Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Petunjuk awal


__ADS_3

Dengan setengah panik yang menyelimuti, Sheena agak membungkuk ke bawah, menelisik setiap penjuru tempat, mencari keberadaan kalungnya.


"Astaga, kenapa sampai hilang segala sih?" gumamnya dengan dahi mengkerut dalam.


Itu adalah satu-satunya benda yang mengingatkannya pada asal-usulnya, yang akan menjadi petunjuk besar untuk mencari keberadaan keluarga aslinya, kenapa sampai bisa hilang? kenapa dia ceroboh sekali?


"Aduh, di mana sih? di cari-cari kok gak ada?" Sheena semakin kalut, bagaimana kalau sampai kalung itu tidak bisa di temukan? akan sia-sia perjuangannya sampai ke sini.


"Ku mohon Tuhan, ini usaha terakhir ku."


Brukk! karna tak melihat jalan, Sheena sampai menubruk kaki seseorang. Perlahan ia mendongakkan wajah, di lihatnya wajah tampan namun angkuh yang kini di atasnya.


"Kau sedang apa?"


"Tuan!" Sheena segera saja menegakkan tubuh, sedikit merapikan rambutnya yang kusut.


"Saya sedang mencari kalung saya tuan, apa tuan melihatnya?"


Jayden berfikir sejenak.


"Jadi kalung itu miliknya?"


"Kalung?" Jayden berpura-pura tak tahu.


Sheena mengangguk tegas. "Sepertinya hilang di sekitar sini, tapi gak ada."


Ya, pantas saja Sheena. mansion ini begitu luas, bagaimana kamu mencarinya? Sheena tersadar itu.


"Tuan ngeliat? atau nemuin gitu?" tanya Sheena, sungguh ia letih juga Mencari sampai ke lantai atas.


Jayden menggeleng. "Tidak. Mungkin saja sudah hilang."


Dengan santainya Jayden melewati Sheena. Duduk di sofa panjang, seraya menaruh segelas teh chamomile tanpa gula, ke atas meja. Hari ini adalah hari pekan yang santai untuknya, setelah sekian lama di sibukkan dengan berbagai banyak jadwal.


Bagi Jayden, tak ada yang namanya akhir pekan.


Namun setidaknya hari ini dia bisa tenang, walaupun sebentar. Kevin kini sedang di Barcelona, mengabarkan jika organisasi sedang dalam masa stabil, Jayden tak perlu merasa cemas, setidaknya dia memiliki orang-orang yang begitu kompeten dan profesional di belakangnya.


Pun dengan Dava yang kini sudah semakin mahir menjalankan perusahaan menggantikannya untuk beberapa saat. Meski sesekali ia akan mengunjungi, untuk mendatangani kontrak dengan klien penting.


"Tuan, benar tidak melihatnya?" seru Sheena, yang entah kenapa kini mulai membuyarkan ketenangannya.

__ADS_1


Jayden menatapnya datar, gadis itu terlihat sangat cemas. Apa sebegitu pentingnya kalung itu untuknya?


"Tidak," jawab singkatnya, berharap gadis ini berhenti, untuk menganggu waktu senggang langkahnya. Di alihkannya perhatian pada buku yang di bawanya.


"Benar nih tuan gak liat?" Sheena kini berdiri di depannya, yang membuat teh yang hampir di seruputnya mulai tersembur lagi dari mulut.


"Eh, tuan, astaga, kenapa?" Sheena menjadi panik, hendak menyentuh Jayden namun pria itu menepisnya dengan kasar.


"Menjauh dariku!" Geram Jayden, mata Pria itu menyalang-nyalang menatapnya.


"Maaf tuan, saya hanya ingin membantu." sekujur tubuh Sheena menjadi gemetar.


"Lancang sekali, kau sepertinya sudah lupa apa posisi mu di sini!" Bentak Jayden tanpa sadar.


Mata Sheena melebar dengan pupil matanya yang perlahan terkulai.


"Maaf tuan, saya sadar saya cuma pembantu. Maafkan saya sekali lagi!" Sheena membungkuk lalu pergi begitu saja.


Jayden terdiam. mengurut pangkal hidung, menghela nafas. "Sepertinya aku sudah keterlaluan."


Ia hendak berdiri untuk menyusul Sheena, namun akhirnya ia tak melakukan itu dan terduduk kembali.


"Dia hanya orang asing Jayden, dia hanya orang asing!"


...****************...


Sheena menyentak kaki, berjalan ke arah kamarnya dengan campur aduk. Kamarnya terletak di paling depan, di belakangnya berada di wilayah Mansion belakang tersambung dengan pantry, tempat asrama untuk para maid dan pekerja di sini.


Sheena mendudukkan bokongnya di bibir kasur dengan kesal.


"Kenapa sih dia harus marah-marah begitu? kenapa juga dia harus mengungkit-ungkit tentang status ku? aku juga sadar diri kok, aku cuma asistennya di sini."


Sheena tak henti-hentinya menggerutu, mengeluarkan seluruh unek-uneknya. Yang mungkin selama ini ia pendam.


"Dasar pria aneh, sebentar-sebentar bersikap baik, sebentar-sebentar bersikap jahat!"


"Maunya apa sih?"


"Dasar pria berkepribadian ganda, pria aneh, psycho, psycho! Aaarggh!" Kesal, Sheena merebahkan tubuhnya ke atas kasur, menendang-nendang kakinya ke udara, berharap bisa meluapkan kekesalannya.


Sheena duduk kembali, tersadar akan sesuatu. lalu berdiri, di ambilnya tas hitam dia atas lemari. Dengan susah payah dan sedikit tenaga. Percayalah, meskipun tenaganya mungkin besar, namun kakinya begitu pendek, jadi dia harus sedikit kesusahan.

__ADS_1


"Ini tas isinya apaan sih? kok berat banget?" desisnya.


Padahal ini tasnya sendiri, kenapa dia bisa tidak tahu? Aissh!


Di bukanya resleting tas hingga terbuka lebar, Matanya seketika berbinar. Bagaimana tidak? di dalam tas ini ternyata berisi beberapa mie instan cup koleksinya. Benar, Kenapa dia bisa lupa ya?


Seketika saja kekesalan Sheena yang tadi memuncak lenyap tak bersisa. Dengan perasaan berbunga-bunga di ambilnya mie instan cup itu satu persatu dan di susunannya di atas euforia mulai menyergap dirinya.


Niatnya jika Jayden tidak memberi tempat tinggal dia akan mengekos gitu, dan mie instan cup ini sengaja ibunya memberi stok banyak, karna Sheena memang sangat menyukainya. Percayalah, Sheena mungkin akan tahan dengan apapun, asal ada makanan di sampingnya.


Sheena tersenyum puas dengan hasil karyanya menyusun mie- mie instan cup itu. Benar, meskipun makanan di sini enak-enak dan gratis, mie instan tetap harus ada untuk memanjakan lidahnya.


Ck, ck, Sheena tersenyum bangga. "Pokoknya nanti malam harus mukbang 10 cup mie instan."


Sheena lalu mengacak-acak kembali isi tas hitamnya, mencari barang yang menjadi tujuan awalnya. Ketemu, kotak hitam berbahan ukiran kayu itu sudah ada di tangannya.


Sheena lalu menempati duduk di tempat kursi meja, perlahan ia membuka kotak ukiran kayu yang kata ayahnya berisi petunjuk tentang siapa dia sebenarnya.


"Ini, jika kamu memang berniat mencari tahu tentang jati diri mu, bawalah ini bersama mu, di dalamnya berisi beberapa kenangan yang mungkin akan memberikan petunjuk untuk mu."


Sheena tersenyum mengingat perkataan ayahnya saat itu. Ia terdiam sejenak melihat barang-barang yang tersusun rapi di dalam kotak minimalis itu.


Pertama yang ia temukan adalah sebuah foto, foto usang yang memperlihatkan sebuah bangunan kokoh, dengan sebuah pohon besar yang tumbuh di sampingnya.


Sheena meraba foto itu, seperti tersengat aliran listrik, tubuhnya tiba-tiba saja menegang, matanya terpejam sempurna, seperti roll film yang di putar kembali,ia seakan bisa melihat bayangan-bayang potongan ingatannya yang terlihat tak kasat mata.


Sheena membuka mata, pupil matanya melebar dengan nafas tersengal.


"Tempat ini? tempat apa ini?" ia mengambil foto itu, menatap dengan intens. Mungkin ini adalah salah satu petunjuknya.


Sheena lalu membalikkan selembaran foto itu, siapa tahu ada petunjuk lain di sana.


Dan benar saja, ada sebuah tulisan di balik foto itu.


(Panti asuhan "Terima kasih bunda")


***


Hai, apakabar hari ini? semoga semuanya di beri kesehatan selalu ya🤗


Jangan lupa like,komen, beri gift, vote, dan bintang lima, terimakasih ✨

__ADS_1


__ADS_2