Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Perhatian diam-diam


__ADS_3

Kini sepiring nasi goreng yang masih mengepulkan asap tipis itu tersaji cantik di atas meja. Sheena berdiri tak jauh dari tempat Jayden duduk, dan sumpah demi apapun, Sheena seperti sedang mengikuti acara memasak yang selalu tayang di televisi itu dan kini melihat bagaimana cara Jayden duduk dengan keangkuhannya, mengingatkan Sheena pada salah satu chef yang menjadi juri di acara itu.


Gluk! Sheena menelan Saliva kasar, telapak tangannya tiba-tiba berkeringat, membayangkan reaksi apa yang akan di berikan Jayden nanti.


"Silahkan, di cicipi tuan," ucapnya dengan penuh menyanjung, Jayden menatapnya sekilas, tangannya yang terlipat di depan dada, perlahan menggapai nasi goreng di hadapannya.


Satu suap masuk ke dalam mulutnya, Sheena menatap intens bahkan sampai tak berkedip, kini semua pusat perhatiannya hanya kepada Jayden yang sedang mengunyah nasi goreng buatannya.


"Gimana tuan?" Sheena mengigit bibir, menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.


Uhuk!uhuk! Jayden terbatuk-batuk dia tidak bisa lagi mempertahankan reaksinya saat ini. wajah Sheena mengkerut dalam, gelisah. sudah bisa menebak apa yang Jayden rasakan.


Jayden menenggak air yang ada di hadapannya hingga tandas, pria itu bergeming tak berkomentar apa-apa, hal itu membuat Sheena semakin cemas.


Pria itu kemudian berdiri, Sheena memperhatikan gerak-geriknya, pria dingin itu bahkan tak berkomentar sedikit pun tentang rasa nasi gorengnya, apa seburuk itu?


Jayden hendak melangkah pergi namun ia berbalik lagi menengok ke arah si gadis yang kini terlihat malang.


"Sheena ... " panggilnya.


Gadis itu menyahut. "Ya, tuan?"


"Kau suka makan, tapi kau sama sekali tidak tahu caranya memasak? sangat buruk."


Tubuh Sheena luruh seketika, wajahnya menjadi pias menatap punggung Jayden yang kian menjauh. Bibirnya melengkung ke bawah, ia lalu menghampiri nasi goreng buatannya.


Dengan penuh kehati-hatian ia menyuap satu sendok ke dalam mulut, dan Hoeek! ia memuntahkannya kembali tanpa aba-aba lagi.


"Astaga, rasa aneh apa ini?!" ia meringis seketika, rasanya tidak sanggup untuk memasukkannya lagi ke dalam mulut, hebatnya Jayden yang bisa mengunyahnya begitu lama dan menelannya.


Sheena benar-benar tidak sanggup. "Sheena, sepertinya takdir mu hanya untuk makan, tidak bisa untuk membuat makanan." monolognya, nelangsa.


...----------------...


Sheena sedang mencuci piring di wastafel saat melihat Jayden yang kini sedang duduk di sofa sambil membaca buku dengan serius.


"Lihatlah, dia sedang diam saja masih terlihat berkharisma, ck,ck, apa-apaan itu? apakah Tuhan dalam keadaan senang saat sedang menciptakannya? ck,ck." gumamnya ngawur.


Gia mendekat dan mengambil alih pekerjaan Sheena. "biar saya saja yang lanjutkan nona," ucapnya.


"Eh, Gia, gak apa-apa,ini juga udah mau selesai kok," ujar Sheena, dia lantas tertunduk lesu, Gia menyadari perubahan raut wajahnya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa nona, namanya juga baru belajar pasti tidak akan langsung benar pada awalnya," ucapnya menyemangati.


Sheena menatapnya, "Maaf ya, karna aku, kamu yang harus menerima pekerjaan dua kali lipat ini." Benar, karna Sheena yang tak bisa memasak Membuat Jayden akhirnya memutuskan Gia yang menggantikan tugas koki di sini, Gia sebenarnya sudah mempunyai pekerjaan lebih banyak, para maid di sini pun sudah punya tugas mereka masing-masing, namun Gia akhirnya menyanggupi permintaan Jayden, bukan hanya memasak untuk Jayden saja namun Gia harus memasak untuk semua orang yang ada di sini.


"Tidak masalah nona, lagipula tuan Jayden pun tidak selalu berada di mansion ini, hanya akan sesekali saja ia singgah."


"Benarkah? lalu selama ini dia tinggal di mana?" tanya Sheena, mulai lagi kekepoannya.


Gia mengangkat bahu. "Tidak tahu nona, kehidupan tuan Jayden itu misterius, hanya orang-orang kepercayaannya saja yang tahu."


Sheena manggut-manggut, kini ia menata piring-piring itu dalam sebuah alat yang nantinya bisa mengeringkan langsung juga menetralisir nya. Canggih, itulah menurutnya.


"Tapi saya senang nona," ujar Gia tiba-tiba. "Berkat adanya nona, tuan Jayden jadi lebih sering tinggal di sini, setidaknya mansion besar ini di akui oleh pemiliknya."


"Berkat diriku?" Sheena tertawa. "Aku pikir kamu keliru." Benar, mana mungkin berkat dirinya.


Gia menggeleng, tersenyum tipis. "Tahukah anda nona, sejak dulu tuan Jayden sangatlah dingin, cuek bebek, juga apatis pada sekitarnya."


"Tapi karna kedatangan nona, tuan Jayden bisa sedikit berekspresi, setidaknya dia tidak sekaku dulu."


Sheena terdiam, menatap lama dengan tatapan kosong, Gia menepuk bahunya tersenyum. "Saya tinggal ya nona, saya ada pekerja di belakang." lalu gadis itu pergi.


Sheena memikirkan kembali apa yang Gia ucapkan, rasanya itu semua tidak bisa di terima oleh otaknya.


...----------------...


Malam tiba, setelah tak melihat Jayden seharian karena pria Itu pergi bersama Kevin tadi siang, kini Sheena melihatnya kembali, tentunya bersama Kevin di sampingnya.


Mereka terlihat sangat sibuk, berbincang serius dengan Kevin yang membawa beberapa berkas di tangan.


"Ck,ck, begitulah kehidupan para kolongmerat, mereka selalu terlihat sibuk kapan pun dan di mana pun," gumam Sheena sambil menyeruput kuah mie yang di buatnya barusan.


Sheena terus memperhatikan kedua pria itu sambil memakan mie rasa soto kesukaannya. Jarak pantry dan sofa di ruangan ini memang cukup dekat dan tak ada sekat jadi Sheena bisa leluasa menatap wajah serius Jayden dan cerocos Kevin dari sini.


Lima belas menit ia habiskan, Sheena sudah kini sudah kenyang dan bersiap kembali ke kamarnya, saat sebelah tangan menariknya hingga tubuhnya berbalik.


"Kau bersiaplah." titah Jayden.


Sheena mengerjap. "Kemana tuan?"


"Kita akan belanja Nana," seru Kevin di belakang Jayden.

__ADS_1


Sementara Jayden mengerut alis. "Nana? sejak kapan mereka jadi seakrab itu?" gumamnya.


"Eh, ku kira kalian masih terus berdiskusi tadi?"


"Sudah selesai kok Na, sudah cepat kamu bersiap." timpal Kevin.


"Kenapa malah kau yang jadi bersemangat?" tekan Jayden dengan ketus.


Kevin refleks menunduk hormat. "Maaf tuan saya terbawa suasana."


"Ck, sudahlah." Jayden kembali menatap Sheena. "Kau segeralah bersiap."


Kevin terkikik dalam diamnya. "Cemburu? bilang bos!"


Sebelumnya ....


Jayden dan Kevin tengah serius membincangkan rancangan proyek yang akan bekerja sama langsung dengan perusahaan besar yang ada di abu Dhabi, sampai pada akhirnya Jayden tiba-tiba berceletuk karena teringat sesuatu.


"Kevin, kapan pertemukan ku dengan klien-- maksud ku, tuan Asahi benjiro, di Jepang nanti?"


"Oh, kebetulan tiga hari lagi tuan, tanggal 4."


"Bukankah itu artinya saat musim salju?"


Kevin mengangguk ragu. "kok tuan bisa tahu cuacanya?" tidak mungkin kan tuannya ini gabut sampai mengecek cuaca yang akan datang di sana.


"Tidak hanya kebetulan melihat di ponsel saja," kilah Jayden.


"Lalu kenapa tuan?"


"Ekhem begini ... " Jayden tampak ragu untuk mengatakannya. "Aku ingin mengajak Sheena ikut juga."


Hah? sejak kapan tuannya ini peduli pada bawahan? apalagi ini seorang gadis, Kevin benar-benar speechless.


"Tentu saja sebagai asisten dia harus ikut serta kan?" kilahnya cepat tak ingin Kevin berfikir macam-macam.


Kevin mengangguk lagi kali ini dengan senyum yang terbit di wajahnya.


"Lalu tuan?"


"Rekomendasi kan mall yang bagus, aku ingin mengajak gadis itu membeli beberapa pakaian hangat untuknya nanti."

__ADS_1


Baiklah, kali ini Kevin patut curiga.


__ADS_2