Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Tugas pertama Sheena


__ADS_3

Tentu saja Sheena sudah gila karna telah lancang menyeruakkan hal bodoh itu.


"Kau ingin menikah dengan ku?" Jayden menarik sebelah alisnya. ragu, Sheena mengangguk atas pertanyaan itu.


Sengaja, kali apa memang jodoh!


Tuk! dengan usilnya Jayden mendorong jidat lebar Sheena dengan telunjuknya. "Mimpi saja di alam baka."


Lalu pria itu berlalu tanpa merasa terganggu, sedangkan Kevin di belakang mengikuti sambil berusaha menahan tawanya.


"Huh, dasar tuan psycho, psycho!" Sheena ngedumel sendiri setelah kepergian pria itu. alisnya menukik tajam selaras dengan matanya yang melotot, gemas.


"Lihat saja, aku akan habiskan uang no limit mu ini, akan ku kuras habis!" ujarnya dengan berapi-api.


...----------------...


"Selamat siang nona Sheena, saya Harto, sopir pribadi yang akan selalu mengantar anda ke depannya, salam kenal."


"Wah, salam kenal pak Harto, mohon kerjasamanya ya." Sheena ikut membungkuk 180 derajat pada pria setengah baya yang mungkin seumuran dengan ayahnya ini.


"Silahkan nona, mobil sudah siap mengantar anda." pak Harto dengan sopan mengayunkan tangan, mempersilahkan Sheena masuk.


Sheena tersenyum, hendak melangkahkan kaki namun terhenti. "Eh tapi pak Harto tau saya mau kemana?


"Tahu kok non, mau ke supermarket kan? tenang saja nona, pak Kevin sudah memberitahukan jadwal anda kepada saya."


"Oh baiklah kalau begitu." Sheena menarik kedua sudut bibir lalu masuk ke dalam mobil.


Hari ini, cuaca sedang baik dengan terik matahari yang tak terlalu menyengat, awan putih yang tampak menggantung indah di atas langit.


Pak Harto memakirkan mobil di pelataran supermarket besar.


"Saya tunggu di sini ya non, kalau ada apa-apa nona tinggal panggil saja."


"Baik, terimakasih pak." Sheena turun dari mobil dan masuk ke dalam supermarket.


Pak Harto mengulas senyum. "Anak ini sopan sekali,akan sangat cocok jika bersanding dengan tuan Jayden." gumam pria berwajah kebapakan itu.


...----------------...


Di markas besar Dark blood ( nama kelompok mafia yang di kuasai Jayden)


"Pembagian kekuasaan sedang di pertimbangkan oleh kubu sekutu, namun mereka dengan serakah meminta hak yang lebih."


Jayden di kursi kekuasaannya melirik ke arah asistennya. "Apa itu?"


"Hak lebih dalam penyaluran persenjataan, mereka tak ingin memiliki saingan, mereka ingin kita berhenti untuk menyalurkan persenjataan di beberapa negara."

__ADS_1


Jayden mendengkus. " mereka pikir aku akan setuju dengan itu?"


"Katakan pada utusan kita, jika mereka tak ingin menyetujui kesepakatan ini biarkan saja, toh mereka lah yang akan rugi bukan kita."


"Baik,tuan."


Jayden mengangguk. "Kau boleh pergi."


Sang asisten Jayden membungkuk hormat lalu, keluar dari ruangannya. Kini Jayden menopang dagu, tampak berfikir dengan serius, di ambilnya sesuatu di dalam sakunya, anting Sheena, yang selama ini selalu ia bawa kemanapun ia pergi.


"Kenapa saat aku bersama gadis itu, seperti ada sesuatu yang memikat, sesuatu yang mulai terhubung antara aku dan dirinya?" gumam Jayden memandangi anting Sheena.


Ia kemudian mengingat- ngingat kembali awal pertemuannya dengan gadis yang seakan menarik dirinya untuk lebih mendekat, saat Sheena dengan lancangnya mempermalukan dirinya di bar nya sendiri, saat gadis itu tampak menggemaskan di kala ia mabuk, saat Jayden dengan sengaja mengerjainya, menariknya untuk lebih mendekat, hanya karna dia menarik.


Sampai pada akhirnya Jayden membuat jebakan klise agar gadis itu tetap berada di sampingnya.


Betapa kuatnya magnet gadis itu.


Jayden tak tahu ada apa dengannya kini, dia seperti tidak mengenali dirinya sendiri.


"Afsheena Daisy, sebenarnya mantra apa yang kau berikan padaku hah?" gumamnya lagi, tampak tenggelam dalam pemikirannya sendiri.


Hingga sebuah ketukan membawa kesadaran Jayden kembali. Jayden refleks menoleh ke arah sumber suara.


"Kakek?" Jayden terkejut karna tiba-tiba pria lansia itu ada di sini.


Kakek melangkah dengan tongkatnya masuk ke dalam, aura gelap yang terpancar dari dirinya masih sangat terlihat jelas untuk Jayden, kakek memanglah seorang pemimpin yang berwibawa, dan mempunyai aura begitu mencekam.


"Sejak kapan? sejak kau terus memandangi anting itu dan berbicara sendiri."


Ah, Jayden tampak gelagapan, lalu dia berdehem untuk menghilangkan groginya.


"Ada apa ini Jayden? Kakek perhatikan kau semakin berubah akhir-akhir ini."


"Aku? berubah? mungkin hanya perasaan kakek saja."


"Apa karna gadis itu?" ucap kakek to the point, dengan menatap penuh curiga.


"Gadis? siapa yang kakek maksud?" Jayden berusaha untuk tetap tenang, meski tahu kemana arah pembicaraan sang kakek.


"Jangan berusaha untuk mengelak, Afsheena daisy, nama gadis itu, right?"


"Gadis yang sekarang tinggal di mansion mu."


"Ada hubungan apa kau dengannya?"


Jayden menatap datar. "Tidak ada, hanya urusan pekerjaan saja, kebetulan dia adalah asisten pribadi ku sekarang."

__ADS_1


"Apa kau mencintainya?" tanya kakek, frontal.


"Sebelumnya kau tidak seperti ini, kecuali kau tertarik pada seseorang."


Jayden semrik. "Bahkan gadis yang lebih baik darinya bisa ku dapatkan di club milik ku."


Nice! Jawaban yang tepat. setidaknya Jayden tak ingin Sheena terlibat dengan kakek.


"Bagus, kau tidak akan mungkin kan mencintai wanita rendahan seperti dia."


Jayden mengepalkan tangan, geram. Kakek melihatnya.


"Kau memang tidak pernah bisa membohongi ku."


"Bahkan dia lebih rendah dari jal*ng- jal*ng yang mengikuti mu setiap saat."


Jayden semakin mengeratkan kepalan tangannya, biasanya dia selalu bisa untuk mengontrol emosinya, tapi kenapa untuk yang ini ia tidak bisa?


"Kenapa? kau marah karna aku menghinanya?"


Jayden mengambil nafas. "Tidak." dia tetep harus mempertahankan raut wajahnya.


"Ingat Jayden, tak ada yang namanya cinta, perasaan bodoh seperti itu hanya akan melumpuhkan mu."


"Kau bahkan mengatakannya lebih dari seribu kali setiap kali kita bertemu."


Kakek tersenyum. "Besok adalah ulang tahun tuan David, kau harus datang, dan bertemu dengan calon istri mu, Viona."


"Ingat, kau tidak bisa kabur lagi kali ini," kata Kakek saat Jayden hendak mengelak.


"Aku sudah mengatur sedemikian rupa, tentang perjodohan mu, pernikahan ini akan sangat menguntungkan bagi kedua belah pihak, jadi mau tak mau kau harus menerimanya."


...----------------...


Sheena menatap penuh minat ke rak yang menampilkan berderet aneka mie instan juga makanan instan lainnya, mata Sheena lalu melebar saat melihat sesuatu di dekatnya.


"Waah, mie samyang keluaran terbaru, aku harus beli sih ini!" wajahnya berseri-seri lalu menaruh beberapa di dalam troli.


"Waah, ada diskon gede-gedean juga, gak boleh di lewatkan sih ini!"


Sheena memang seperti itu, jika di hadapkan dengan makanan, maka dia akan sangat kalap.


"Lihat saja, aku pasti akan membeli semua makanan yang ku inginkan, ck,ck!"


"Food is my dream!" Sheena berteriak cukup kencang.


"Not her, my dream mas!" tiba-tiba ada yang menyahuti ucapannya dengan nada nyeleneh, membuat Sheena seketika menoleh dengan wajah malu.

__ADS_1


"Lagi cosplay mbak Kinan di layangan putus ya mbak?"


Asem!


__ADS_2