
"Sampai saat ini kamu belum ngasih kepastian Na? wah kebangetan kamu." Rasti yang geram menoyor dahi sahabatnya itu.
"Aw,sakit Ra!" seru Sheena mengaduh.
"Abisnya kamu bikin aku gregetan aja, lalu jangan bilang selama kalian menjalani hubungan dan tinggal bersama, tuan Jayden belum apa-apa in kamu?" Rasti bertanya lagi karena kekepoannya yang semakin dalam, mereka nampak asyik bercerita di kamar yang di tempati Rasti, meskipun kamar tamu ini bisa di perhitungkan sebagai kamar hotel bintang lima, benar-benar mewah.
"Belum di apa-apa in gimana maksudnya?" dahi Sheena berkerut heran.
"Astaga, ituloh nganu-nganu!' perkataan Rasti sungguh sangat ambigu, gadis nampak asyik bermain video game di ponselnya, dengan mulutnya yang tak henti-hentinya mengoceh.
"Nganu-nganu?" Sheena semakin tak paham, sudahlah banyak kejadian yang tak terduga menerpanya kini malah harus menebak-nebak kata dengan Rasti, sahabatnya yang gila.
"Ini gimana sih, apa emang kamunya terlalu polos atau emang bodoh. Itu loh main kuda-kudaan, masa gak paham?!"
Sheena melongos. "Tinggal kasih tau aja to the point, jangan bikin orang emosi deh!"
"Bikin anak Shen, bikin anak!" teriak Rasti frustasi. Hal itu membuat Sheena syok, bahkan sampai tak berkedip.
"Siapa yang mau bikin anak? kamu?" tanyanya dengan wajah polos tanpa dosa.
"Ya Tuhan. Cekik aja aku Shen, cekik aku di rawa-rawa!" Rasti sudah tidak kuat dengan sifat polos sahabatnya ini, sementara Sheena malah tertawa terbahak-bahak mendapat respon Rasti yang seperti itu.
"Biasa aja kalo Ra, aku ngerti kok, cuma tadi lagi bercanda aja." saking kencangnya ia tertawa, sampai memukul-mukul pundak Rasti yang menatapnya malas. kebiasaan!
"Pulang aja lah aku, stres aku lama-lama di sini!"
Rasti sudah siap-siap hendak beranjak, Sheena menahannya. "Jangan begitu dong, maaf deh maaf."
"Makanya yang serius dong." Rasti melongos kembali mengambil ponselnya yang tadi sempat ia lempar, untung gak pecah, mana kreditnya belum lunas lagi.
"Jadi gimana? kamu belum ada interaksi serius gitu sama tuan Jayden?" tanya Rasti, mereka kembali serius bercerita.
"Gak terlalu sih," jawabnya seraya menggeleng.
"Pegangan tangan?" tanya Rasti.
"Pernah, sering malah," jawab Sheena.
"Pelukan?"
"Sering juga."
__ADS_1
"Cium kening, cium pipi?"
"Emm!" Sheena tampak berfikir. "Sering juga."
"Cium bibir?" ini bagian sensitifnya.
Sheena mengiris, mengingat-ingat sungguh meski masih terbilang mudah di usia yang sedang matang - matangnya namun ingatan Sheena terbilang lemah, entah kenapa.
"Pernah, tapi gak sesering itu," jawabnya sambil menunduk malu.
Rasti menggeleng seraya menarik nafas. "sumpah deh, kamu harus banyak nonton film romantis yang ada bagian skinsipnya, kaya 365 days? supaya kamu makin ahli."
"Ahli apaan?"
"Ahli di atas ranjang."
Plak! Sheena yang gregetan memukul pundak Rasti membuat gadis itu mengaduh.
"Aww, apasih Na, sakit tahu."
"Abisnya kamu!" Sheena memicing tajam.
"Kaya gitu gak semudah yang kamu pikirin Ra, tuan Jayden tuh lelaki dingin, dia terlalu cuek sama hal yang seperti itu, di hidupnya cuma pekerjaan, kerja dan kerja."
"Sama kamu." tambah Rasti. "gak liat dia cinta mati sama kamu?"
Sheena mengangguk-angguk. "bener sih, sama aku juga."
"Duh, udah deh gini aja Shen, realistis nya setiap lelaki normal itu pasti memiliki hawa naf*ssu, mungkin dia terlihat cuek sama hal kaya gitu, tapi kamu gak tau aja apa yang dia rasakan aslinya, terlebih lagi kalian sudah pernah di satu ranjang yang sama kan?"
Sheena mengangguk kembali, sudah satu Minggu ini Jayden terlihat sangat sibuk, mereka bahkan bertemu terkadang hanya di meja makan, meskipun kehangatan pria itu tetap sama, bahkan bertambah setiap harinya, Sheena selalu merindukan nya.
"Apa aku terlalu kaku selama ini ya Ra? aku bahkan pernah menolak lamarannya dua kali, tapi dia masih setia untuk menunggu ku."
"Nah itu dia, kurang baik apa coba tuan Jayden, mungkin kalau lelaki lain udah pergi di gantung kaya gitu terus."
"Coba deh kamu sadari realitanya, tuan Jayden tampan bahkan sangat tampan, kaya raya? jangan ditanya, hartanya bahkan gak akan habis untuk cucu cicitnya nanti, terkenal iya, berkharisma, sudah tentu, pemilik perusahaan terbesar di negara, di saat wanita-wanita di luar sana mati-matian mengejarnya dia lebih memilih kamu, yang terbilang gak superior di banding wanita-wanita yang mengejar dia, karena apa? karena kamu cinta pertama dia juga cinta sejatinya."
"Dan lihat? dia setia banget sama kamu, dan kamu malah mengabaikannya."
"Aku tahu alasan kamu untuk menunda pernikahan kalian itu karena kamu ingin mengetahui dulu siapa kamu sebenarnya, siapa orang tua asli mu."
__ADS_1
"Nah sekarang kan udah terungkap semua,kamu masih mau mengabaikan tuan Jayden gitu? kalau pria lain mungkin udah cari yang lebih wow di luar sana, tapi ini gak karena dia tuan Jayden, kurang apalagi coba?"
Perkataan Rasti benar-benar menyadarkan Sheena.
"Kamu benar Ra, gak seharusnya aku melakukan ini terus pada Jayden."
"Nah itu kamu sadar."
"Terus apa yang harus ku lakukan?"
"Kamu harus lebih berani Na."
"Berani?" alis Sheena berkerut.
"Iyah. ibaratnya tuan Jayden tuh gunung es yang sangat susah di cairkan, lalu kamu datang, gunung es itu perlahan mengikis namun belum bisa mencair sepenuhnya, lalu kamu sadar yang harus kamu lakukan itu adalah memberi servis lebih dengan keseksian mu, kecantikan mu, dan sifat berani mu lalu akhirnya gunung es itu akan mencair sepenuhnya."
"Wah, perumpamaan kamu bagus, Ra."
Rasti merasa bangga mencolek hidungnya. "Iya dong, Rasti airana gitu loh, si pakar cinta."
"Lalu, lalu?"
"Nah itu, yang harus kamu lakukan adalah memberikan servis terbaik mu untuk tuan Jayden. kau ngerti kan?"
Sheena mengangguk meski rada tak mengerti, namun ia percaya pada sahabatnya ini.
"Sesekali menyenangkan pasangan itu bukan hal yang salah, cobalah kamu yang memulai duluan, jangan menunggu tuan Jayden yang melakukannya, karena itu sepertinya akan sedikit mustahil, gengsinya terlalu tinggi, dia pandai menahan diri, jadi kamulah yang harus memulai duluan."
"Jangan sampai kamu kalah sama Viona atau Vania yang lebih unggul dari mu dalam hal ini, meskipun tuan Jayden setia, godaan dalam hal hubungan in*tim tidak ada yang tahu, ya kan?"
Sheena mengangguk setuju, ide Rasti ada benarnya juga, sudah saatnya ia menunjukkan pada dunia bahwa ia adalah pasangan yang pantas untuk Jayden.
"Ini." Rasti membawa kotak berwarna abu-abu metalik dari kolong tempat tidurnya.
"Aku sudah menyiapkan sebelum nya untuk mu, tadinya sebagai hadiah untuk pernikahan mu, but tidak salah untuk memberikannya sekarang."
"Apa ini?" tanya Sheena, meraba kotak mewah itu.
Senyuman Rasti agak mencurigakan Sheena lihat. "Kemarilah." Rasti mengayunkan tangannya, isyarat untuk Sheena mendekat.
"Ini ling*erie, pakailah nanti malam, buatlah tuan Jayden bertekuk lutut padamu" bisiknya.
__ADS_1