
POV Kanaya
Aku duduk dengan gemetar, melihat layar ponsel berlogo Apple itu sekali lagi, dentuman keras langsung menghantam jantung ku yang sudah tua, ini bukanlah mimpi.
[Semua kebusukan mu akan terbongkar sebentar lagi, gadis itu kini sedang mencari mu.]
Dada ku tiba-tiba berdesir, ada perasaan aneh yang seperti menggiring ku hingga ke dasar jurang.
Ini adalah sebuah ancaman, tentang kejadian lima belas tahun lalu, aku sangat yakin. Padahal aku sudah melupakannya, kenapa laki-laki tua itu mengingatkan nya lagi.
Gegas, ku tekan nomor tidak di kenal yang mengirimkan pesan itu, perasaan ku sudah tak karuan, aku yakin ini adalah ulah mafia itu. Sialan!
Sambungan telepon terjalin, aku menempelkan layar ke telinga.Suara tak asing mulai menyapa.
"Kanaya, bagaimana kabar mu?"
"Breng*sek, ternyata benar ini ulah kau?" Seruku dengan marah. Terdengar suara kekehan yang memuakkan di sana.
"Padahal kita sudah sama-sama tua, tapi kau tetap kasar seperti dulu."
Aku menggeram, benar-benar marah kali ini, padahal tahun sudah berlalu panjang, aku pindah dari tempat kelahiran ku ke kota ini untuk menghindari semuanya, tapi lelaki bau tanah ini, kenapa bisa mengetahui keberadaan ku?
Ah, aku melupakan status nya yang seorang mafia besar, tentu dengan kekuasaannya ia bisa mengetahui jejak ku dengan mudah.
"Katakan apa maumu, kenapa kau mengirim pesan semacam itu? Ini sudah bertahun-tahun lalu, tak ada yang perlu di bicarakan lagi." Ku netralkan suara agar tidak terdengar gugup, bagaimana pun aku harus tetap tenang.
__ADS_1
"Sudah ku duga, kau akan langsung paham dengan pesan yang ku kirim dengan sekali membacanya." Terdengar dengkusan di sana.
"Jangan berkelit!" Ku sentakan suara agar pria di seberang telepon ini paham bahwa aku muak dengannya.
"Baiklah kita serius sekarang. Cucumu yang selama ini hilang telah kembali, dia masih hidup sampai sekarang dan sedang mencari mu."
Deg! Perasaan ku jadi tak karuan, apa-apaan ini?
"Kejadian lima belas tahun lalu sebentar lagi terungkit kembali ... Dan siapa pelakunya akan di temukan."
Aku masih bergeming, suaraku tercekat, benakku berkecamuk seakan kejadian di masa lalu seperti membayang lagi di ingatin. Mendadak tensiku naik, Ah tubuh ringkih ini sudah benar-benar tua.
Ku dudukan bokong di kursi, aku memijat pelipis yang berdenyut, sebelum aku menjawab, si mafia tua bangka itu berbicara lagi.
Ah, aku melenguh panjang, ini gila, ya aku hampir gila karena semua ini.
Lagipula apa lagi yang harus di ungkit dari kejadian lima belas tahun lalu itu? toh keempat orang itu sudah mati, mereka sudah tenang di alam sana. Cih, benar-benar menyebalkan.
Semuanya ini berawal dari sana, andai saja putri ku Adelia mau mendengar perkataan ku, andai saja ia tak membangkang, ini semua tidak akan terjadi, dia akan tetap hidup dan putri nya pasti akan ku akui sebagai cucuku.
Ah, pada akhirnya potongan puzzle ingatan itu terkumpul lagi, kejadiaannya lebih dari dua puluh lima tahun lalu, di saat dia lebih memilih lelaki miskin yang hanya seorang putra tukang kebun daripada aku ibunya.
"Kenapa harus dia, kenapa harus cakrajaya? dia hanya pemuda miskin yang ayahnya adalah tukang kebun di rumah kita, apa kau sudah gila?!"
Kemarahan ku saat itu sangat meluap-meluap setelah mengetahui hubungan putri ku Adelia dengan pemuda yang bernama cakrajaya, entah berawal dari mana hubungan mereka hingga aku memergoki keduanya yang duduk berdekatan di taman, lalu menemukan surat-surat cinta memuakkan di kamar putri bungsu ku itu.
__ADS_1
"Tapi aku mencintainya mah, dia lelaki yang baik, terlepas dari status nya dia adalah pemimpin yang pas untuk ku."
"Halah cinta, tau apa kau? itu hanya cinta monyet sesaat, dari pada putra keluarga adinata kau malah lebih memilih si anak tukang kebun itu? benar-benar bodoh!" kesal ku saat itu, padahal Adelia adalah tuan putri di keluarga, ia paling di manja karena anak terakhir, aku tak pernah membentak nya sekalipun jika ia melakukan kesalahan, tapi kali ini aku benar-benar kecewa padanya.
Adelia tak mau mengerti, dia tetap bersikukuh pada pendiriannya, lalu tanpa sepengetahuan ku mereka berdua menikah secara diam-diam, seketika aku naik pitam, ku tarik lengannya di hadapan semua orang aku mengusirnya, mencoret namanya dari keluarga Pradipta, biar dia tahu hidup bukanlah tentang cinta saja.
Keduanya lalu pergi, tanpa sepeserpun uang dariku, biarlah orang-orang mengatakan aku tega, karena membuang anak sendiri, toh dia lebih memilih pemuda itu dari pada aku, ibunya.
Bertahun-tahun berlalu, Adelia dan suaminya tak pernah terdengar lagi olehku, hingga akhirnya aku bertemu dengan cakrajaya di sebuah seminar, secara tak sengaja.
Mereka sudah dalam puncak kejayaan, itulah yang kutahu dari orang-orang, bisnis kecil-kecilan yang di kelola cakrajaya berkembang pesat hingga ia mengembangkan perusahaan besar, yang sialnya kini malah bersaing di perusahaan ku.
Di seminar itu cakrajaya memperlakukan ku seperti menantu teladan, tapi itu memuakkan untuk ku, apalagi mendengar komentar miring orang-orang yang menyudutkan ku, sampai akhirnya aku terbakar dendam ku sendiri, terlebih saat aku mengetahui proyek besar yang sedang ku kembangkan gagal itu semua karena cakrajaya yang mengambil sponsor juga investor ku.
Di pasti sengaja melakukan itu karena ingin melihat ku hancur, sialan memang!
Brengs*ek! makiku saat itu. Di keluarga Pradipta, setelah suamiku tiada saat Adelia menginjak remaja, akulah yang menjadi tulang punggung keluarga, menjadi wanita karir yang sibuk untuk kedua anak ku, Rayhan dan Adelia, tapi kini salah satu dari anakku telah mempermalukan ku dan itu membuat ku gelap mata.
Setelah seminar yang membuat harga diri ku jatuh terjun bebas ke bawah tanah, saat itu aku nekat menemui seorang mafia yang kabarnya sangat senter terdengar, namanya juga terkenal di antara pebisnis kelas atas, Yudistira Alexander.
Entah apa yang ku pikirkan saat itu, aku memintanya untuk melenyapkan keluarga cakrajaya, termasuk putrinya yang bernama Kayla Pradipta, cih bahkan aku tak sudi jika nama keluargaku di sematkan pada Putri mereka. Andai saja dia putri Adelia bersama pria lain, aku akan mengakuinya sebagai cucuku dan menyayanginya.
Sesuai yang ku mau pria itu menyetujuinya setelah imbalan setengah saham perusahaan ku jatuh ke tangannya, biarlah aku harus membayar mahal asal sakit hatiku bisa terbayarkan.
"Tapi aku minta, agar pembunuhan ini lebih terdengar jelas seperti kecelakaan, aku tak mau kau langsung membantai mereka, itu akan menjadi berita yang gempar," pintaku pada mafia itu.
__ADS_1