Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Menerima


__ADS_3


Jayden menatap lamat-lamat cincin berlian yang tersimpan apik di kotak bludru berwarna abu-abu metalik itu. Matanya sesekali akan menatap Sheena yang duduk di sampingnya, memandang dengan penuh tanya.


"Apa yang akan kamu lakukan dengan cincin ini?" tanya Sheena masih menatap bingung pria di sampingnya. Hujan di luar sudah mulai reda, malam pun semakin larut, karena ingin masih bersama, Jayden meminta Sheena untuk tidur di kamarnya malam ini, pria itu juga meminta Sheena untuk mengambil cincin berlian yang jayden kasih sebelumnya.


Jayden menatapnya lekat ke arah gadis berwajah oval itu. "Sheena, aku ingin bertanya padamu," katanya dengan suara bass yang berat dan serak.


Sheena menelan ludah tersebab wajah pria yang sangat dekat dengannya, mengingatkan Sheena kembali pada ciuman panas mereka beberapa saat lalu. Haissh pikirannya sekarang sudah tak suci lagi!


"Apa itu?" kata Sheena akhirnya.


Jayden menenggakkan punggung, sedikit mencondongkan tubuhnya pada Sheena. "Ini tentang kebimbangan mu, apa kau masih belum bisa melupakan mantan tunangan mu?"


Sheena mengerut dahi. "Maksud tuan pria itu? Andre?"


Perlahan Jayden mengangguk, iris matanya yang coklat terang menatap bola mata Sheena yang hitam pekat dengan lekat. Sheena perlahan menggeleng.


"Tuan, apa kau meragukan ku?" katanya dengan tatapan sendu, padahal ia sudah mengutarakan perasaannya, jika dia mencintai pria ini, apa Jayden tak tahu itu?


"Bukan." sanggah Jayden dengan cepat. "Aku hanya tak ingin memaksa mu."


"Seperti kemarin, aku terlalu terburu-buru melamarmu, tidak tahu jika kau mempunyai trauma mendalam tentang hubungan, aku tak ingin egois untuk memaksa mu menerima ku, aku ingin membuat mu nyaman,dan tidak tertekan."


"Tuan, apa yang kamu katakan?" mata Sheena berembun menatap tak percaya. "Kamu adalah pria yang selama ini aku cari, Daniel,itu namamu dulu, selalu terpatri dalam otak ku, kau selalu hadir dalam setiap mimpi ku, bagaimana bisa kau mengira aku akan tertekan dan merasa tak nyaman."


"Aku memang bersalah telah menolak lamaran mu sebelumnya, itu karena aku mengira kau tak sungguh-sungguh dan hanya bermain-main, tapi setelah mengetahui fakta sebenarnya, jika kita memang sudah berjodoh sejak kecil, bagaimana aku bisa menolak mu lagi?"

__ADS_1


Hening sejenak, Jayden terkesima dengan semua ucapan Sheena, gadis itu terdengar sangat tulus, selama ini Jayden tak pernah menerima ketulusan yang sebesar ini dari orang lain, hidup jayden yang suram seakan terselamatkan oleh kehadiran seorang Afsheena.


"Tuan, kau ingat syal merah yang kau berikan padaku?"


Jayden mengangguk, bagaimana mungkin dia bisa melupakan itu.


"Syal merah berarti benang merah. Benang merah takdir, yang mengikat kedua insan dalam perjodohan abadi, hari di mana kamu memberikan syal merah, harusnya aku sudah tahu, jika kamu adalah takdir ku."


Sheena menghela nafas sejenak, mengurai detak jantung yang semakin bertalu. "Jadi, tuan, apa kau masih meragukan cintaku?"


Tak menjawab, Jayden langsung mengambil alih tubuh Sheena, merasuk ke dalam pelukannya, Sheena sedikit terperanjat, pria itu menaruh kepalanya dalam pelukan dada yang hangat, diam-diam Sheena tersenyum.


"Maafkan aku, tidak seharusnya aku meragukan mu," katanya pelan.


Sheena tahu kenapa jayden seperti ini, pria itu, sudah terlalu lama hidup tanpa kehangatan kasih sayang seseorang yang tulus, entah apa saja yang ia lalui, namun Sheena tahu hidup tanpa topangan kedua orang tua yang lengkap pasti sangatlah sulit, apalagi jika kakeknya, satu-satunya keluarga sangat sibuk bahkan untuk sekedar memperhatikannya.


Tak ada yang sempurna di dunia ini, begitupun dengan sifat dan sikap seseorang.


Jayden melerai pelukan, menatap dalam wajah Sheena yang kini memerah. "I love you," kata Jayden pelan, pun singkat dan lugas.


Wajah Sheena semakin memerah, teringat fakta bahwa dia dulu yang mengutarakan perasaannya pada jayden, yang mengatakan 'aku mencintai mu' bahkan Sheena lebih dulu, namun pria itu hanya sekali, tak ada senyum namun sukses membuat Sheena mati-matian menahan jantung yang semakin berdebar-debar.


Pria ini kaku, bahkan tak ada rayuan yang membuat Sheena merasa begitu spesial, tapi entah kenapa Sheena sungguh sangat mencintai nya.


"I love you to, tuan dingin." balas Sheena dengan senyum terukir tulus.


Jayden tersenyum sekilas, ia menekuk lutut di hadapan Sheena yang terduduk di kasur, mengangkat sebelah tangan Sheena, hendak melamar, dengan sedikit romantis. Meskipun Jayden tak yakin itu akan romantis atau tidak.

__ADS_1


"Afsheena daisy, will you marry me?"


Sheena tersenyum, dengan mengangguk malu-malu. "Yes, i would."


Keduanya saling menatap, sama-sama mengulas senyum termanis, Jayden lalu mengambil cincin berlian itu, memasangkannya pada jari manis Sheena, perlahan, dersik angin juga aroma tanah yang menguar harum sehabis hujan seakan menjadi warna dan harmoni dalam ikatan sakral sepasang dua insani ini.


Sheena menatap cincin berlian yang kini terikat manis di jarinya dengan mata berbinar. Tak ada yang tahu tentang rahasia takdir, begitupun dengan jodoh, hingga kini Sheena masih tak percaya bisa di pertemukan kembali dengan cinta pertamanya sejak kecil, kegagalannya dalam cinta semu yang sudah berlalu ternyata membawa buah yang lebih manis, yaitu pertemuannya dengan Jayden, yang ternyata adalah jodohnya sejak kecil.


Cup! Sheena mengecup pipi Jayden dengan secepat kilat, Jayden sedikit terkejut, gadis itu menunduk dengan pipi bersemu.


Tersenyum miring Jayden menarik tangan Sheena hingga wajah mereka mendekat. "Kau sudah berani nakal rupanya."


Jayden hendak menyergap bibir ranum itu namun Sheena membungkam nya dengan tangan, ia menggeleng lucu berniat mengerjai pria dingin ini. "Aku malu, tuan," kata Sheena dengan suara tak jelas, menutup mulutnya membuat Jayden mengulum senyum jahil.


"Kenapa harus malu? sebentar lagi setiap inci tubuh mu pun akan menjadi milikku."


Sheena terkekeh, tangannya beralih memukul dada bidang pria itu. "Dasar tuan mes*um!"


Mereka terkekeh hingga jatuh ke atas ranjang, di saat itulah jayden tak menyia-nyiakan kesempatan, langsung menyerbu bibir mungil yang sedang ranum-ranumnya itu dan menciptakan rasa manis yang kini sudah menjadi candu untuknya.


*


*


*


Hai, apakabar hari ini? semoga semuanya di beri kesehatan selalu ya🤗

__ADS_1


Jangan lupa like,komen, beri gift, vote, dan bintang lima, terimakasih ✨


__ADS_2