
Pagi hari ketiga di kota tokyo, Sheena bangun dengan wajah lebih ceria, ia meregangkan otot-ototnya sejenak, melongok ke samping matanya tertumbuk pada syal merah di atas nakas, seketika ia mengembangkan senyum.
Sheena menggelung rambut panjangnya menjadi cepak asal, membuka tirai jendela menatap pemandangan yang senantiasa memanjangkan matanya. Rasanya ia ingin terus berada di sini, Ah, keindahannya tak bisa Sheena lupakan.
Seperti biasa ia akan keluar dan mengetuk pintu kamar Jayden, menyiapkan kebutuhan pria itu, sebagai asisten pribadi yang siap siaga tentunya. Namun saat ia keluar, ia berpapasan dengan Kevin.
"Oh Kevin, selamat pagi," Sheena tersenyum cerah.
"Selamat pagi juga Na." Kevin ikut mengembang senyum. Namun wajahnya menunjukkan keresahan, Sheena menyadari itu.
"Ada apa? kamu sepertinya buru-buru sekali?" tanya Sheena.
"Oh, ya Na, ada pekerjaan mendesak yang harus ku selesai kan, aku pergi dulu ya." pamitnya, Sheena mengangguk meski agak melongo karna heran.
Namun baru beberapa langkah Kevin berhenti. "Oh ya, kamu tidak perlu ke kamar tuan, beliau sudah pergi pagi-pagi sekali," katanya menoleh pada Sheena lalu berlalu pergi dengan langkah tergesa.
Sheena terdiam sesaat lalu membuang nafas ke udara, kembali masuk ke dalam kamarnya. Kedua pria itu seperti biasa, selalu sibuk.
Sheena akhirnya lebih memilih untuk duduk di sofa gantung dekat balkon, membaca buku novel yang memang sengaja ia bawa, meski tak terlalu suka baca, Sheena menyukai novel romantis, dan jika dia sedang menyukai satu judul dia akan membacanya sampai tuntas, seperti saat ini, ia sedang membaca novel dari penulis terkenal, favoritnya.
Setengah jam memusatkan pikiran dari setiap deretan kata yang ia baca, hingga suara ketukan di pintu membuat fokusnya buyar seketika.
Sheena berdecak, inilah yang dia tidak suka, saat membaca novel ada saja yang menganggu hingga dia tidak bisa meresapi setiap kejadian yang ada di novel itu. Padahal lagi ngehalu bareng babang Lee Jong-suk, ck,ck!
Suara ketukan itu semakin kencang berubah seperti gedoran, Sheena mengernyit, lalu berteriak pelan. "Ya, sebentar!"
Sheena membuka pelan pintunya sampai setengah, matanya membulat ketika melihat siapa yang ada di depannya sekarang ini.
"Di mana Jayden?!"
...----------------...
Beberapa jam sebelumnya ....
Vania menelpon entah yang ke berapa kali nomor dengan nama yang tertera 'My hubby' di ponselnya, namun tak peduli sebanyak apapun Vania menghubungi nomor itu, tak ada jawaban sama sekali.
__ADS_1
Vania berdecak kesal, wajahnya memelas menatap wanita berumur yang masih terlihat awet muda di sampingnya.
"Mommy, gimana ini? Jayden gak ngejawab panggilan aku sama sekali, rengeknya seperti anak kecil.
Sang mommy menggeleng akan rengekan putrinya itu. "Lagian salah kamu sendiri, kenapa sekarang baru ngejar-ngejar? kemana kamu saat Daddy mu hendak menjodohkan kamu duluan dengan Jayden?" ujarnya tak habis fikir.
"Bisa gak sih mom gak usah ungkit-ungkit yang itu, kan udah aku bilang mana aku tahu kalau ternyata cowok yang akan Daddy jodohin ke aku itu ternyata tuan Jayden?!" sungut Vania.
Lalu wajahnya berubah menjadi pias. "Mom, pokoknya aku gak mau tau jodohkan kembali aku sama Jayden mom, aku harus menjadikan nya suamiku dan menggaet nya lagi ke dunia modeling."
"Dengan begitu aku punya tameng besar mom, dan karier model ku juga bisa semakin cemerlang!" lanjut Vania dengan bersungguh-sungguh.
"Lah selama ini kamu ngejar Jayden bukan karena cinta sama dia?" tanya Karina, ibu Vania.
Vania tiba-tiba mendengus. "Oh my God, mom yang benar aja dong? mana ada yang namanya cinta di dunia ini? semuanya hanya kebohongan mom, kita hanya memanfaatkan satu sama lainnya."
"Jadi begini mom, CEO agensi ku, Vvnia Calrd meminta ku menjerat Jayden agar bisa mengontrak kerja sama dengannya, jika aku bisa menarik Jayden dan plus bisa membuat pria itu menjadi suamiku aku akan punya privilege yang tinggi dan karier ku akan semakin melejit." tuturnya dengan menggebu-gebu.
Nyonya Karina mengelus dadanya,tak habis fikir. "jadi kamu mau manfaatin Jayden doang?"
"Ya, gak dong mom," tampiknya. "Aku juga ingin pria itu jatuh di bawah kakiku."
Nyonya Karina menggeleng pelan. "Mommy gak habis fikir, cobalah kamu kejar dia sekarang, karna jika kamu kecolongan itu akan sangat rugi."
"Hah? memangnya kenapa mom?" Vania berseru kaget.
"Baru-baru ini mommy mendapat kabar kalau Jayden sedang bersama seorang gadis saat ini, adik mu juga kemarin cerita ke mommy sambil bersedih katanya dia melihat Jayden bersama seorang wanita di mall."
"Kamu harus bergerak cepat sebelum wanita itu yang akan mengisi hati jayden."
Vania menggeleng dengan menatap sengit. "Itu gak akan pernah terjadi mom."
"Mommy tahu siapa gadis sialan itu?" tanya Vania berapi-api.
Dahi nyonya Karina mengkerut, mencoba mengingat. "Kalau tidak salah katanya dia adalah asisten pribadi Jayden, tapi hubungan mereka seperti sepasang kekasih."
__ADS_1
"Oh ya, mommy ingat dari mata-mata Daddy mu."
"Nama gadis itu ... Afsheena."
...----------------...
Dan di sinilah Vania berada, bermodal dari informasi mata-mata ayahnya, Vania nekat menyusul Jayden ke Jepang setelah tahu bahwa pria yang sedang di incarnya itu pergi bersama gadis yang sama dengan yang di ceritakan mommy nya.
Beruntung nya detektif suruhan ayahnya bergerak cepat mengetahui di mana hotel tempat mereka menginap dan di mana tepatnya gadis itu berada. Vania di sini untuk mencari Jayden sekaligus memberi gadis kampungan itu peringatan.
Sementara Sheena menatap was-was wanita dengan rambut bercat ungu yang sekarang duduk di depannya ini, masalahnya wanita ini membawa pasukan bodyguard nya dengan badan besar dan berkepala plontos di sekitarnya, Sheena bergidik ngeri melihat orang-orang ini.
"Di mana Jayden?" tanya Vania lagi bersidekap dada dengan wajah judesnya. Sheena sudah bisa menebak wanita ini seperti tokoh wanita antagonis di film-film atau komik romantis yang selalu ia lihat.Vibesnya memang beda.
"Maaf ya sebelumnya, jika kamu mencari tuan jayden, ya kamu carilah sendiri, kenapa tanya saya?" ucap Sheena yang mulai eneg dengan wajah songong yang di tampilkan wanita itu.
"Heh, berani ya kamu? kurang ajar banget kamu bicara?!" desis Vania, tersinggung.
"Ya kan anda nanya, saya jawab, apa masalahnya coba?!" sungut Sheena tak mau kalah.
Pfffft! terdengar kekehan tertahan di belakangnya, seketika Vania menatap tajam. "Diam kalian semua!" dan seketika menjadi hening.
Sheena berjengit dengan mata bulatnya yang mengerjap-ngerjap. "Buset, nenek lampir inimah!"
Vania berdeham keras dengan raut wajah serius, niatnya hendak menggertak gadis itu malah dirinya yang merasa di permalukan, sialan!
"Dengar ya wanita udik, aku ini calon istrinya Jayden, dan aku memperingatkan mu untuk menjauhi calon suamiku jika kau masih sayang nyawa!" tukas nya bernada ancaman.
"Buset ancaman nya nyawa, hahaha!" tiba-tiba Sheena tertawa membuat Vania berjengit heran sedang kan para bodyguard nya di belakang sangat tersiksa untuk tidak ikut tertawa, karna jujur saja suara tawa gadis itu menular.
"Hei, kenapa kau tertawa? kau mau mati ya?!" delik tajam Vania. sial lagi-lagi dia merasa di permalukan!
"Aduh abisnya kamu lucu banget, lagi bercanda ya? kita bahkan gak kenal, kamu datang-datang bikin rusuh, suruh ngejauhin tuan Jayden tanpa alasan, ngaku-ngaku calon istrinya pula."
"Kita sama loh, hahaha sama-sama doyan halu," lanjut Sheena masih setia dengan tawanya.
__ADS_1
"Heh!" Vania menggebrak meja. "Kamu pikir ancaman ku cuma main-main saja hah?!"
"Ini peringatan yang pertama, jauhi Jayden, jika kau tak menuruti juga .... kau akan habis dengan ku."