
Jayden dan Sheena kembali melanjutkan perjalanan setelah Jayden membelikan Sheena sepatu musim dingin yang ia pilih sendiri, Cantik, itulah yang Sheena pikirkan menatap sepatu yang Jayden pasangkan sendiri, seketika senyum Sheena terbit mengingat perlakuan manis pria itu.
Sheena menoleh menatap Jayden yang sedang fokus menyetir, lalu fokusnya teralihkan pada pemandangan luar jendela mobil yang membuat matanya berbinar seketika.
"Tuan, lihat itu." serunya membuat Jayden menoleh, Sheena menatap penuh takjub.
Salju pertama akhirnya turun di sepanjang jalan yang mereka lewati, tadinya Jayden hendak membawa Sheena ke tokyo Disneyland, namun sepertinya harus ia urungkan karna Sheena yang meminta untuk menghentikan mobilnya.
"Tuan, bisa turun di sini, aku ingin melihat salju lebih dekat," kata Sheena dengan bersemangat.
Jayden menatapnya sekilas lalu hanya mengangguk pasrah, membuka pintu mobil, membiarkan Sheena keluar, gadis itu berjalan dengan berjingkrak kegirangan, Jayden menggeleng seraya tersenyum tipis, lalu ikut keluar, mengikuti langkah gadis itu.
Sheena menengadah kan telapak tangannya ke atas, membiarkan kepingan salju mendarat di atasnya, gadis itu tersenyum lebar lalu menoleh pada Jayden.
Ia melambai pada Jayden, namun pria itu tetap bergeming, merasa gemas, Sheena berjalan pelan ke arah Jayden, lalu menarik tangannya.
"Tuan, lihatlah, ini benar-benar salju, salju beneran," ujarnya dengan semangat yang tak pernah luntur, keceriaan inilah yang membedakan Sheena dengan wanita kebanyakan, begitu polos dan naif.
"Tuan mau merasakannya juga?" Sheena bertanya padanya, Jayden menggeleng, bukan sekali dua kali dia melihat salju jadi bukan hal yang baru untuknya, jadi baginya biasa saja.
Namun gadis itu tetap memaksa, menarik tangan yang lebih besar darinya lalu menengadah kan telapak tangan Jayden ke udara.
"Bagaimana? apakah dingin?" tanya Sheena tertawa, mata Jayden tak lepas menatapnya, seolah pusat semesta nya kini hanya gadis itu seorang.
Tanpa mereka sadari tak jauh dari mereka, dengan jarak berlawanan dari arah jarum jam, sedang bersiap dengan sebuah pistol di tangannya, ia memicing kan sebelah mata, satu, dua, tiga, ia hendak menarik pelatuknya.
Dan ... dorr! suara tembakan menggema, namun siapa sangka ternyata pria meleset, Jayden lebih dulu sigap menyadari keberadaannya.
"Sial!" umpatnya karna belum apa-apa sudah ketahuan, untunglah dia memakai topeng anonymous, Jayden dengan bersiap mengambil pistol di belakang sakunya, Sheena sontak syok dengan semua yang terjadi tiba-tiba.
Mereka masih menikmati salju turun tadi sampai akhirnya Jayden menarik tubuhnya bersamaan dengan suara tembakan yang terdengar, tubuh Sheena bergetar dengan raut wajah panik.
"Tuan, ada apa ini?" cicitnya, Jayden menarik Jayden ke pelukan. "Ssst!" Jayden meletakkan jari telunjuk di bibirnya, isyarat diam.
"Kembalilah ke mobil, kau akan aman di sana."
"Tunggu!" Sheena menarik ujung bajunya. "Tuan, mau kemana?" lirihnya dalam takut.
Jayden terdiam sejenak, mengusap wajah Sheena. "Aku ada urusan sebentar, kau masuk lah ke dalam mobil, tunggu sampai aku kembali."
Sheena menggeleng takut. "Jangan tinggalkan aku."
__ADS_1
Jayden menarik sudut bibir sekilas, "Tidak akan pernah."
...----------------...
Setelah memastikan Sheena aman, Jayden langsung bergegas mengejar siapa pengecut yang berani menguntitnya, sial, semuanya terjadi secara tiba-tiba, Jayden tak melihat wajah pria itu hanya perawakan besarnya saja yang bisa jayden lihat sekilas.
Jayden ingat, tubuh tegap itu pernah ia lihat, Gavin, apakah pria itu, brengsek! Jayden akhirnya menyadari situasi, dengan terburu-buru ia kembali ke tempat lokasi ia mengamankan Sheena.
Jika ini benar-benar perbuatan Gavin, Jayden tak akan memberikan toleransi lagi kali ini, meskipun dia orang terpenting sang kakek.
Sheena menatap was-was ke sekillingnya, merapalkan doa di dalam hatinya, hingga suara gedoran keras berhasil mengagetkan Sheena, gadis itu terperanjat ketika dia melihat dua orang berbadan besar dengan topeng dari kaca mobil.
"Keluar atau kau langsung mati di sini!" suara bernada ancaman itu membuat nyalinya ciut seketika.
Dorr! dorr! sebelum Sheena membuka pintu mobil suara tembakan kembali menggema, di iringi oleh tumbang nya dua tubuh di depannya itu.
Sheena melirik dengan takut-takut, di lihatnya Jayden yang mendekat, Sheena langsung membuka pintu, tanpa sadar langsung merasuk ke dalam pelukan pria itu.
Tubuh Sheena bergetar hebat, Jayden bisa merasakannya.
"T-tuan, a-aku takut," lirihnya dengan gemetar.
"Tidak apa-apa, aku ada di sini," kata pria itu menenangkannya.
"Tidak apa-apa, jangan di lihat," perintah Jayden mengalihkan wajahnya.
Lalu pria itu mengambil ponsel menghubungi seseorang.
"Ya, Kevin, segeralah kesini, bawa anak buah kita, ada tugas yang harus ku selesai kan."
Pria itu masih bersikap tenang, menyimpan kembang ponsel ke saku, meski sudah melihat Sheena yang akan menangis.
"Tuan, hiks-- aku takut," lirih Sheena menunduk menetes kan air mata.
Sial! lagi-lagi Sheena dalam bahaya karenanya. Jayden tak akan mentolerir lagi kali ini.
"Bocah, bisakah kau membawa mobil sendiri?" tanya Jayden.
Gadis itu mendongak, mengangguk ragu-ragu.
Jayden menghela nafas lega, memberikan gadis itu kunci mobilnya. "Pergilah secepatnya dari sini, temui pemukiman, kau harus aman."
__ADS_1
Sheena menahan tangannya. "Tuan mau kemana?" ia tak ingin di tinggalkan sendiri.
"Tapi tuan mau kemana?"
Jayden melepaskan tangannya. "Ada saatnya kau tahu, sekarang pergilah cari tempat aman."
Di saat itu Sheena benar-benar tak tahu siapa Jayden sebenarnya? pria itu berubah asing.
...----------------...
Ada sekitar enam orang yang Jayden temui, ternyata sedari awal mereka sudah mengikuti dirinya secara diam-diam. Hari sudah mulai gelap, Menurut perkiraan Jayden mereka lebih dari yang terlihat mengingat dua orang sebelumnya yang sudah ia tumbangkan.
Dengan pancingan mereka berhasil membawa Jayden masuk ke dalam hutan.
"Siapa kalian? siapa tuan kalian?!"
"Kami hanya butuh nyawamu, jayden Alexander!"
Perkelahian tak terelakkan, satu lawan enam, tentulah bukan apa-apa untuk Jayden, dia sudah biasa melawan musuh lebih dari ini, mereka gencar menembakkan peluru namun Jayden dengan gesit bisa menghindar.
Naas, salah satunya berhasil membuat satu pelurunya bersarang di punggung kanan sang ketua mafia terbesar itu, namun tak serta merta membuat jayden tumbang.
Dia tetap bisa melawan, hingga bala bantuan datang, Kevin dan para anak buahnya langsung mengetahui sang tuan yang berada di sini.
Keenam penguntit itu terkepung, meski tertutup topeng namun dari gerakan tubuh mereka terlihat panik, anak buah Jayden langsung menyerah mereka.
"Tuan, anda tidak apa-apa?" tanya Kevin di sela keadaan yang mencekam.
Jayden menggeleng. "sisakan dua di antara mereka untuk di interogasi. Siapkan aku mobil."
Tentu, Kevin paham meski punggung nya bersimbah banyak cairan kental berwarna merah, namun luka itu bukan apa-apa untuk sang tuan.
Kevin lalu membiarkan anak buahnya yang menangani, untuk serangga-serangga kecil seperti itu, Kevin tak perlu ikut tangan, sebaliknya dia langsung mengamankan sang tuan.
"Langsung ke hotel," titah Jayden, lukanya kini mulai terasa sedikit nyeri.
"Tuan, apa kita kerumah sakit saja?" tawar Kevin..
"Tidak, rumah sakit terlalu merepotkan, kembali ke hotel saja."
Dia hanya butuh obatnya sekarang. Yaitu Sheena.
__ADS_1
"Bagaimana dengan gadis itu?"
"Nona Sheena aman tuan, dia menunggu anda dengan cemas."