
Di tempat tepatnya di mansion Jayden, seorang gadis datang secara tiba-tiba entah dari mana asalnya membuat kegaduhan di depan gerbang kokoh yang menjulang tinggi.
"Nona, sudah saya katakan tidak boleh masuk sembarangan, apa anda tidak mengerti itu?" Pak satpam yang menjaga gerbang di buat sangat geram oleh tingkah gadis berkuncir kuda ini.
"Saya bukan ingin masuk sembarangan pak, saya hanya ingin menemui sahabat saya, dia yang share lock tempat ini kok." kekeuh gadis itu. Sudah hampir lima belas menit ia bertahan di sini memelas ingin bertemu dengan orang yang bahkan belum ia sebutkan namanya saking paniknya wajah gadis itu ingin segera menginfokan hal yang sangat penting pada sahabatnya.
"Baiklah memangnya siapa namamu? sejak tadi kau membuat rusuh tapi tidak menyebutkan nama," kata pak satpam itu, mengalah pada akhirnya.
"Rasti!' tekan gadis berkulit pucat itu. "Rasti airana," katanya dengan wajah memerah karena terkena paparan sinar matahari yang menyengat siang ini.
Pak satpam tampak mengerut dahi mengingat-ingat. "Siapa yang ingin kamu temui?"
Gadis itu langsung tersadar. "Afsheena pak!" ia bahkan lupa untuk menyebutkan nama sahabatnya. "Afsheena daisy. Katanya ini rumah atasannya."
Pak satpam terperanga sekejap. "Ah, nona Sheena!" mulutnya membulat, terkejut.
Gadis itu mengangguk cepat. "Iya,iya Sheena pak!" pekiknya semangat.
"Apa saya sudah di ijinkan masuk pak?" tanya gadis itu membetulkan tas ranselnya.
Rasti sampai rela menutup tokoh rotinya dan jauh-jauh datang kesini untuk menemui sahabatnya, Rasti sangat merindukan Sheena, gadis itu sempat kecewa karena Sheena tidak memberitahukan kepulangannya beberapa hari lalu, jika bukan karena ibu Nafisah yang cerita ia tak mungkin tahu, Ck! Rasti sangat ingin memarahi sahabatnya itu.
Dan satu lagi, ada berita yang ingin Rasti sampaikan terkait tentang kematian Andre dan Raina yang mengenaskan, Rasti yakin Sheena belum mengetahui itu. Rasti tak sabar ingin bercerita banyak bersama Sheena, ia sangat merindukan sahabatnya itu.
"Sayangnya tidak boleh!"
"Apa?!" demi mendengar kata penolakan pak satpam itu Rasti terbelalak sempurna.
"Kenapa pak?" gadis itu memasang wajah memelas lagi, apa ia harus pulang dengan tangan kosong? sia-sia dong perjalanannya hingga kesini.
"Tempat ini memiliki penjagaan yang ketat, walaupun kamu mengaku sebagai sahabat nona muda, belum tentu itu benar, bisa saja itu hanya alibi mu, sebenarnya kamu adalah penyusup yang sedang menyamar kan?" tingkat profesional dan kewaspadaan pak satpam meningkat. Sebagai orang yang di percayai Jayden untuk menjaga gerbang kokoh ini, ia harus sangat berhati-hati, ia tahu tuannya memiliki banyak musuh, hingga ia harus benar-benar extra waspada.
"Pak jangan gitu loh, kalo gitu bapak nuduh tanpa bukti namanya, gak liat muka saya yang imut-imut ini, mana mungkin saya penyusup?" ujar Rasti dengan memasang puppy eyes nya.
Lagian Sheena kerja apa sih di sini, hingga di panggil nona muda oleh pak satpam ini? Rasti harus bertanya nanti padanya.
"Maaf tapi sekali lagi saya tekankan anda tidak boleh masuk, lagian nona muda juga sedang tidak berada di mansion, anda bisa datang lain kali dengan bukti-bukti yang anda miliki!"
__ADS_1
Rasti mencebik kesal, ia memberengut dengan bersidekap dada, sejurus kemudian muncul ide berlian di otaknya.
"Pak lihat deh ada apa di sana?"
"Apa? kamu ingin menipu saya?"
"Gak pak lihat deh, ada hujan uang di depan!"
"Apa? dimana?" perhatian pak satpam berhasil di alihkan tak menyia-nyiakan kesempatan dengan gesit Rasti nekat memanjat tembok gerbang besar itu, namun tak beberapa lama pak satpam berbadan besar itu langsung sadar dan mencegat nya.
"Hei, mau apa kamu turun?" pak satpam menarik-narik tas ransel Rasti agar gadis itu turun.
"Pak tolong pak biarkan saya menemui teman saya, ini urgent serius!"
Alhasil terjadilah kejadian tarik menarik di antara keduanya.
"Gak, gak boleh! turun atau saya panggilkan polisi?!"
Kericuhan yang semakin menjadi-jadi itu berhasil membuat Kevin yang kebetulan baru saja tiba di depan gerbang mansion Jayden turun dari mobilnya.
"Ada apa ini?" Kevin mendekat, ia di tugaskan Jayden untuk menjaga mansion selama tuannya tidak ada dan mengecek beberapa berkas untuk meeting besar mereka besok.
"Tuan, gadis ini memaksa sekali ingin masuk ke dalam mansion, dia juga berpura-pura sebagai kenalan nona muda, Membuat saya kewalahan di buatnya." lapor pak satpam.
Kevin menatap gadis yang bahkan belum beranjak dari atas tembok gerbang, sambil berkacak pinggang ia mendekati Rasti.
"Oi, gadis liar, siapa kau sebenarnya? berani sekali kau masuk ke wilayah ini?"
"Siapa yang kau panggil gadis liar?" dengan sigap Rasti turun, tak terima dengan anggapan Kevin padanya.
"Tentu saja dirimu," kata Kevin dengan membusungkan dada, berniat menakuti gadis itu dengan tampang seramnya.
Namun bukan Rasti namanya jika memiliki rasa takut, gadis itu malah lebih menantang. "Apa? kenapa kau menatap ku seperti itu hah?" ia meningggikan tubuhnya tinggi-tinggi, menantang Kevin dengan matanya.
Lelaki itu malah tertawa, Membuat Rasti memicingkan matanya.
"Kau tidak tahu siapa aku ya?!" Kevin malah lebih mendekatkan wajahnya ke arah Rasti, gadis yang unik, pikirnya. Karena baru kali ini ada wanita yang menatap dirinya seperti Rasti menatapnya.
__ADS_1
"Maaf ya tuan, saya tidak ada urusan dengan anda, saya kesini karena ingin bertemu dengan Sheena, sahabat saya, yang katanya bekerja di sini!"
"Nona Sheena sedang tidak ada, apa kau tidak mengerti dengan yang pak satpam katakan."
Rasti mengerjap-ngerjap merasa malu sendiri, gadis itu terdiam.
"Lagian siapa kau, gadis payah yang berani kesini? tidak kah kau tahu wilayah ini terlarang."
"Apa? siapa yang kau sebut payah hah?!" Rasti nyolot sendiri, sejak awal feeling-nya memang tidak enak dengan orang-orang yang ada di sini, kenapa pula temannya bisa terjebak di tempat ini.
Kevin menyeringai. " tentu saja dirimu, tupai kecil!"
Duagh! Kevin terhuyung ke belakang seketika setelah kepala Rasti dengan dengan sengaja ia benturkan ke wajah pria itu.
"Dasar pria sombong, rasakan itu!"
Kevin meringis, bisa ia rasakan ujung hidung nya yang berdenyut.
"Kau!" Kevin seketika geram, Oh my, ini gawat untuk Rasti!
Dengan secepat kilat ia mengayunkan kakinya hendak kabur namun tangan kekar pria itu dengan cepat menarik tas ransel nya.
"Lepaskan aku! lepaskan!" Rasti berteriak ketakutan, harusnya ia langsung kabur saja, bukannya sok-sokan menantang Pria itu.
"Setelah membuat ku cidera, kau ingin kabur begitu saja?" Kevin mendengkus. "Tidak semudah itu!"
Grep! dengan sekali gerakan Kevin membawa tubuh mungil itu ke atas pundaknya, menggendongnya seperti karung beras.
Rasti berteriak, memukul-mukul punggung pria itu, namun itu tak beeperanguh apa-apa untuk Kevin.
"Lepaskan aku! lepaskan aku breng*sek!"
Menulik kan telinganya, Kevin malah berjalan santai masuk ke dalam.
"Buka gerbangnya pak!" titahnya pada pak satpam.
Lelaki paruh baya itu mengangguk membuka gerbang untuk asisten tuannya itu, Kevin lalu masuk bersama tubuh Rasti di pundaknya, lalu gerbang kembali tertutup.
__ADS_1
Pak satpam yang melihat itu geleng-geleng kepala. "Bisa habis ini!"