
Mata bulat Sheena melebar sempurna, ia mengerjap-ngerjap, terkejut sekaligus tidak percaya. Pria ini, Lelaki dingin ini sedang menciumnya? Yang benar saja!
Sementara Jayden cukup lama bergeming dalam posisi itu, tak ada pergerakan, bibir mereka hanya saling menempel saja, cukup lama hingga akhirnya Jayden menarik diri lebih dulu.
Pria itu pun baru tersadar apa yang dia lakukan. Kecanggungan luar biasa menyerang keduanya.
Jayden mengusap tengkuknya, kentara sekali semburat merah yang terlukis jelas di pipi juga telinganya, pun sama hal nya dengan Sheena, dada gadis itu berdebar sangat kencang.
"Anu ... tuan?"
"Kembali lah ke kamar mu, ini sudah larut." sebisa mungkin Jayden tak ingin bersitatap dengan gadis yang tinggi nya bahkan tak sampai ketiaknya.
Dengan cepat Sheena mengangguk, jantungnya semakin berdebar menggila. ia takut jika bisa terkena serangan jantung saat ini juga.
Sheena cepat-cepat melangkahkan kaki, melewati lelaki itu, Jayden hanya menatap punggung Sheena yang semakin menjauh.
Pria itu mendesah pelan, sebelum akhirnya kembali menaiki tangga, kembali ke kamarnya. Sebenarnya mansion ini punya dua alternatif untuk mencapai setiap lantainya, satu dengan tangga dan satu dengan lift, namun Jayden lebih nyaman menggunakan tangga jika hanya untuk ke lantai dua, sementara tiga lift di sini terkadang di pakai untuk para pekerja di lantai paling atas.
Hidup dalam kemewahan dan bergelimang harta tak serta merta membuat Jayden bahagia, mungkin sedikit rasa kepuasan, sisanya hanya kesepian yang semakin berjalannya waktu semakin menggerogoti.
Namun semenjak kehadiran gadis yang bernama Afsheena, semuanya berubah. Jayden tak bisa lagi mengendalikan ekspresi juga perasaannya.
Padahal selama ini Jayden selalu terang-terangan jika dia tak mempunyai hati, mafia berdarah dingin seperti dirinya tak mungkin memiliki perasaan apalagi yang namanya cinta.
Namun kini, akankah menelan omongannya sendiri?
...----------------...
Sheena menutup pintu kamarnya rapat-rapat, tubuh gadis itu merosot, bersandar pada daun pintu.. Adegan ciuman itu seakan seperti kaset lama yang kembali terputar, sangat jelas, seakan-akan dia masih mengalaminya. Rasanya juga, rasa asing yang begitu manis.
"Barusan ... tuan Jayden mencium ku?" ia meraba bibirnya sendiri.
Jujur saja ini adalah first kiss nya. Pria tirani itu telah mencuri first kiss nya.
Bahkan selama dekat dan menjalin kasih dengan Andre dulu, pria itu tak pernah menciumnya, entah karena memang dia bukanlah gadis yang di cintai Andre atau memang karna mereka tak pernah mengikuti gaya berpacaran zaman sekarang.
Apapun itu Sheena sangatlah terkejut, pria ini adalah pria asing dan dia baru saja mencuri sebuah ciuman darinya dan itu adalah kali pertama untuknya.
"Bibir tuan Jayden, terasa begitu dingin." Sheena bahkan lupa untuk berkedip.
"ARRGGHH!" Sheena tiba-tiba berteriak kencang, suaranya bahkan terdengar sampai ke luar.
__ADS_1
Tok! tok! terdengar ketukan di pintu kamarnya, Sheena tersadar lalu membuka pintu dengan perlahan.
"Nona Sheena ada apa?" kenapa tiba-tiba anda berteriak?" beberapa maid mengerumuni di depan pintunya.
Sheena mengigit bibir, merasa tak enak telah menganggu tidur mereka. "Gak kok, gak apa-apa, tadi ada kecoa, hehehe." kilahnya sampai tertawa.
"Benar nona tidak apa-apa? suara nona keras sekali loh, untung kamar tuan Jayden kedap suara, jadi tidak menganggu."
Pupil matanya Sheena melebar, gadis itu tersenyum canggung. "Maaf ya."
Salah satu di antaranya mereka menggeleng. "Tidak masalah, tapi kami khawatir, nona benar tidak apa-apa?"
Sekali lagi Sheena menggeleng, orang-orang di sini sangat baik padanya, kecuali tuan dingin itu, mungkin?
"Ya sudah, kalau ada apa-apa jangan segan untuk menghubungi kami nona."
"Oh ya tentang kecoa, saya akan mencoba menghubungi petugas kebersihan untuk datang kemari."
Sheena tersenyum mengangguk, padahal tempat ini sangatlah bersih, tak mungkin ada kecoa di dalamnya, kebohongannya terlalu cetek, dan ajaibnya mereka dengan mudah percaya.
"Ya sudah kalau begitu. Selamat malam nona."
Brak! Sheena menutup pintu kembali kali ini cukup kencang.
Sheena berjalan ke arah kasurnya, menaruh tas selempang juga aksesoris di atas meja, nyala lampu ia matikan di gantikan dengan lampu tidur yang remang.
Sheena menenangkan diri dengan cara berendam di bathtub, hal baru ia lakukan belakangan ini, dan itu cukup menyenangkan.
Di dalam bathtub Sheena menenggelamkan setengah wajahnya, bayang-bayang saat ia berciuman dengan tuan Jayden kembali datang.
"Arrgh, aku bisa gila!" sepersekon detik Sheena tersadar, lalu menutup mulutnya. "Ups! gak boleh berisik."
Terkadang Sheena berfikir ini adalah rumah jadi dia belum bisa menghilangkan kebiasaannya untuk selalu tidak teriak dalam setiap keadaan.
Entah, Sheena adalah gadis yang terlalu ekspresif, eh, malah di pertemukan dengan pria yang pasif, cuek, dan dingin seperti kulkas sepuluh pintu.
Lihatlah, bahkan setelah lancangnya telah mengambil ciuman darinya, pria itu tak berkata apa-apa lagi, bahkan tak meminta maaf? haisst, sikap macam apa itu?
...----------------...
Jayden mengusap rambut dengan handuk kecil yang ia bawa. Merasa gerah Jayden akhirnya memutuskan untuk berendam.
__ADS_1
Sialnya bukannya tenang, ia malah merasakan tegang di sekujur tubuh, apalagi di bagian bawah sana. Sialan!
Jayden lalu berlalu ke arah nakas, mengambil sesuatu di dalam laci, seketika Kilauan cantik berwarna biru itu memantul memenuhi ruangan kamarnya yang redup.
Ia mengamati kalung yang ada di depan matanya ini, Jayden jadi teringat betapa Sheena yang sangat kesusahan karna kalungnya itu hilang.
Sebegitu berartinya kah kalung ini?
Jika di lihat-lihat, ini kalung biasa menurut Jayden, ukirannya pun sudah terlihat sangat kuno, kenapa gadis itu kekeuh sekali untuk mempertahankannya?
Namun satu hal yang mengganjal, Jayden seperti pernah melihat kalung ini, tapi di mana?
Kedua mata elang Jayden memejam, mencoba untuk mengingat, bayang-bayang bernuansa abu-abu itu kembali datang.
"Nanti kalau aku udah gede,aku bakal nikah sama kamu."
"Aku bakal nikah sama kamu."
"Bakal nikah sama kamu."
Suara itu mendengung, menggema di sekitarnya. Jayden membuka mata dengan nafas terengah-engah.
Kalung ini, Jayden menatapnya kembali, Jayden pernah melihatnya, tapi ia lupa kapan dan di mana."
"Breng sek!" Jayden mengumpat, mengeratkan kepalan tangannya, seakan-seakan sedang mencengkeram kalung itu.
Matanya lalu tak sengaja melihat sebuah kotak kaca transparan, yang di lapisi beludru, Jayden mengambilnya, terdapat sebuah pita berwarna merah di sana.
Untuk mengenang dan menjaga pemberian dari Kayla, Jayden sampai sengaja mendatangkan pengrajin paling hebat di luar negeri untuk membuat sebuah kotak agar bisa menyimpan kenangan terakhir mereka ini.
Tangan kekarnya perlahan mengusap kotak kaca itu, tanpa berniat untuk membukanya. Pikirannya sedang berkecamuk saat ini.
Apakah ia harus melanjutkan pencariannya terhadap Kayla, menulusuri kembali di mana tempat gadis itu tinggal.
Apakah dia sudah meninggal? atau masih hidup.
Jika dia sudah meninggal, Jayden berharap untuk bisa datang bahkan jika yang terakhir kali ke tempat peristirahatannya.
Atau kalau Kayla masih hidup, ijinkan Jayden untuk membahagiakannya, seperti janjinya lima belas tahun lalu.
"Kayla .... pada akhirnya, aku tak bisa melupakan mu."
__ADS_1