
Mereka keluar dari supermarket, setelah Dimas puas dengan dua kantung belanjaan besar penuh dengan makanan ringan, bocah itu semakin besar kepala saja, pikir Sheena, entah apa yang terjadi di antara Jayden dan adiknya hingga Jayden bersedia melakukan apa saja untuk adik nakalnya itu.
"Hei, bocah kau memangnya berkata apa pada tuan jayden, hingga dia mau mengabulkan semua keinginan mu?" tanya Sheena berbisik, saat ini mereka berjalan beriringan.
Dimas memandangnya dengan tatapan jahil. "mau tau atau mau tau banget?" ledeknya.
Sheena mendelik. "Yang bener kamu! atau mau kakak coret dari daftar adik?"
Kini giliran bocah itu yang mendelik. "Dih maennya ancaman. Ya udah aku kasih tau."
"Itu karena aku manggil om tinggi dengan sebutan kakak ipar. Dah!" tutur bocah itu sambil memakan eskrim.
Sheena mengerjap beberapa saat, sebelum akhirnya pipi kembali merona merah, matanya lalu menatap punggung Jayden di depan, ia menelan ludah yang terasa berat, lalu tersenyum sentimentil, mengungkapkan perasaannya yang terdalam, mengejar langkah sang kekasih, membuat Jayden terperanjat karna kehadirannya.
"Kenapa?" tanya Jayden saat melihat gadis itu yang terus tersenyum.
Sheena menggeleng lucu, dadanya berdebar seraya gerakkan cepatnya melabuhkan kecupan di pipi Jayden, pria itu tertegun dengan tindakan Sheena yang tiba-tiba.
"I love you," ujar Sheena menggigit bibir bawahnya dengan mata berbinar penuh.
"Tidak ku sangka, tuan dingin ini punya sisi lembutnya juga," matanya lagi lalu terkekeh samar.
Jayden terdiam beberapa saat, lalu berbalik menatap penuh selidik kepada bocah yang kini tercengir menatapnya balik. Jayden langsung paham penyebab Sheena yang berbicara seperti itu tadi. Bocah itu pasti sudah menjelaskan alasan mereka membuat janji, pada Sheena.
Benar-benar cenayang!
__ADS_1
*
*
*
Setelah puas berbelanja, kini mereka berada di sebuah wahana permainan yang di adakan di pasar malam dekat alun-alun kota.
Suasana mulai ramai saat ketiganya menjejaki tanah tempat wahana permainan ini, mata Dimas dan Sheena nyaris bersamaan melebar dengan penuh binar kekaguman membuat Jayden di samping mereka, geleng-geleng kepala menatapnya.
"Waaah, keren, wahana permainan nya banyak banget!" decak kagum anak lelaki itu.
Sheena menoleh pada Dimas. " hei, nanti jangan kemalaman loh, jangan sampai buat mamah dan ayah marah. Apalagi jangan lari kemana-mana, kamu biasanya suka ngilang kalau di ajak kesini."
"Ayo, masuk," seru Jayden Membuat kedua adik kakak itu menoleh bersamaan lalu mengangguk semangat.
Suara bising dari sirine permainan langsung menyambut indera pendengaran mereka, sejujurnya Jayden tak pernah datang kesini sebelumnya, di bandingkan wahana permainan,dulu saat ia seumuran Dimas lebih sering berada di perpustakaan, atau mengurung diri seharian di ruang lab meneliti dan menemukan penemuan baru, Jadi ketika di hadapkan dengan situasi seperti ini dia juga sedikit terkejut.
Masa kecilnya yang di habiskan untuk belajar membuat ia merindukan masa kanak-kanak itu. Memang benar sesuatu hal akan terasa penting setelah datangnya kehilangan. Dan waktu tidak bisa di putar kembali, kini hanya tersisa kenangan yang tersimpan rapi di sudut memori.
Mata Dimas langsung berbinar setelah menemukan wahana yang pertama kali yang ingin ia naiki, bocah itu menunjuknya dengan semangat. "Kak, aku ingin naik kora-kora!" teriaknya kepada sang kakak.
Sheena langsung menoleh dan menghampiri. "Kora-kora yang di sana?" tunjuk Sheena lagi, memastikan.
__ADS_1
Dimas mengangguk cepat. "Udah aku bisa sendiri kok kak, kakak berkencan saja om tinggi."
"Hei, bocil, tau dari mana kamu urusan orang dewasa kaya gitu."
"Ck, ck, udah deh kakak aku bukan anak kecil lagi yang gak tau apa itu berkencan, udah sana kakak pergi."
Mendengar penolakan halus Dimas Membuat Sheena menatap khawatir, "Ya sudah, tapi kamu hati-hati ya."
"Iyah, sip itumah, aku kan udah gede."
Sheena mencebik. "gayamu, tidur aja masih ngompol." Dimas tertawa terbahak-bahak.
Meninggalkan Dimas yang ingin main sendiri ia akhirnya berjalan hendak menghampiri Jayden yang sepertinya sedang menerima telepon.
Namun langkahnya terhenti ketika ia berpapasan dengan dua orang yang sedang bergandengan mesra, sambil tertawa, menyadari kehadiran Sheena lantas langkah kedua orang itu terhenti.
Sementara Sheena menatap mereka dengan nyalang, juga dada bergemuruh menahan amarah.
"Na, kamu ngapain ada di sini?" tanya si pria yang mengenggam mesra tangan gadis di sampingnya.
****
Hayo bisa menebak siapa mereka?
Hai, apakabar hari ini? semoga semuanya di beri kesehatan selalu ya🤗
__ADS_1
Jangan lupa like,komen, beri gift, vote, dan bintang lima, terimakasih ✨