Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Ungkapan perasaan yang sebenarnya


__ADS_3

Braakk!


Jayden membuat kegaduhan besar di markas tuan Yudistira. pria itu dengan membabi buta menyeret seorang lelaki yang mungkin tubuhnya lebih besar namun kekuatannya jauh di bawah Jayden.


Semua orang terkesiap, terkejut dengan tindakan Jayden yang tiba-tiba. Para anggota mafia lain yang sedang berkumpul mencoba untuk menghentikan aksi gila pria itu.


"Tuan muda, apa yang anda lakukan? kenapa anda menyeret tuan Gavin?"


"Tuan muda mohon tenang kan diri anda."


Seruan-seruan itu nyatanya tak bisa untuk menghentikan aksi Jayden, pria itu tetap menarik Gavin yang tak berdaya lalu mendorongnya hingga ke ruang utama.


"Tuan muda, apa yang terjadi pada anda, kenapa saya di tarik-tarik seperti ini?" protes Gavin tidak terima. Dirinya sedang bermain kartu bersama anggota lain, saat Jayden tiba-tiba datang lalu menyeretnya begitu saja seperti menyeret sekantong besar sampah.


Gavin tak terima, kini dia menjadi tontonan orang-orang. martabatnya hancur seketika, dia adalah asisten pribadi tuan Yudistira sekaligus kaki-tangannya. Gavin tak terima di perlakukan semena-mena seperti ini.


"Kau masih bertanya 'kenapa' ? hah!"


"Biar ku beritahu." Bugh! satu tendangan yang sangat keras itu sangat cukup untuk membuat Gavin terjungkal seketika, cairan segar berwarna merah tiba-tiba keluar dari hidung dan mulutnya, lelaki itu melolong kesakitan.


Semua orang menatap namun tak ada yang bisa memisahkan, mereka tahu, ikut campur sama saja dengan mencari mati, maka yang orang-orang semua lakukan kini hanya menonton, bagaimana Jayden sang cucu tuan besar mereka kini sedang menganiaya orang kepercayaan kakeknya.


Kratak! Jayden menekan kuat sepatunya di atas lengan Gavin, membuat bunyi patahan tulang yang begitu renyah, Gavin kembali melolong panjang.


"Tangan ini, tangan ini bukan? yang telah menampar wanitaku?"


Jayden sedang di kuasai amarah kali ini sisinya yang liar dan ganas bangkit seketika.


"Maka akan kupatahkan hingga kau tidak bisa menggunakannya lagi."


"Aaaaargggggh!" lolongan kesakitan Gavin kali ini benar-benar menyayat bagi siapa saja yang mendengarnya, pria itu meneteskan air mata dengan wajah memerah padam saat Jayden benar-benar pada ucapannya.


Mematahkan sebelah tangannya.


"Ampun tuan! ampun!" Gavin memohon-mohon dengan suara lirih dan nafas yang tersendat-sendat. Tak gunanya ia melawan maka yang bisa dia lakukan kali ini adalah memohon untuk Jayden mengampuninya.


"Kau telah mencari masalah pada orang yang salah, Gavin skyber, akan ku pastikan ini akan menjadi hari terakhir mu melihat dunia."


Jayden mengambil pistol yang tersembunyi di balik jas nya, ia hendak membidikkan pelatuk ke arah kepala Gavin saat suara menggelegar menghentikannya.

__ADS_1


"Jika kau membunuhnya maka akan ku pastikan gadis itu akan lenyap saat ini juga!"


Tuk!tuk! suara ketukan tongkat yang sangat di hafal Jayden, berdiri di sana, sang kakek menatap datar ke arahnya semua orang yang ada di sana kompak menunduk memberi penghormatan.


Jayden menarik kembali pistolnya, ia akhirnya menurunkan kakinya di atas tubuh Gavin yang sudah tidak berdaya, keadaan pria itu benar-benar mengenaskan.


"Apa begini cara seorang leader mafia bertindak?" Kakek mendekatinya.


"Gadis udik itu benar-benar telah merubah mu!"


Tangan Jayden mengepal erat dengan rahang mengeras.


"Berhenti mencampuri urusan ku." tekannya dengan nafas memburu.


"Terutama untuk tidak menggangu wanitaku!"


Plak! Kakek melayangkan sebuah tamparan keras di rahangnya, Jayden bergeming bahkan pria itu tak beraksi apa-apa, seakan tamparan keras tadi tidak berefek sama sekali padanya.


"Kalian semua, bubar dari sekarang!" semua membungkuk hormat lalu membubarkan diri, Gavin berjalan terseok-seok menuju tuan Yudistira.


"Kau sembuhkan lah lukamu."


"B-baik,tuan!" karna cidera parahnya Gavin sampai tidak bisa untuk berbicara normal, sebelum pergi ia menatap lama ke arah Jayden, di balik tatapannya ada kebencian juga dendam yang mendalam, namun Jayden tak perduli sampai akhirnya lelaki berperawakan raksasa itu benar-benar Pergi.


"Sudah berani kau rupanya?" aura mengintimidasinya langsung menyeruak begitu saja. Namun bukan Jayden namanya jika ia gentar.


Aura mereka seperti sedang beradu kini, gelap, mengintimidasi dan mengerikan.


"Selama lebih dari lima belas tahun ku besar kan apa ini balas budi mu pada ku?"


"Maaf, seharusnya aku memang sangat berterima kasih padamu, tapi bukankah balas budi ku sudah selesai saat aku membangun kembali organisasi mafia mu yang sudah di ambang kehancuran?"


"Aku juga tidak meminta untuk dibesarkan oleh mu."


Hubungan antara Jayden dan sang kakek bukannya tak pernah baik, ada kalanya mereka akan berbicara normal seperti layaknya keluarga pada umumnya namun seringnya berbeda pendapat juga sang kakek yang selalu mendiktaktor dirinya membuat Jayden lelah dan ingin berontak.


Ia tak suka ketika bagaimana sang kakek menekannya untuk melakukan yang dia minta juga bagaimana ketika rasa penasaran Jayden atas kecelakaan orang tuanya yang janggal membuat sang kakek marah.


Oleh sebab itu hubungan mereka lebih terkesan dingin dan kaku, juga seringnya mereka sibuk dengan urusan masing-masing membuat waktu bersama layaknya keluarga semakin tak ada.

__ADS_1


"Kau jangan lupakan Jayden, tentang wasiat dari ayahmu."


Kakek kini berdiri di sampingnya, menepuk pundaknya membuat Jayden menoleh.


"Daniel, mau tak mau suka tak suka, kau tetap akan di bawah kekuasaan ku, hidup mu bukan lagi milik mu saat aku mengambil mu dari panti asuhan itu."


...----------------...


Jayden pulang ke mansion dalam keadaan kesal, pria itu melepas dan membuang jas nya asal, menarik dasi yang terasa mencekik, ia memijit pangkal hidungnya yang terasa berdenyut.


"Breng*sek!" umpatnya ketika mengingat apa yang di ucapkan sang kakek, kini dia baru sadar bahwa sampai kapanpun dia tidak akan bisa untuk kabur dari jeratan pria tua itu.


"T-tuan ... " cicit seseorang, Jayden menoleh mendapati gadis bertubuh mungil dengan lebam merah di pipinya.


Jayden mendekati Sheena di tariknya tangan gadis itu hingga kini mereka duduk berhadapan di sofa.


"Ini kenapa?" Jayden berpura-pura tak tahu, mengusap pipi Sheena yang memerah membuat gadis itu sedikit meringis.


"Oh tadi gak sengaja jatuh tuan, hehe." Lagi, Jayden sudah bisa menebak bahwa gadis itu tak akan jujur.


"Jangan bohong, luka jatuh mana mungkin seperti ini, apa yang terjadi padamu."


Sheena tertunduk lesu. "Tadi kakek tuan, aku gak ingat namanya siapa, datang kesini."


Jayden melipat tangan ke depan dada, mendengarkan dengan penuh perhatian.


"Aku gak tahu apa dia salah sangka atau apa, tapi dia mengira aku sudah menggoda tuan."


"Aku gak ngerti tuan, tiba-tiba dia melempar sebuah koper di depan ku begitu saja, mengatakan jika aku harus meninggalkan tuan dan uang 1 milyar itu akan menjadi milikku."


"Lalu apa jawaban mu?" meski sudah tahu ceritanya Jayden ingin mengetahuinya sendiri dari mulut gadis itu.


"Tentu saja aku gak mau." satu perkataan itu entah kenapa membuat perasaan Jayden lega.


"Saat dia mengatakan aku sudah menggoda tuan saja itu sudah sangat salah, apalagi saat dia memberikan ku uang itu dan menyuruh ku untuk menjauhi tuan."


Sheena terkesiap ketika tangan kekar Jayden menyentuh lembut pipinya.


"Aku senang .... "

__ADS_1


"Eh?"


"Karna kau lebih memilih untuk bersama ku."


__ADS_2