Maaf tuan." Sheena menunduk. "Tapi saya tidak akan pergi dari sini sampai tuan Jayden sendiri yang meminta saya untuk pergi," tegasnya.


Dia ada di mansion karna pria Itu dan dia pun akan pergi karna pria itu juga.


Trakk! tuan Yudis memukul tongkat ke lantai dengan sangat kuat, hingga suaranya mengagetkan mereka semua.


"Kau benar-benar ingin mencari masalah dengan ku rupanya."


"Kenapa? bukankah semua wanita seperti mu itu sama saja? yang gila harta juga kekuasaan, kau menerima untuk tinggal di sini juga karna ingin harta cucuku, benar kan? jangan berlagak sok polos wanita rendahan!"


"Maaf tuan, tapi kata-kata anda sungguh mencerminkan kepribadian anda," ucap Sheena tak terima dengan penghinaan yang di layangkan padanya, kini ia tak perduli tentang siapa tuan Yudistira ini sebenarnya.


Plak! seseorang menampar pipinya dengan sangat kuat, semua orang terkesiap, terkejut sekaligus takut tak ada yang membela Sheena saat Gavin, lelaki bertubuh besar asisten tuan Yudis itu melakukan kekerasan fisik padanya.


"Berani sekali kau menghina tuan kami!"


Plak! pipi sebelahnya kembali di tampar oleh pria itu, Sheena meringis menahan sakit, ia memegang pipinya yang terasa kebas, gadis itu menatap nyalang kepada Gavin.


"Hanya pria pecundang saja yang berani melayangkan tangannya pada wanita!" ucapnya dengan berani, Gavin yang meradang hendak kembali menamparnya namun di hentikan oleh suara perintah tuan Yudis.


Ia tahu, jika langsung melenyapkan gadis ini akan menimbulkan hal yang lebih besar pada Jayden, jadi kali ini dia akan bermurah hati.


"Aku memberimu waktu hingga minggu depan, jika kau masih tetap keras kepala dengan sikap sombong mu itu, jangan salahkan aku akan membuat hidupmu menderita."


"Oh ya, kau bisa ambil uang itu," tuan Yudis memiringkan tubuh menatap Sheena.


"Aku tahu orang miskin seperti mu pasti belum pernah memegang uang sebanyak itu." ucapannya sungguh sangat menyentak harga diri Sheena.


"Pikirkan lagi apa yang ku katakan." Suara ketukan tongkat kembali menggema, seiring dengan kepergian tuan Yudis bersama antek-anteknya.


Sheena terduduk lemas seketika, para maid langsung menghampiri dirinya, menahan bahu juga lengannya, mereka menatap iba.


"Nona, nona tidak apa-apa?"


"Pipi nona jadi bengkak dan memerah, ayo kita kompres dulu."


Mereka memapah Sheena sedangkan pak Hans pergi mengantar kepergian tuan Yudis. Para maid menatap sedih, mereka tak berdaya dengan kekuasaan tuan Yudis, kalau mereka membantu mereka pasti yang akan terbunuh.

__ADS_1


"Maaf nona, kami tidak bisa membantu mu, kami tidak berdaya."


...----------------...


Setelah pikirannya kembali tenang, Jayden kembali ke mansion, keadaan sungguh sangat sepi, biasanya selalu ada gadis berbadan mungil yang akan menyambut kepulangannya di depan pintu. Ke manakah gadis itu berada?


"Anda sudah pulang tuan ... " sahut seorang pria dengan setelan jas putih yang senada dengan warna pakaian maid di sini, siapa lagi kalau bukan pak Hans,pria berumur hampir seperempat abad itu mengambil alih jas hitam dan tas Jayden.


Jayden mengangguk pelan namun pandangannya berpendar pada sekitar penjuru ruang tamu.


"Anda mencari apa tuan?" pak Hans menyadari gerak-gerik Jayden.


Jayden menggeleng, menipiskan bibir, "tidak ada."


Matanya lalu tak sengaja menangkap sebuah koper berukuran sedang berwana hitam yang ada di atas sofa.


"Apa ini?" ia menghampiri, membuka koper yang ternyata tidak terkunci itu, ia sedikit terhenyak ketika melihat di dalamnya yang berisi uang, perhiasan dan sertifikat.


"Siapa yang menaruh ini di sini?" tanyanya pada pak Hans yang mendekat.


Pak Hans sedikit bimbang untuk menjawab pertanyaan Jayden, raut wajahnya menunjukkan ketakutan.


"Itu tuan .... tuan besar barusan datang ke mansion ini."


"Apa? kenapa tidak ada yang memberitahuku?!" sentak Jayden.


"Maaf tuan." pak Hans menunduk takut.


Jayden berdecak. "Lalu apa yang dia lakukan di sini hah? apa dia membuat masalah?"


Tak ada pilihan, pak Hans lalu menceritakan semuanya pada Jayden, raut wajah pria itu mengeras dengan menatap nyalang.


"Lalu apa lagi yang dia lakukan selain mengancam Sheena?"


Kali ini pak Hans benar-benar gelisah, antara menceritakan apa tidak tentang apa yang terjadi tadi.


"Katakan pak Hans!" desak Jayden. ia merasa ada yang tak beres.


"Itu bukan tuan Yudis tapi asistennya tuan Gavin, telah menampar nona Sheena."


Baiklah kali ini Hans benar-benar melihat sisi Jayden yang lain. sisi yang berbanding terbalik dari dirinya yang selalu tenang.

__ADS_1


Gavin, kau dalam masalah sekarang!


__ADS_2