
Jayden memandang wajah cantik di depannya ini dengan alis berkerut, sementara Sheena menunduk tak berani menatap wajahnya.
"Apa maksud mu tak ingin menikah?" tanya pria itu setelah mendengar Jawaban dari Sheena saat dia mengajak gadis itu menikah.
Sheena menggeleng cepat. "Bukan tuan,tapi--" mata Sheena berkelebat tak tentu arah, menyadari jika Sheena tak nyaman karena banyak orang di sini, membuat Jayden meninggikan oktaf suaranya.
"Keluar kalian semua!!"
Otomatis dengan sigap Catherine, Kevin dan juga semua pelayan yang bertugas keluar setelah menunduk dengan hormat dari ruangan yang di dominasi warna putih itu. Suasana menjadi lenggang.
"Sekarang tak ada orang, jawablah pertanyaan ku. " Jayden berhenti sejenak, wajah tampan nya nampak memerah pertanda amarah besar tengah menghampirinya. Ada apa dengan gadis ini? apa ada keraguan lagi di dalam dirinya? Jayden tak mengerti.
"Apa kau tidak ingin menikah dengan ku, apa kau tidak mencintai ku?" cecarnya dengan suara bariton yang begitu berat.
Sheena menggeleng lagi, matanya nanar menatap Jayden. "Bukan tuan,ku mohon jangan berasumsi seperti itu."
Jujur Sheena sedikit menyesal ketika menjawab ajakan menikah pria itu dengan jawaban jika ia tak ingin melasungkan pernikahan dulu.
Hening, waktu berjalan seakan melambat, hanya dentingan jarum jam yang terdengar saat ini.
"Kita sudah sepakat tentang hal ini Afsheena," suara Jayden begitu dingin terdengar. "Kau sudah menjawab iya atas pinangan ku, apa lagi yang kau pikirkan?"
Jika di perkirakan sudah dua kali ia di tolak oleh gadis itu, entah karena apa, jayden tak paham, hanya gadis itu yang bisa menjawabnya.
Apakah benang merah takdir mereka akan putus? atau memang perasaan mereka yang tersimpan satu sama lain memang sedangkal itu?
Apalagi yang salah? Apalagi yang kurang?
"A-aku h-hanya ingin semuanya terungkap dulu, tuan," ujarnya dengan mata mengarah ke bawah, sungguh ia tak sanggup untuk menatap mata tajam itu.
__ADS_1
"Kau sendiri yang sudah berjanji akan mengupas tuntas semuanya, tentang orang tua ku?" kali ini Sheena memberanikan diri untuk memandangnya.
Jayden terdiam, urat-urat nya tampak terpampang jelas, Sheena tahu pria itu marah, sangat pasti.
Perlahan Jayden mendekat, matanya berkilat tanda kemarahan itu tak jua hilang, tangan kekarnya lalu menggapai tubuh Sheena yang masih di balut gaun pengantin mewah dan elegan itu, Sheena terperanga dengan mata bulatnya yang terbuka lebar.
Pria itu lantas merebahkan kepala Sheena di dadanya yang bidang, tubuh Sheena berontak tanda minta di lepaskan, namun tangan kekar Jayden dengan sigap menahan pinggangnya dan mempererat pelukannya.
"Diamlah, aku sedang marah, dan aku membutuhkan pelukan mu agar bisa meredakan amarah ku," ungkapnya, kali ini suara Jayden sedikit melunak.
Sheena terperanjat,tak terasa bulir matanya berjatuhan tanpa ia minta, bukan seperti yang Sheena inginkan.
"Kau tahu, saat aku marah aku bahkan bisa menghancurkan hidup orang lain, itu sebabnya aku membutuhkan pelukanmu," kata jayden lagi, ia mencondongkan tubuh, menyesap kuat wangi vanilla di batang leher gadis itu.
"Maaf," kata Jayden dengan lirih, "Maaf jika aku melupakan yang satu itu." katanya tersirat penuh makna.
"Aku terlalu egois hingga tak memikirkan perasaan mu bagaimana."
Jayden menarik diri kemudian menatapnya dengan lekat. "Tidak, di sini aku yang tidak mengerti perasaan mu, maaf."
Tanpa sadar Sheena terisak, bibirnya bergetar, menahan perasaan yang ia sendiri tak tahu apa, terlalu banyak emosi di dalam dirinya, hubungan mereka banyak di tentang orang-orang, ia tahu itu, namun Jayden tetap mempertahankannya.
Bukan tentang kasus orang tuanya saja yang menjadi alasan, namun tentang restu, tentang pandangan orang-orang, Jayden yang keturunan terakhir dan satu-satunya harus meninggalkan semua gelar dan hak waris hanya demi gadis biasa seperti Sheena, seperti dirinya, itu bukan hal yang mudah. Untuk apa cinta jika itu membuat sakit keduanya.
Kebimbangan Sheena kini menyeruak lagi ke permukaan, ia tak yakin dengan hubungan mereka, apa yang harus ia lakukan?
"Tuan?" Sheena menyahut ketika di lihatnya pria itu hanya diam melihatnya.
"Jangan menangis," ujarnya, dengan jempolnya Jayden mengusap air mata yang mengalir di pipi Sheena. "Hatiku sakit saat melihat mu menangis."
__ADS_1
Hal itu malah semakin membuat isakan Sheena semakin jelas terdengar.
"Jayden, andai kita di pertemukan hanya sebagai dua orang yang biasa-biasa saja, mungkin saat ini kita sudah bahagia." batin Sheena berbicara.
Terlalu banyak yang menentang di sisi kanan mereka, itulah yang membuat keraguan muncul kembali ke hatinya, Sheena merasa tak pantas, sejak awal harusnya ia menyadari itu, betapa sangat besar perbedaan dunia mereka.
"Sekarang semua nya ku serahkan pada mu, aku tak ingin kau menjalani sesuatu karena keterpaksaan," kata jayden mengecup singkat punggung tangan Sheena.
Hening menggelayuti, bola mata mereka bertemu, Jayden menatapnya begitu dalam, sementara Sheena sibuk menguntai kata yang pas untuk ia berikan pada pria itu
"Bisakah kita tetap menjalani pertunangan ini dulu, setidaknya setelah semua masalah ini clear, juga tentang siapa orang tuaku keluarga asliku, bisakah seperti ini tuan?"
Jayden mengembang senyum, terlihat getir di mata Sheena, hatinya nyeri seketika, pria itu pasti sudah menantikan semua ini sejak lama, namun bagaimana mereka menjalani semuanya nanti jika masa lalu saja masih mengejar mereka.
"Baiklah, aku mengerti." Jayden mengangguk akhirnya,di sisipkannya anak rambut di belakang telinga Sheena.
"Sesuai janji ku, kita akan mengusut tuntas kasus lima belas tahun lalu juga tentang orang tuamu, baru setelah itu kita bisa menjalani prahara pernikahan dengan damai."
Sheena mengangguk, meski air matanya tumpah tapi ia tersenyum lega. "Terimakasih tuan, karena telah mengerti perasaan ku."
"Not tuan, sayang." bisik Jayden. "Sebagai gantinya, bisakah kau menyematkan panggilan itu pada ku."
Sheena mengangguk dengan malu-malu. "Sayang."
Benang merah yang hampir renggang itu akhirnya kembali menyatu dan menegak sempurna, rasa cinta jayden mengalahkan egonya, ia tahu Sheena sedang bimbang saat itu, menuruti apapun perkataan gadis itu adalah jalan terbaik yang bisa ia lakukan saat ini.
Jayden mempertemukan kedua kening mereka, tangan kekarnya masih setia memeluk pinggang Sheena.
"Te amo, mi amor." bisik Jayden dengan mesra, amarahnya sudah hilang, ia lapang menerima keputusan Sheena.
__ADS_1
Sheena beruntung di pertemukan dengan pria yang bisa mengerti perasaan nya dengan baik, Jayden adalah anugerah terindah yang ia miliki, harusnya ia mengerti sejak saat itu ia paham apa arti cinta yang sesungguhnya.
Untuk Jayden, Sheena adalah pendamping hidupnya, untuk Sheena Jayden adalah pelindungnya.