Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Hak waris


__ADS_3

Suara pintu yang di dobrak keras seakan melengking memenuhi istana megah nan mewah itu. Di mansion keluarga de Cullen, Viona masuk ke kamarnya dengan air mata bercucuran, tubuh indahnya bersimpuh pada king size miliknya, menangis meraung seraya menekan selimut dengan kuat, ia bahkan meninggalkan pesta yang belum usai.


Tak di sangka semuanya sudah hancur begitu tak ada harapan untuk mengejar cinta Jayden, lelaki itu sudah pergi terlalu jauh, bersama wanita yang di cintainya.


Sementara di tempat lain, gemerlap pesta megah dalam merayakan hari ulang tahun perusahaan Ananta group akhirnya terpaksa di bubarkan, setelah pengumuman yang di buat Jayden berhasil membuat geger.


Tuan Yudistira menekan jari-jari kukunya dengan kuat di sandaran kursi, kerutan amarah tercetak jelas di wajahnya yang semakin menua, ia menghampiri sepasang kekasih yang kini sedang bertaut tangan dengan wajah berani, menatap nyalang pada gadis yang ia anggap pembawa sial dalam keluarganya.


Tangannya siap melayang ke pipi gadis itu, namun sebuah tangan besar dengan sigap menahannya.


"Kakek!" Jayden bergemelutuk dengan rahang mengeras, mata elangnya menatap pria tua itu dengan tajam.


"Gara-gara gadis ini, kau rela melepas semuanya? tidak kah kau tahu kesepakatan besar seperti apa yang telah ku buat bersama tuan David? kau menggagalkan nya hanya karna wanita tidak tahu diri ini?!"


"Cukup kek!" Jayden meninggikan suaranya, memasang badan melindungi wanita yang di cintainya.


"Sudah cukup! Aku sudah tahu semuanya!"


"Apa? memangnya apa yang telah kau tahu hah?!" sang kakek menantang lewat tatapan mata.


"Aku tak perlu menjelaskan apapun, jika kau sendiri pun sudah tahu jawabannya."


"Wanita yang di sampingku ini." Jayden menoleh pada Sheena.


"Dia adalah Kayla, gadis kecil yang selama ini kucari."


Mata tuan Yudistira melebar seketika, tangannya yang memegang tongkat tuanya semakin terasa bergetar, dadanya bergemuruh hebat dalam amarah dan keterkejutannya.


"Tak usah merasa terkejut seperti itu, bukankah kau yang selama ini menyembunyikan Kayla dariku?"


Sheena melirik Jayden, dirasakannya tangan besar lelaki itu yang semakin dingin.


Tuan Yudistira menggeleng pelan, tidak. Tidak boleh ada yang tahu tentang rahasia apa yang terjadi lima belas tahun lalu, konspirasi besar itu harus tetap tertutup rapat.


Tuan Yudis berbalik badan memunggungi keduanya, dahi Sheena berkerut melihat ekspresi aneh dari pria itu.

__ADS_1


"Pergilah! aku tak ingin melihat kalian!"


"Baik, kami memang tidak ingin berada di sini."


Jayden menatap Sheena, penuh kelembutan. "Ayo, kita kembali."


Mereka berbalik meninggalkan mansion Yudistira Alexander, namun belum dua kali mereka melangkah, suara tuan Yudis kembali melengking.


"Tapi ingat Jayden, di saat kau keluar dari ini, kau bukanlah calon penerus ku lagi, akan ada orang lain yang lebih kompeten yang akan menggantikan mu."


Jayden menarik nafas, Sheena melihat dengan tatapan lemah.


"Silahkan, mulai hari ini aku akan berpijak dengan kakiku, aku bisa hidup tanpa mu, dan ... " entah kenapa suaranya tiba-tiba tercekat.


"Jika memang itu keputusan mu, maka mulai hari ini kau bukan cucuku lagi."


Deg! Sheena menatap Jayden, tidak boleh, hubungan keluarga mereka tidak boleh hancur hanya karna dirinya.


Jayden mengangguk pelan. "Baiklah."


Dada Sheena tiba-tiba bergemuruh, ia menatap tak percaya pada pria itu.


Sheena membelalak. "Tuan, jangan bilang kamu akan memutuskan hubungan dengan kakek mu, tidak!" dia menggeleng keras.


"Aku tidak mau gara-gara aku--"


"Tidak, ini bukan salah mu, aku sudah memutuskan nya sendiri."


"Baiklah jika itu keinginan mu," kata tuan Yudis. "Itu berarti tugas ku telah berakhir sampai disini." suara lelaki tua itu seperti menahan sesak, entah kenapa Sheena semakin tercekat di tempat, atmosfer di sekitar tiba-tiba berubah.


"Pesan ku hanya satu, jangan pernah lupakan untuk selalu datang ke makam kedua orang tua mu,dan sampaikan salam ku untuk Arandita."


Arandita adalah ayah dari Jayden, lima belas tahun menyembunyikan fakta yang sebenarnya, sang kakek baru kali ini menyebutkan nama dari orang tua Jayden.


"Refanya dan Arandita Wicaksono, adalah nama kedua orang tuamu, aku pernah mengajak mu ke makam kedua orang tuamu sekali. sekarang, karena tugas ku sudah selesai, akan ku tujukan di mana makam mereka berada."

__ADS_1


Dan di saat itulah Jayden bahwa misteri ini semakin menemukan titik terang.


...----------------...


"Selamat pagi tuan Jayden Alexander, saya Damian, pengecara utusan almarhum tuan Arandita, Ayahmu."


Paginya setelah Jayden kembali ke mansion, seorang pria yang berpakaian parlente sembari membawa jinjingan tas hitam yang mengaku sebagai pengecara kedua orang tuanya.


"Saya datang kesini atas utusan tuan Yudistira juga, maaf selama lima belas tahun ini saya baru datang sekarang."


"Tak perlu berbasa-basi, apa yang ingin kau sampaikan?"


Tuan menghela nafas pelan, sudah menebak apa yang akan keluar dari mulut pria itu, bagaimana pun ia tahu Jayden adalah seorang bos mafia, butuh nyali yang besar baginya hingga datang ke mansion pria itu dan menyampaikan amanat yang ia pikul selama ini.


"Kau sendiri juga sudah tahu, apa perjanjian tuan Yudistira dan tuan Arandita, ayahmu bukan?"


Jayden mengangguk, ia sudah tunjukkan surat perjanjian itu tak lama setelah ia di adopsi, Karena hal itulah ia masih bertahan tinggal di bawah ditaktor sang kakek.


"Singkatnya di dalam surat perjanjian itu, kau harus mau tinggal bersama tuan Yudistira, dan mau di rawat di bawah asuhannya jika ingin perusahaan ayahmu yang selama ini tuan Yudis kembangkan bisa jatuh ke tangan mu, benar begitu?"


"Juga 60% saham perusahaan besar ayahmu yang berada di Paris bisa jatuh ke tangan mu, benar begitu?"


Jayden mengangguk, itulah tujuannya di awal, merebut semuanya yang kakeknya ambil dari almarhum ayahnya, ia tahu lelaki tua itu bukan tanpa sebab merawatnya selama ini, tapi memang ada tujuan lain, yaitu kekuasaan yang ayahnya punya.


"Selamat, sekarang itu semua akan jatuh ke tangan mu."


Bibir Jayden tersungging sinis, sudah bisa ia tebak, saat semuanya rahasia ini terbongkar satu persatu, maka saat itu juga kakeknya akan semakin terpojok dan kalah.


"Silahkan, tanda tangani di sini." Tuan Damian menaruh berkas dan memberikan sebuah bolpoin pada Jayden.


Pria itu mengambilnya, membubuhkan tanda tangan nya di atas kertas putih itu. Sebenarnya ia tidak membutuhkan semua warisan ini, ia hanya ingin memberikan pelajaran pada sang kakek yang gila akan kekuasaan.


Pak Damian tersenyum ramah. "Mulai saat ini, semuanya sudah jatuh ke tangan anda."


Jayden mengangguk, tersenyum puas.

__ADS_1


"Dan mulai saat ini tugas saya untuk menjaga amanat dari almarhum tuan Arandita Wicaksono sudah selesai."


Jayden kembali mengangguk, satu tugas sudah selesai, kini tinggal mengungkap kejanggalan tentang kecelakaan lima belas tahun lalu yang terjadi pada orang tuanya juga orang tua Sheena.


__ADS_2