Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Gunung es itu perlahan mencair


__ADS_3

"Apa? jangan konyol, untuk apa kau bekerja di kantor ku?"


"Tapi tuan aku ingin!" Sheena bersikeras, matanya kini menunjukkan sebuah keseriusan, seketika Jayden terpesona. Menatap takjub kesungguhan gadis itu.


"Apa alasan mu ingin bekerja di perusahaan ku?" Jayden melipat tangan dengan wajah angkuh itu. Diam-diam sudut bibirnya terangkat.


"Eh, emang harus ada alasannya ya tuan?" tinggi gadis itu yang tak seberapa membuat Jayden melirik kakinya, Jayden maju melangkah membuat Sheena sontak mundur teratur.


"Tuan mau ngapain?" Sheena semakin memundurkan langkah seiring langkah pria jangkung itu yang semakin maju.


"Kau pendek sekali, seperti anak TK, tak cocok untuk bekerja di perusahaan ku."


Sheena mencebik kesal. "Tuan jangan body shaming gitu ya, bisa gak sih gak usah ungkit- ungkit tinggi badan!"


"Memang pada dasarnya kau itu memang pendek." Jayden berucap santai.


"Tuan!" suara lengkingan Sheena kembali terdengar, kali ini Jayden tak peduli, ia menikmati saat-saat ia menggoda gadis itu.


"Siapkan air panas untuk juga juga nyalakan lilin aromaterapi,baru aku akan memikirkan kembali keinginan mu."


"Benarkah?!" mata Sheena berbinar seketika, ada kilatan semangat yang terpantul di mata indah itu.


Jayden tak berkata lagi, ia melewati Sheena begitu saja, namun senyum Sheena tak luntur begitu saja, dia yang terlanjur percaya dengan perkataan Jayden, dengan semangat 4G langsung berlari ke arah bathroom untuk melakukan tugas yang di berikan pria itu.


...****************...


"Pokoknya aku harus bisa bekerja di perusahaan tuan Jayden."


Dia tak bisa di mansion tuan dingin ini terus-terusan tanpa ada kegiatan yang bisa ia lakukan, Sheena terlalu bosan, pekerjaan sebagai asisten Jayden tak begitu berat baginya mengingat Jayden pun mempunyai lebih dari sepuluh maid yang siap siaga untuknya. Sheena seakan hanya seperti orang asing yang menumpang hidup di sini saja, dan terlalu bosan untuknya jika dia tak melakukan hal menantang seperti bekerja.


Sheena pun membutuhkan banyak relasi untuk mencari tahu tentang masa lalunya, siapa tau di sana ia bisa mendapatkan teman seperti Rasti, agar dia tak kesepian.


Sheena dengan semangat yang tiba-tiba membara, menyiapkan air panas di dalam bathtub dan menaburkan wewangian sesuai perintah lelaki itu, ia juga menyalakan lilin aromaterapi yang di siapkan Gia sebelumnya.


Sheena lalu keluar dari bathroom setelah menyelesaikan tugasnya, di depan pintu kamar Jayden sesekali ia akan melirik, menanti tuan dingin itu keluar. Negoisasi mereka harus berjalan lancar kali ini. Bagaimana pun caranya Sheena harus bekerja di kantor lelaki.


Namun hampir lima belas menit Sheena berdiri menunggu pria itu tak kunjung keluar, Sheena mengahantuk- hantukkan kaki di lantai marmer karena saking bosannya menunggu.


"Kenapa tuan dingin itu tidak keluar juga katanya tadi mau berendam air hangat? gimana sih!" gumamnya berdecak kesal.

__ADS_1


Salah satu maid lewat menghampiri Sheena dengan raut penuh pertanyaan. "Nona Sheena kenapa ada di sini? sudah malam loh ini."


"Eh?" Sheena terkejut. "Aku menunggu tuan Jayden, katanya dia ingin berendam."


"Tuan Jayden? tuan sekarang sedang di kolam renang belakang nona,beliau sedang berenang."


"Eh, berenang? malam- malam begini?" Sheena tertegun. Oh, ayolah dia baru tahu ada yang rela berenang malam gelap seperti ini, apa tak dingin?


"Memang sudah jadi kebiasaan tuan, nona jangan heran."


"Tapi tetap saja ... itu aneh." cicit Sheena yang tak paham dengan kebiasaan aneh pria itu.


Sang maid hanya tersenyum. "Nona kalau sudah mengantuk sebaiknya cepat tidur ya." lalu dia melenggang pergi.


Sheena melongo seperkian detik, lalu ia berbalik arah ke halaman belakang demi memastikan ucapan maid itu.


...----------------...


Sheena berjalan mengendap-endap, hawa dingin langsung menyergap tubuhnya yang hanya memakai kaos tipis berlengan panjang. Dan benar saja, ucapan maid itu benar adanya, dari tempatnya berpijak dia bisa melihat Jayden yang saat ini sedang berenang di kolam renang seluas lapangan bola voli. Sheena hendak menghampiri namun Jayden lebih dulu menemukan keberadaannya.


"Sedang apa kau di situ?"


"Tuan malam-malam berenang? apa gak dingin?" tanyanya menghampiri. Sheena hanya menatap di pinggir kolam itu pun dengan jarak yang lumayan jauh, udara malam yang semakin dingin membuat dia mengusap bahu, demi bisa menghangatkan tubuh. Ia heran apa Jayden benar-benar tak merasakan dingin yang seperti menusuk tulang ini?


Ah, ya. Sheena teringat, pria ini saja sikapnya sudah dingin, mungkin hawa dingin bukanlah apa-apa untuknya.


"Kembalilah ke dalam jika dingin." hanya itu yang di katakan Jayden, yang mengerti jika gadis itu kedinginan.


Sheena menggeleng. "Tidak apa-apa."


"Tapi tuan, aku sudah menyiapkan air hangat di bathtub seperti perintah mu, aku juga sudah menyalahkan lilin aromaterapi sesuai permintaan mu, kenapa anda malah berenang malam-malam begini?"


"Aku butuh menenangkan diri," ucap Jayden yang kembali menenggelamkan tubuh di dalam air.


"Tuan emangnya gak takut gitu sama hantu air?" celetuk Sheena yang tahu-tahu sudah duduk berjongkok di bibir kolam.


"Hantu air?" Jayden mengerut alis, ia mengusap rambutnya yang berantakan ke belakang.


Gluk! demi nenek tapasya yang gak tobat-tobat, sungguh melihat aurat Jayden yang terpampang jelas membuat Sheena menelan ludahnya kasar.

__ADS_1


Jika saat itu dia tak berani menatap tubuh setengah telanjang Jayden kini dia malah menghitung kotak-kotak yang terbentuk di otot perutnya. Ada delapan kotak, roti sobek, Daebak! mata Sheena terbuka seketika.


"Lihat apa kau?!" Jayden yang merasa aneh melihat arah mata gadis itu, melotot seketika.


"Eh, gak tuan enggak, hehehe." Sheena tertawa canggung namun matanya tak bisa lepas dari tubuh Jayden yang begitu sek si dan menggoda.


Kapan lagi bisa liat roti sobek secara live, yakan?


"Maksud ku tuan tahu kan, di film horor terkadang di tampilkan dedemit yang namanya hantu air, yang akan menarik kaki korbannya saat dia sedang berenang di saat malam seperti ini, aku sering melihat hal yang seperti itu di banyak film horor yang ku tonton."


"Ck, kau terlalu banyak nonton film horor, tak ada yang namanya hantu di dunia ini."


"Isssh, nyebelin, tuan belum nemuin aja."


Jayden tak menanggapi lagi,ia hanya geleng-geleng kepala dengan pemikiran absrud gadis itu.


"Tuan, apa permintaan ku untuk bisa bergabung di perusahaan mu bisa di terima? aku gak apa-apa kok walaupun hanya jadi bagian cleaning servis juga gak apa-apa."


"Kenapa kau sebegitu ngebetnya ingin bekerja? bukankah tujuan mu ingin mencari tahu tentang kedua orang tua asli mu?"


Sheena mengangguk, menatap pantulan cahaya rembulan di atas air.


"Karena aku ingin mempunyai teman tuan, aku terlalu bosan di mansion ini, dan aku juga ingin mempunyai pengalaman bekerja."


Jayden tak habis fikir dengan pemikiran ajaib gadis ini, di saat yang lain mengeluh bahwa kerja itu sangatlah melelahkan gadis ini malah ingin sekali bekerja? ajaib.


"Baiklah jika begitu." Jayden tiba-tiba mengulurkan tangan ke depan wajah Sheena.


Sheena melongo tak mengerti. " ini mau ngapain tuan? jabat tangan?"


Jayden mengangguk tatapannya sangat lekat pada Sheena, dengan ragu Sheena menerima uluran tangan Jayden.


Dan .... byur! suara keciprat air membuat basah permukaan pinggir kolam.


"AAAAAA! TUAN JAYDEN!"


Kepala Sheena menyembul dari permukaan air, wajahnya murung seketika, sementara Jayden menahan bokongnya, dengan kedua tangan kekarnya.


Pria itu tertawa. Sheena terkejut!

__ADS_1


__ADS_2