Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Fitting baju pengantin


__ADS_3

"Itu bagus," kata Jayden pelan. "serangga seperti mereka memang pantas mati."


Kevin menelan ludah terlihat jakunnya naik turun, pria itu mengangguk, meski sudah sepuluh tahun bekerja bersama Jayden, tetap ada kengerian untuk bos mafia itu.


Bisik-bisik di ruang ganti terdengar hingga membuat kedua pria itu menoleh, Jayden melihat angka di jam tangannya.


"Berapa jam lagi sebelum pertemuan ku dengan tuan Nicholas?" tanyanya melirik Kevin.


"Satu jam lagi tuan di mulai dari sekarang, pertemuan nya di nmxxi hotel jika dari sini kita membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk sampai."


Jayden menghela nafas pendek, jam terbangnya mulai sangat padat akhir-akhir ini, tak ada waktu banyak yang bisa ia habiskan untuk Sheena, padahal mereka akan melangsungkan pernikahan.


Kepalanya terasa berdenyut seketika, ia memijit pelipisnya sekilas guna mengurangi rasa sakit itu, Kevin memperhatikannya.


"Kenapa tuan? apa rasa sakit di kepala tuan kambuh lagi?" tanyanya dengan nada cemas.


Jayden hanya mengangguk sebagai jawaban, biasanya hal ini terjadi jika dia insomnia, atau kekurangan tidur karena begadang untuk pekerjaan, ia benar-benar tak punya waktu bahkan untuk dirinya sendiri.


"Apa saya perlu membuat jadwal untuk konsultasi dengan DR. Alvin?"


Jayden menggeleng. "Tidak perlu, ini hanya gejala ringan, nanti juga hilang."


Kevin mau tak mau hanya mengangguk diam. Namun tetap saja ia cemas, penyakit sakit kepala sang tuan memang terbilang cukup serius itu sebabnya ia punya dokter pribadi yang selalu merawatnya.


Seorang staf yang menangani Sheena menghampiri mereka. "Tuan, Miss Sheena sudah siap untuk menjadi pengantin wanita mu!"


Seketika setelah perkataan lantang staf wanita itu tirai di depan mereka terbuka lebar, Jayden dan juga Kevin kompak menoleh, di sana terlihat seorang gadis dengan gaun putih pengantin nampak sangat cantik dan begitu anggun.

__ADS_1


Kevin bahkan tidak berkedip, sementara Jayden begitu terpesona dengan menatap dalam, hening, mereka terdiam untuk beberapa saat.


Catherine menghampiri. "Lihatlah dua pria ini sama-sama terpesona," katanya dengan gelak tawa.


Menyadari jika Kevin juga ikut memandang Sheena, Membuat Jayden melayangkan tatapan horor, Kevin bergidik melihatnya, ia lalu mengalihkan pandangannya dan menunduk sekilas.


"Gak tuan, sumpah deh." ia membuat jari membentuk tanda peace.


Jayden berbalik untuk menatap lagi wanitanya, ia lalu berjalan menghampiri.


"Bagaimana? apakah Miss Sheena terlihat sangat cantik? eyke membuat gaun ini sebulan penuh, dengan hasil memuaskan, semoga tuan tampan menyukainya," ucap Catherine seraya memeriksa kuku-kuku cantiknya.


Jayden menatap Sheena lebih lekat membuat gadis itu menunduk malu, seketika ia merasa Dejavu, teringat tentang Andre saat mereka juga sedang fitting baju pengantin, namun ia dengan cepat menggeleng, sudah tidak ada tempat untuk mengingat masa lalu, batin Sheena.


"Tuan ... " Sheena tersenyum.


"You look beautiful," ujarnya berbisik dengan suara bariton yang khas, Sheena tersenyum dengan semburat merah di pipinya, jarang mendengar pujian lelaki itu.


"Ini mengingatkan ku tentang pertemuan awal kita," kata Sheena dengan terkikik pelan.


"Nona pengantin tidak waras?" Jayden menarik sebelah alisnya, menggoda.


"Ish tuan, jangan mengingat kan hal memalukan itu lagi."


"Kau sendiri yang mengingatnya kan?" Skak! Sheena terdiam, pria ini memang jago membuatnya lawan bicaranya tak bisa berkata-kata lagi.


"Baiklah sekarang itu sudah berlalu, hehehe."Sheena terkekeh pelan, bunga sebagai hiasannya ia genggam dengan erat.

__ADS_1


"Iya, masa lalu memang harus berlalu," kata Jayden sarat dengan makna.


"Sekarang bisakah kau melupakan segala kenangan di masa lalu, dan menempuh perjalanan baru bersama ku?" ia mengenggam erat jemari Sheena yang tersemat cincin pertunangan mereka.


Sheena mengangguk tersenyum. "Yah."


Mereka saling memandang selama beberapa saat, Jayden lalu semakin mendekat kan tubuhnya, ia melirik ke sekeliling. "Tutup mata kalian!" titahnya pada orang-orang itu.


"Tuan mau apa?" dada Sheena tiba-tiba berdegup kencang.


"Jangan panggil 'tuan' tapi sayang." Pria itu lantas memiringkan kepalanya dengan sedikit membungkuk, mempertemukan kedua bibir mereka.


Sheena seketika terpejam, mengikuti ritme permainan lelaki itu, tangannya tanpa sadar mengenggam erat jas hitam jayden.


Setelah beberapa saat mereka sama-sama saling menatap dengan nafas terengah-engah. Jayden mengulum senyum tipis, mengusap bibir Sheena dengan jempolnya.


"Sayang." bisiknya dengan romantis. "Ayo kita menikah."


*


*


*


Hai, apakabar hari ini? semoga semuanya di beri kesehatan selalu ya🤗


Jangan lupa like,komen, beri gift, vote, dan bintang lima, terimakasih ✨

__ADS_1


__ADS_2