
Sheena bangun dari tidurnya, ia menatap jam digital di atas nakas. Belum telat, ia lalu berjalan ke arah jendela, menyikap gordennya, terlihat embun pagi yang segar juga pemandangan di luar sana membuat matanya seakan di manjakan.
Sheena melakukan sedikit pemanasan, meregangkan otot-ototnya yang terasa saku, seulas senyum terbit lalu ia menengadah.
"Selamat pagi,tokyo!" teriaknya dengan penuh semangat. Bagaikan HP yang tercas full baterai nya, begitupun dengan Sheena saat ini, penuh dengan energi.
Sheena berjalan ke wastafel,mencuci muka dan menyikat giginya, rambutnya yang panjang ia cepak asal. Setelahnya Sheena keluar kamar, menuju ruangan Jayden.
Tok!tok! pelan, Sheena mengetuk pintu sang tuan dingin, setelah beberapa ketukan pintu pun terbuka, menampilkan seraut wajah tampan yang terlihat segar.
"Ohayou gozaimasu, Jayden-san," ucapnya. Jayden bergeming, sedikit terkejut.
"Bagaimana? apakah skill bahasa Jepang ku sudah meningkat tuan?" gadis itu tersenyum, berkedip-kedip.
Jayden mendengkus geli. "Lumayan."
Pria itu lalu melebarkan pintu, mempersilakan Sheena untuk masuk, Sheena segera menyiapkan perlengkapan Jayden, memasang kan dasi pria itu, seperti biasa, bedanya kali ini dia tak membersihkan kamar sang tuan, toh sudah ada pengurus hotel yang akan melakukannya.
"Pagi ini kau bisa ikut ke bersama ku menghadiri perjamuan," ujar Jayden membuat Sheena sedikit terkejut.
"Eh? perjamuan?" Sheena cengo.
"Iya, hanya sebentar, sebagai formalitas saja, kau adalah asisten pribadi ku, sudah seharusnya kau ikut kan?"
Sheena mengangguk untuk perkataan yang terakhir, membenarkan.
"Tenang saja tak akan lama, jam 11 siang nanti kau bisa kembali ke hotel."
"Terus tuan?"
"Aku ada meeting juga beberapa pekerjaan."
"Baiklah." Sheena mengangguk.
...----------------...
Jayden dan Kevin menunggu Sheena di lobby, gadis itu berjalan tampak sedikit kepayahan membawa tas berisi berkas-berkas milik Jayden dan mantelnya.
"Oh, ohayou gozaimasu Kevin," ucap Sheena dengan riangnya saat melihat Kevin.
__ADS_1
Kevin terkejut. "Waaah sugoi (hebat), nona udah kaya orang Jepang sungguhan."
"Hahaha benarkah?" Sheena tersenyum jumawa, tak sia-sia ia tidur sedikit larut demi menghafal satu persatu kosa kata bahasa negara ini.
Jayden melirik jam di pergelangan tangan. "Kita tak ada waktu,ayo!"
Keduanya mengangguk, mereka berjalan tegap sampai ke pelataran hotel dan masuk ke mobil yang sudah stand by dengan manis di sana.
...----------------...
Mobil bergerak normal, Sheena menurunkan kaca mobilnya menatap penuh takjub pemandangan yang bisa dia liat di sepanjang jalan. Tokyo benar-benar bersih dan sejuk.
"Sebentar lagi akan memasuki musim salju nona, hawanya jadi sedikit dingin," kata Kevin di depan.
Sheena mengangguk, sedikit membuka mulut hingga membentuk embun kecil di udara, gadis itu tertawa. "Keren!"
Jayden memperhatikannya, meskipun tak ada senyum namun tatapan dalam pria itu sudah mengisyaratkan semuanya.
Mobil berhenti di pelataran gedung pencakar langit, mereka turun serempak, Sheena memakaikan mantel hangat itu pada Jayden, lalu memberikan tas hitam itu pada Kevin.
"Apa aku harus masuk juga tuan?" tanya Sheena, ragu.
"Tentu saja," jawab Jayden singkat.
"Aku bisa menghubungi mu jika sewaktu-waktu ada masalah genting, itu gunamu di sana."
Sheena mengangguk, benar perkataan Jayden.
"Tenang saja nona,nona bisa kok bermain di area lobby, ada taman rekreasi di sana," kata Kevin.
Mata Sheena melebar. "Benarkah?"
Kevin mengangguk. "Tentu saja. juga, ada cafe yang menyediakan makanan manis khas Jepang, anda juga bisa mengunjungi nya nanti."
Sheena semakin girang. "Baiklah, sugoi!" gadis itu tertawa membentuk lengkungan bulan sabit di matanya, Jayden terhipnotis beberapa saat lalu selarik seringai kecil juga dengkusan geli ia layangkan ke udara. Gemas.
...----------------...
Sesuai perkataan Kevin, Sheena bisa mengunjungi kafetaria itu namun setelah dia mengikuti Jayden ke dalam acara perjamuan singkat sebelum ke acara inti. Ia tak tahu kenapa jayden malah menariknya kesini.
__ADS_1
Namun yang pasti saat pria itu sedang berjabat tangan dengan para koleganya maka Sheena juga akan ikut menyalaminya. Formalitas.
Jayden dan para tamu terhormat itu sedang berbicara dalam bahasa Jepang.
"Perkenalkan, dia adalah Afsheena daisy," kata Jayden memperkenalkan Sheena pada mereka.
"Salam kenal." orang-orang itu mulai menyalami Sheena.
Sheena yang tak mengerti hanya mengangguk-angguk, satu di antara mereka berceletuk. "Dia memiliki mata yang indah," katanya.
Sheena bingung, menatap Jayden. "Beliau ngomong apa tuan?"
Jayden sedikit menunduk, berbisik. "Katanya kau memiliki mata yang indah, mereka memuji mu."
Pipi Sheena terasa memanas, ia tersenyum. "Arigatou." ( terimakasih) hanya itu yang bisa dia katakan, karena ia hanya hafal beberapa kosa kata saja, namun para tamu terhormat itu memaklumi, tersenyum hangat padanya.
Salah satu di antara mereka berseru lagi. "Apa dia wanita mu?" tanyanya, karna merasa heran gadis biasa seperti dia bisa masuk ke acara perjamuan ini dengan Jayden. Jika tak ada hubungan spesial.
Jayden terdiam sejenak, tertegun. "Bisa di bilang begitu." balasnya, sambil menampilkan seringai tipis.
Di belakang Sheena menyenggol lengan Kevin, merasa kepo dengan obrolan mereka Karena para tamu terhormat itu sesekali melirik ke arahnya sambil tersenyum.
"Kevin, tuan Jayden emang apaan? kenapa para tamu itu terus menatap ku?" tanyanya, bukan geer, tapi saat Sheena menoleh ke belakang tak ada siapapun di sana, itu berarti tatapan mereka memang mengarah padanya.
Kevin malah tersenyum-senyum sendiri, speachless dengan jawaban Jayden tadi, dia tidak menampik saat di tanya apakah Sheena adalah wanitanya? keren! hubungan mereka semakin maju satu langkah.
"Kevin, kenapa diam aja sih?!" bisik Sheena lagi sedikit menyentak.
Kevin menggeleng, menahan senyum. "Aku gak tau Na,kali ini aku benar-benar gak tau."
...----------------...
Satu jam terperangkap di ruangan orang-orang kelas elit itu, akhirnya Sheena bisa keluar juga, ia mengambil nafas dalam dan mengeluarkannya dengan ringan, berjalan santai di area lobby.
Benar kata Kevin di sini ada taman rekreasi kecil untuk anak-anak bermain, Sheena bisa melihatnya dari kejauhan, sementara ada dua orang pria yang sedang menyamar yang tak Sheena sadari keberadaannya, mereka adalah bodyguard Jayden, yang ia utus untuk menjaga gadis itu diam-diam.
Kata Jayden, dia harus menunggu di sini dulu sampai pekerjaan pria itu selesai, jadi di sinilah Sheena, menunggu di kursi panjang dekat dengan tempat reception, membawa segenggam kue Taiyaki yang ia beli di kedai kue dekat sini, dan itu atas rekomendasi Kevin. Beruntung lah mereka, penjual kedai bisa berbahasa Inggris walaupun sedikit, sama seperti nya, jadi dia tak perlu kesusahan.
Saat sedang menikmati pemandangan di depannya sambil memakan kue berbentuk ikan yang berisi pasta kacang merah itu, seorang gadis kecil tiba-tiba menghampirinya, Sheena cukup terkejut.
__ADS_1
Gadis kecil yang Sheena taksir berusia empat tahun itu hanya diam memandangnya, Sheena mengulum senyum, "Kau mau ini?" katanya menyodorkan kue Taiyaki itu, namun gadis kecil itu menggeleng seakan mengerti ucapannya.
Mereka hanya saling memandang beberapa saat lalu gadis itu memilih pergi, Sheena tersenyum lebar, melambaikan tangannya, tanpa sadar kejadian itu di amati diam-diam oleh seorang pria di dekat meja reception. lalu pria itu ikut mengembangkan senyum saat melihat Sheena tersenyum.