Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Mengingat kenangan menyakitkan


__ADS_3

"Ingatlah ini Jayden, pulihkan kekuatan mu segera, organisasi butuh pemimpin yang lebih kompeten, dan ingat selalu pesan kakek, jangan pernah taruh yang namanya perasaan di dalam dirimu."


"Perasaan hanya akan menjadi batu penghalang, mafia seperti kita tidak pernah memiliki yang namanya perasaan, apalagi cinta, kau mengerti?!"


Jayden hanya diam, sang kakek kemudian geleng-geleng kepala, lalu mulai menyuruput teh hijau yang sudah di siapkan sebelumnya.


Jayden, sejak kecil adalah seorang yatim-piatu, tak ada hubungan darah di antara mereka, tapi bisa di bilang mereka adalah kerabat, sejak dulu Jayden tahu dirinya hanya di manfaatkan, di asah seperti batu yang kemudian menjadi permata, untuk memimpin sebuah organisasi gelap yang kekejamannya sudah merajai dunia.


Sejak dulu juga, hubungannya dengan kakeknya selalu lah dingin, karna kerasnya didikan, juga jarangnya mereka bertemu, membuat mereka selalu kehilangan topik saat bicara. Hanya membicarakan bisnis atau urusan organisasi saja Jayden bisa sedikit membuka mulut.


"Lalu bagaimana dengan pasokan persenjataan juga obat-obatan,apa sudah di kirim?"


"Sudah, kau tenang saja, para anggota sudah menjalankan tugas mereka dengan baik."


"Hhhmm, baiklah." Kakek mengangguk-angguk sambil mengusap jambangnya yang mulai tumbuh.


"Jika seperti ini baru anak itu akan membuka mulut. Benar-benar pria yang apatis." Batin kakek.


"Bukankah kau harus kembali ke Monaco besok pagi? Lebih baik kakek kembali dan istirahat saja," ucap Jayden dengan masih tetap bergeming.


"Kau benar, kakek mampir ke sini hanya sebentar untuk memantau perkembangan mu saja. Kalau gitu kakek akan kembali."


Lalu mereka berdiri, kakek memakai tongkatnya kembali, Jayden memanggil asisten kakek untuk menuntunnya ke mobil, di teras, sebelum berpisah kakek berbalik untuk mengatakan sesuatu.


"Ingat selalu apa yang kakek katakan, Daniel."


Jayden tertegun, mata tajam bak elangnya sedikit terbuka, saat kakek memanggil nama aslinya. Itu berarti Jayden harus benar-benar serius untuk mengingat pesan kakek tadi.


"Baiklah,akan aku ingat."


Kakek lalu masuk ke dalam mobil setelah beberapa kali menepuk punggungnya, asisten kakek menunduk memberi hormat, Jayden hanya mengangguk.


Setelah mobil kakek pergi menyisahkan kepulan asap yang bahkan tak menganggu Jayden. Pria itu bergeming dengan tangan mengepal erat.


Daniel. Nama itu bahkan sudah tak pernah Jayden ingat lagi. Rasanya mengingat kembali membuat kepala Jayden seperti di hantam ribuan karang, sangat menyakitkan. Membuat darah mendidih, dengan amarah yang siap melesak hingga ke ubun-ubun.


Kisah kelam di balik nama itu, Jayden ingin menguburnya hingga tak tersisa. Dia benci,marah, dadanya bergemuruh tak beraturan.

__ADS_1


"Lapor tuan ... " seorang bawahan menghadap ke arahnya dengan hormat.


"Apakah gadis itu sudah pulang?" tanya Jayden.


Bawahan itu mengangguk. "Sudah tuan, pak Kevin yang langsung mengantarnya sesuai perintah anda."


"Bagus. pastikan Kevin mendapatkan alamat gadis itu."


"Siap tuan!" bawahannya lalu berlalu setelah Jayden mengangguk.


Tangan kokoh Jayden merogoh saku celananya, mengambil sebuah anting perak berkilau dan memperhatikannya sejenak.


Setelah menarik perhatian seorang Jayden Alexander, tidak mungkin gadis bernama Afsheena Daisy itu bisa kabur darinya.


Tidak akan pernah bisa.


"Mungkin, kita akan bertemu lagi, nona pengantin tidak waras." Jayden menyeringai devil.


***


"Turunkan aku di sini saja," ucap Sheena pada Kevin yang sedang menyetir.


"Eh, emang sudah sampai ya?" tanya Kevin menghentikan laju mobil.


"Belum sih, tapi gak apa-apa, di sini saja deh," ucap Sheena merapikan gaun pengantin yang ada Tote bag, bersiap akan keluar.


"Eh, tunggu nona. bukankah lebih baik saya antarkan saja sampai rumah." Kevin tersenyum lebar, berusaha membuat Sheeena percaya. Tuannya sudah memerintahkan agar dia mendapat alamat gadis ini.


"Aduh, gak usah repot-repot gitu tuan dermawan." Sheena tersenyum, menepuk-nepuk punggung Kevin dengan sedikit brutal, membuat Kevin terbelalak hampir terjengkang.


"Gilak! gadis ini titisan Hulk atau bagaimana?!"


"Aduduh, sakit non." mengeluh dengan suara parau.


"Eh, emang kekencangan ya? maaf-maaf, hehehe, abisnya kamu dermawan sekali, terimakasih ya, tapi biarkan aku turun sampai sini saja." tersenyum dengan gigi berderet rapi.


Kevin hanya cengengesan tidak jelas sambil memeluk bahunya yang terasa sangat sakit, jika seperti ini dia tidak akan mendapatkan informasi di mana rumah nona ini, dan pastilah pukulan dari Jayden akan berpuluh-puluh kali lipat lebih sakit jika dia pulang tidak membawa informasi itu.

__ADS_1


"Eh, nona Sheen, tunggu!" Kevin menarik ujung baju Sheena membuat gadis itu seketika menoleh.


"Bagaimana kalau saya antar saja sampai depan rumah, biar saya nya juga tenang." kilah Kevin,dia tidak mungkin pulang tanpa hasil.


"Hmmp, gini ya, aku gak mungkin pulang sampai depan rumah, sama lelaki yang gak di kenal, ku beri tahu kau, ayahku sangat posesif, dia akan marah jika putrinya yang di sayanginya ini pulang dengan lelaki tidak di kenal." bisik Sheena berkelakar.


"Jadi, kau pulang saja ya, terimakasih atas kedermawanan mu."


Sheena tetap berupaya untuk senyum, meski tak di pungkiri ada sesak yang kini menggerogoti, mengingat pernikahannya yang batal, bagaimana dia bisa menghadap sang ayah?


"Baiklah kalau begitu aku pergi, sampai kan juga terimakasih ku untuk tuan Jayden. bayy." Sheena melambai pada Kevin lalu berbalik dan pergi. Beruntung dia di pertemukan dengan orang-orang baik seperti mereka, Sheeena amat bersyukur.


Kevin menatap kepergian gadis pemilik kaki jenjang itu dengan mata lesu. Dia tidak bisa memaksa lagi, tapi minimal dia tahu di mana tempat gadis itu tinggal. Meskipun tak sampai pada alamatnya, pada akhirnya Kevin pergi, melajukan mobilnya kembali.


***


Di ruang kerjanya Jayden menatap ke arah langit-langit dengan perasaan gamang. Mempunyai paras digilai kaum hawa, tubuh atletis, harta berlimpah serta kekuasaan berlebih tak serta merta membuat hidupnya di liputi bahagia, yang ada hanya lara dan kesepian yang kian waktu semakin mencekik dirinya.


Tumbuh tanpa merasakan kasih sayang orang tua juga trauma masa lalu menjadikan ia pria yang kaku, apatis dan dingin. Jika saja kejadian lima belas tahun lalu itu tidak terjadi, kecelakaan yang merenggut nyawa orang tuanya juga separuh hidupnya.


Jika bukan karna harapan akan perjumpaannya kembali dengan gadis yang ia temui lima belas tahun lalu itu, sudah pasti Jayden tidak akan bisa bertahan hingga saat ini.


Namun harapan hanya tinggal harapan. Karna hingga detik gadis yang selama ini ia cari, ia harapkan kehadirannya tak pernah muncul ataupun ia temukan keberadaannya.


"Nanti kalau aku udah gede, aku bakal nikah sama kamu."


"Beneran? kakak serius?"


"Tentu saja, kata ayah, seorang pria akan selalu berpegang teguh pada Perkataannya."


"Baiklah, kalau begitu aku akan menunggu kakak."


Mata Jayden yang semula memejam terbuka lebar, bayang-bayang serta potongan percakapan itu kembali datang dalam pikirannya menganggu alam bawah sadarnya hingga kini nafasnya semakin tercekat dengan rindu yang semakin mendera.


Ia kemudian bangkit menopang siku dengan kedua tangan mencengkeram kepalanya kuat-kuat. Tak ingin kenangan itu kembali datang.


"Kayla, sebenarnya di mana kamu berada?"

__ADS_1


__ADS_2