Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Memulai langkah baru


__ADS_3

"Kak Daniel, Kakak di mana? hiks."


"Katanya berjanji akan menikahi ku, kakak bohong! bohong!"


Segerombolan orang datang membawa sang gadis kecil dalam pelariannya. "Aaaa! kakak, tolong! Kayla gak mau pisah dari kakak!


"KAKAK!!"


"KAYLA!" lagi dan lagi, Jayden terbangun dari tidurnya dengan tangan yang berusaha menggapai udara, nafasnya tercekat dengan peluh membanjiri.


"Sial!" pria itu menggeram kesal. "Kenapa kau harus datang terus brengs*ek!"


Jayden memijit kepalanya dengan kuat, tangan kekar pria itu bahkan gemetaran karna bunga tidur yang selalu membuatnya terjaga ini.


Jayden lalu berlalu ke wastafel yang ada di walk in closed, pria itu menyiram air ke wajahnya dengan sedikit kasar, lalu menatap pantulan wajahnya sendiri di dalam kaca besar itu. Seketika bayangan gadis kecil yang selalu datang dalam mimpinya kembali datang.


"Breng sek! bedebah!" Jayden meninju cermin dengan brutal hingga kaca itu seketika pecah tak berbentuk, bersamaan dengan darah segar yang mengalir dari sela jarinya.


"Jika kau menghantuiku karna ingin menagih janji, harusnya kau datang kesini, ke dalam istana ku! jangan hanya meneror ku di dalam mimpi saja!" nafasnya memburu dengan amarah yang sudah di ubun-ubun.


Jayden seketika tersadar, mendesah panjang, pantulan wajah kakunya segera melunak, pria itu menegakkan bahu, menyugar rambutnya yang sedikit basah.


"Jam berapa ini?" Jayden melihat jam digital di atas nakas, menunjukkan pukul lima pagi.


Jayden memang sudah biasa bangun pagi bahkan sangat pagi sekali, jadi jangan mengherankan jika dia adalah pria yang kompetitif dan pekerja keras.


Jayden berlalu ke kamar mandi, menekan tombol shower, seketika tubuhnya yang setengah telanjang sudah terguyur oleh air, matanya menatap nyalang sekali lagi, pada pantulan wajahnya yang tercetak di dinding.


"Aku akan mencarimu, jika perlu sampai ke ujung dunia."


***


Di rumah Sheena, pagi ini lagi-lagi ia bangun terlambat, tentu saja, itu sudah biasa apalagi statusnya yang pengacara ( pengangguran banyak acara) telah menyita semua waktunya di kasur, apalagi yang harus dia lakukan? rebahan, rebahan dan rebahan.


Meski begitu entah kenapa Sheena memiliki otak yang encer, di sekolahnya dulu dia termasuk murid yang berprestasi,pun di fakultasnya, meskipun akhirnya tak di lanjutkan karna rencana pernikahannya bersama Andre, yang akhirnya batal.


Entah sekarang, dia bahkan sudah tak bisa mengingat pelajaran yang dia pelajari di masa kuliah lagi.


Cih! jika di ingat-ingat dirinya sangat naif saat itu, rela meninggalkan semuanya demi lelaki itu, saat itu seketika saja Sheena menjadi bodoh karena cinta, ck!ck! jangan di tiru ya pemirsa.

__ADS_1


Di mulai dari hari ini, Sheena akan menjadi pribadi yang baru, yang lebih segar, tanpa beban percintaan yang membuatnya bodoh. Hari ini Sheena dengan wajah baru akan segera di mulai.


SELAMAT PAGI DUNIA TIPU-TIPU!" gadis itu berteriak kencang, meregangkan otot-ototnya, juga melatih pita suaranya.


"Aduh kak Nana! teriaknya jangan kencang-kencang dong! ini bukan di dalam hutan!" teriak Dimas dari luar.


"Hehehe, maaf dek. maklumlah kakakmu yang cantik ini terlalu bersemangat!"


"Ck!ck! baiklah langkah pertama kita harus mandi." Sheena mengambil handuk yang tersampir, juga tempat sabun lalu berlalu ke kamar mandinya.


Setengah jam ia habiskan untuk bersiap-siap, Kini Sheena sudah rapi dengan kemeja putih lengan panjang, ada aksen pita panjang yang melingkar lehernya seperti kalung membuatnya semakin cantik, juga rok span sebatas lutut berwarna hitam. rambut panjangnya ia ikat satu ke belakang agar tidak menganggu.


"Naah, perfect!" Sheena berdecak kagum pada pantulan dirinya sendiri di cermin.


Namun seperkian detik kemudian, wajahnya berubah sendu, dengan sorot mata meredup.


"Hari ini, mungkin akan menjadi hari terakhir aku tidur di kamar ini," menatap ke sekelilingnya.


"Jika aku bisa menemukan orang tua asliku, apa aku bisa terus berada di sini?"


Bagaimana pun orang tua Sheena saat ini adalah yang paling berjasa dalam hidupnya, memberikannya tempat nyaman, menyayanginya, mendidiknya hingga seperti sekarang, Namun tak di pungkiri Sheena ingin sekali tahu tentang orang tua aslinya, tentang asal-usul dirinya, juga alasan kenapa orang tuanya menaruhnya ke panti asuhan saat umurnya lima tahun? juga tentang mimpi bocah lelaki itu?


Tapi bagaimana caranya ia berpamitan pada orang tuanya? pada Dimas adiknya? pada Rasti sahabat satu-satunya? bagaimana?


Sheena menggeleng, menepuk kedua pipinya. "Ayo Sheen! kamu pasti bisa!"


"Setidaknya selama tiga bulan terakhir aku akan tinggal bersama tuan Jayden, di saat itu aku bisa menyelidiki tentang masa kecil ku. sekarang sudah ku putuskan,"


"SHEENA AYO, KAMU PASTI BISA!!"


"Kak Nana udah di bilang jangan teriak-teriak! ini bukan di dalam hutan!"


***


Jayden berjalan dengan tubuh tegap di dalam gedung pencakar langit ini. JA group, adalah perusahaan pribadi milik Jayden, yang ia kelola sendiri, mengorbankan banyak hal dalam membesarkannya, tentu hal ini ia sembunyikan dari sang kakek.


Bahkan di luar sana tidak ada yang tahu tentang siapa Presdir JA group, hanya namanya saja yang melambung tinggi dalam dunia perbisnisan, ajaibnya dalam dunia persaingannya, JA group bersaing dengan Ananta group milik kakeknya.


Selain perusahaan besar, Jayden juga memliki beberapa kasino, bank pribadi, yang tersebar di seluruh penjuru dunia, jangan tanyakan tentang club dan bar, dia memiliki banyak bahkan pusatnya pun berada di luar negeri.

__ADS_1


Meski begitu, zona yang di pijaki Jayden sangatlah terbatas, dia tidak bisa berjalan-jalan sendiri ke bar atau ke tempat ramai tanpa pengawalan ketat.


Banyak yang mengincar nyawanya,itu sudah pasti, itu sebabnya Jayden memiliki banyak identitas palsu, sudah biasa memang, apalagi dia adalah bos mafia yang memiliki tanggung jawab pada seribu lebih pasukannya. ia harus tetap berhati-hati meski mempunyai kekuasaan besar.


"Eh, lo ada di sini?" namanya adalah Deva, dia adalah wakil Jayden di perusahaan.


"Iya, sengaja mau mantau sebentar." Jayden menghampiri, dan duduk di kursi kekuasaannya.


"Tumben, biasanya lo super sibuk."


"Biasa, ini soal kakek gue."


"Apa? perjodohan lo?"


"Ck! gue gak mau musingin tentang itu."


"Ini penting lah Jay, lu tampan ya kan, kece, masa belum juga punya pasangan sih?


"Ck! hidup ini bukan soal tentang pasangan doang!"


"Apalagi pasangan di atas ranjang." menatap Deva dengan tatapan horor, sudah pasti sama seperti Kevin, Deva ini Cassanova sejati, menggonta-ganti wanita sama seperti gonta-ganti baju menurut mereka.


Mudah-mudahan sih cepet dapet azabnya!


"Ya, itumah beda lagi konteksnya,Jay."


Jayden membuang nafas kasar, pria menyandarkan punggungnya, mengusap matanya yang terpejam.


"Lo kenapa? kurang tidur lagi?"


Jayden hanya mengangguk.


"Sampai kapan Jay? maksud gue, gadis kecil itu, sampai kapan mau ngehanantuin mimpi lo terus?"


"Gue gak tau, satu-satunya kenangan gue sama dia cuma jepitan merah ini." Jayden mengambil jepitan merah yang sudah usang warnanya, dia menyimpannya selama bertahun-tahun. ajaib.


"Kalau lo bisa menemukan dia, maksud gue Kayla ternyata emang masih hidup, lo bakal nikahin dia? sesuai janji lo?"


"Tentu saja, gue udah bilang, dia satu-satunya di hati gue."

__ADS_1


Ya, bagaimana pun jika dia bisa menemukan Kayla, dia akan menikahinya, seperti janjinya lima belas tahun lalu.


__ADS_2