
Brakk!
"Apa ini? bersenang-senang, memakan es krim selayaknya orang sedang berkencan? kau sudah sejauh ini rupanya?"
Kakek duduk berpangku tangan, mengeratkan tongkat yang di genggamnya, pertanda sedang menahan amarah yang besar.
Jayden bergeming, bukan berarti dia diam tak berkutik, namun ia hanya menunggu sang kakek melampiaskan amarahnya, ia sangat tahu, pria tua itu jika sedang marah bisa berbuat apa saja pada hal yang menimbulkan amarahnya dan ia tak ingin Sheena kena imbasnya.
Di sana, matanya tertuju pada seonggok foto, yang menampilkan dirinya dengan Sheena berjalan siang tadi, keyakinannya terbukti jika para orang yang telah memotret diam-diam itu adalah suruhan sang kakek.
"Mau sampai kapan? jika kau terus begini maka aku sendiri yang akan melenyapkannya."
"Kakek!" suara Jayden tertahan, di kepalnya tangan dengan erat. kali ini ia tak bisa mengontrol lagi emosinya.
"Kenapa? kau tak ingin dia terluka?"
"Kau sudah terlalu jauh jika hanya sekedar bermain-main dengan gadis itu, Jayden. Sudah ku ingatkan berkali-kali, jangan menaruh perasaan yang namanya cinta!"
Jayden tak mengerti, juga tak ingin faham kenapa sejak dulu lelaki paruh baya itu sangat benci dengan perasaan alami manusia itu, sampai-sampai dirinya lah yang menjadi keegoisannya.
Kakek bukannya tak mengerti, seminggu terakhir mengamati, ia tahu Jayden menaruh perhatian lebih pada gadis udik ini, ia pun sudah mencari seluk-beluk Sheena tentang siapa orang tuanya juga pekerjaannya, dan itu sangat jauh dari standar yang di berikan untuk sang cucu.
"Aku tak akan cepat- cepat melepaskannya, terkecuali ... "
Hening, kakek diam sejenak, menatap pemuda yang dulu hanya sebatas pinggangnya saja namun kini sudah menjulang tinggi dengan wajah yang sudah berubah. Haaah! waktu berlalu sungguh sangat cepat.
"Kecuali, kau mau menghadiri makan malam undangan tuan David malam ini, dan mau beramah tamah dengan tunangan mu, Viona."
__ADS_1
Jayden menggertaknya gigi dalam kemarahan rahangnya mengeras seketika. bukan, bukan karna ia takut pada ancaman sang kakek, tapi ke lebih .... dia tak ingin Sheena terluka.
Karna hanya pada gadis itulah Jayden merasakan hal yang berbeda, kejenuhan dalam menjalani hidup tak ia temukan lagi ketika bertemu Afsheena, kekonyolan juga tingkah ceria ektra gadis itu telah membawa perasaan hangat tersendiri untuk Jayden.
Jayden menghela nafas sejenak.
"Baiklah .... malam ini, aku akan menemui tunangan ku itu."
...----------------...
Jarum jam malam ini menunjukkan angka ke delapan lewat sepuluh menit, Sheena duduk di sofa ruang tamu dengan bosan.
Seperti yang tuan dingin itu katakan, ia harus menunggu kedatangannya, mungkin juga terkait dari perjanjian. Sheena yang pada dasarnya memiliki waktu banyak karna tak punya pekerjaan apa-apa merasa bosan menunggu kedatangan pria itu.
Jangan di tanya apakah dia sudah menjalankan tugasnya sebagai ART atau belum? jawabannya sudah. mungkin tidak ada yang percaya jika dia ceritakan, tapi ke seluruh ruangan mansion ini Sheena lah yang bereskan, Ya, dan itu tanpa bantuan maid lain.
Dan lebih gilanya lagi, Jayden mentitahkan jika Sheena harus menyelesaikannya sendiri tanpa bantuan dari maid lain.
Ya, mungkin bukan maksudnya Sheena tak mampu, di tukang makan, tenaga yang di milikinya pun tentu saja berbeda dari wanita kebanyakan, mungkin benar kata Rasti dia adalah titisan Samson. Tapi tetap saja, ini dua kali dalam seminggu? Sheena sepertinya akan bernegosiasi kembali terkait kesepakatan itu.
Tujuh jam ia habiskan terpekur di ruang tamu seluas lapangan bola ini, Jayden bilang dia boleh melakukan apapun untuk mengusir bosan, asal tidak membahayakan. Jadilah Sheena menonton siaran TV di tabung tipis 50 inci itu, memakan cemilan yang ia beli tadi siang, lalu menonton televisi kembali yang menayangkan drama Korea kesukaannya, atau saat ia jenuh ia akan berjalan-jalan di sekitar mansion yang megah melihat kembali lukisan juga artefak Eropa kuno yang memang terpajang di sini. Baiklah, anggaplah ia tak tahu diri karna seperti menganggap tempat ini rumah sendiri.
Tapi .... ini seru! meski ada rasa tak enak, tapi toh Jayden sendiri yang memerintahkan, asal dia tak mencuri sesuatu, tak apa kan?
Deru mesin mobil terdengar saat Sheena sedang rebahan di kursi, ia buru-buru menegakkan badannya, dan berlari ke ambang pintu, beberapa maid juga mengikutinya, memberi salam hormat pada Jayden yang kini sedang berjalan ke arah mereka.
Entah kenapa .... Ya, tugas sebagai seorang Presdir itu pasti berat apalagi perusahaan yang di pimpin adalah perusahaan besar, namun tak terlihat sedikit pun garis lelah dari wajah tampan pria itu, Sheena bingung sekaligus takjub, bahkan wajah pria itu terlihat sangat segar, seperti seseorang yang habis melakukan refreshing.
__ADS_1
"Selamat malam tuan," dua maid itu memberi salam hormat, Sheena yang tak mengerti akhirnya ikut-ikutan saja, mungkin kedepannya dia akan terbiasa dengan ini.
Dua orang maid itu mengambil tas kerja Jayden dan membantu pria itu melepaskan tuxedo nya, Sheena memperhatikan, memang beginilah cara orang kaya menghabiskan uangnya.
"Kenapa kau diam di situ saja?"
"Eh, ya tuan?"
"Apa kau sudah melakukan pekerjaan mu?"
Sheena mengangguk semangat. "Ya sudah tuan. Lihat kinclong kan, hehehe," pungkasnya merentangkan tangan agar Jayden melihat jerih payahnya sejak siang tadi.
"Bagus."
Kruk! kruk! terdengar suara aneh yang ternyata timbul dari perut Sheena, gadis itu lapar. tentu saja, dia belum makan Karna menunggu Jayden.
"Kenapa? kau belum makan?"
Sheena menggeleng. "Belum, kan kata tuan ingin makan malam bersama."
" Bodoh, harusnya kau tidak menunggu ku." suara Jayden sedikit di sentak hingga membuat Sheena kaget.
Menyadari ia membuat gadis itu terkejut, Jayden menghela nafasnya kasar.
"Makanlah sendiri, aku ada urusan malam ini."
Baiklah mungkin ... seharusnya Jayden tak mempertahankan Sheena.
__ADS_1